“Hai!” Dia tersenyum manis sekali. Dua mata beningnya yang pernah kukagumi bersinar senang. “Aryo, kan?”
Aku mengangguk ragu. Membalas sapaannya dengan seulas senyum kikuk.
“Masih inget aku nggak? Kok malah bengong aja?”
Bukan aku tak ingat lagi pada wajah manis itu. Tapi aku sedang berusaha menenangkan hatiku yang masih sangat terkejut.
“Gue Rea!” Dia nyaris berteriak. Masih dengan mata yang bersinar. “Rea! Inget, kan?” dia mengulang.
Aku mengangguk cepat. Aku belum mampu berkata-kata.
“Apa kabar, Yo?” ia mengulurkan tangannya.
“Baik,” cuma satu gumaman itu yang bisa keluar dari mulutku. Padahal ada banyak kalimat yang ingin menyembur keluar beserta seribu rasa senang. Kusambut uluran tangannya dengan sedikit gemetar. Kulihat tatapan matanya. Ia menunggu kalimat berikut dariku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
“Ngng...,” ia jadi kelihatan serba salah, “Kamu lagi ngapain di sini?”
“Jalan-jalan aja.”
“Sendirian?”
“He-eh.”
“Ada yang dicari?”
Aku menggeleng.
“Kalo aku lagi nyari kado buat adikku. Tapi udah dapet sih.” Dia kemudian terdiam. Seperti mencari-cari bahan obrolan. Tapi sampai sepuluh detik kami saling berdiaman akhirnya ia pamit. “Senang ketemu kamu lagi. Ngng..., mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi nanti.”
Lagi-lagi aku cuma mengangguk.
“Oke, Bye!” ia berlalu setelah menatapku sebentar. Setelah ia menghilang kukutuk diriku habis-habisan.
Guoblookkk!
*
“Payah, luh!”
Tuh, kan! Nyesel aku cerita tentang pertemuanku dengan Rea. Akhirnya aku cuma dapat ejekan dari si kutu loncat Mufid!
“Itu keajaiban, tau! Setelah lima tahun, setelah lulus dari es-em-pe, tanpa diduga lu bisa ketemu bidadari pujaan hati. Malah dia duluan yang mengenalimu bahkan histeris. Lalu Tuhan ngasih lu kesempatan buat ngobrol-ngobrol. Kenapa lu sia-siain?” Mufid masih saja geregetan.
“Gue juga nyesel!” cetusku keki. “Gue grogi. Gue gugup. Gue salting!”
“Sampe nggak kepikiran nanya nomor teleponnya atau alamat rumahnya?”
Aku cuma mendengus.
“Okelah, lu boleh lupa nanya nomor teleponnya atau alamat rumahnya. Tapi sikap grogi lu yang keterlaluan itu, pasti dianggapnya sebagai kesombongan atau kecuekan lu. Bayangin aja, masa ketemu temen lama, lu cuma manggut-manggut. Nggak rame, nggak hangat, nggak antutias...... Dia pasti jadi males ketemu lu lagi.”
Iya. Aku akui aku memang goblok. Padahal pertemuan kemarin itu adalah sebuah keajaiban. Rea adalah cewek yang aku taksir sejak kelas dua SMP. Tapi aku tidak pernah punya keberanian mendekati dia apalagi menyatakan cinta. Aku cowok kuper yang amat pemalu. Aku nggak punya banyak teman. Nggak percaya diri. Aku cuma berteman dengan buku-buku sampai kaca mataku setebal pantat botol! Semua perasaan itu kusimpan dalam-dalam. Sampai kami lulus SMP. Kemudian aku dan Rea beda SMU. Tapi tetap saja aku nggak punya keberanian untuk main ke rumahnya atau mampir ke sekolahnya. Apa kata dia nanti? Lalu berita yang kudengar Rea pindah rumah. Masih di dalam kota, tapi aku nggak tahu alamat barunya. Lalu semua berlalu begitu saja. Sampai kemudian Tuhan mempertemukan kami lagi.
“Makin cantik ga?” Mufid membuyarkan lamunanku.
“Makin...” aku menggumam lesu.
“Makin keren?”
“Makin...”
“Makin montok?”
“Makin...”
“Sayang, ya..., elu tolol!”
“Fiiid!” aku melotot. “Gue emang tolol. Coba kalo elu jadi gue!”
“Gue nggak mau jadi elu! Karena gue nggak tolol!”
Mufid kabur begitu guling kulempar ke arahnya. Siapa juga yang mau jadi cowok pemalu dan nggak percaya diri kayak aku? Aku sendiri sebetulnya nggak mau. Dari dulu aku bingung bagaimana caranya menghilangkan sifat pemalu dan rasa nggak percaya diri ini. Bikin aku nggak punya banyak teman. Sahabat karibku cuma satu-satunya, si kutu loncat Mufid itu!
*
Dua bulan kemudian...
Mufid tergesa-gesa mendekatiku dengan sesuatu di tangannya.
“Reuni, Yo!” ujarnya terengah, menunjukkan selebaran pengumuman. “Reuni SMP angkatan kita, minggu depan!”
Aku membaca pengumuman itu sekilas. “Terus?”
“Asik, kan? Gue kangen banget sama temen-temen kita. Kayak apa mereka sekarang, ya?”
Aku diam tak menanggapi.
“Heh, lu ikut kan?” ujar Mufid tiba-tiba.
“Liat nanti aja.”
“Liat nanti? Lu nggak semangat untuk ketemu Rea lagi?”
Aku bagai diingatkan. Yap, ikut reuni berarti kesempatan untuk bisa ketemu Rea lagi. Tapi..., buat apa?
“Kalo memang ada kesempatan ketemu dia lagi, jangan lu sia-siain, Yo!”
“Memangnya aku harus gimana?” ujarku lugu.
“Hah, payah luh!” Mufid berlalu dengan kesal.
*
Akhirnya aku datang ke tempat ini. Ke pesta reuni yang bagiku kelihatan hingar dan membuatku makin tersisih. Lihat teman-teman satu angkatanku, mereka kelihatan tambah dewasa dan berisi. Kelihatan sekali mereka adalah orang-orang pintar dan gaul. Meski beberapa di antaranya tidak cantik atau ganteng, tetapi mereka amat percaya diri. Keren! Sebenernya aku juga pintar. Saat SMP dulu, mereka tahu Aryo si juara umum. Sampai sekarang kuliah IPK ku selalu memuaskan. Tapi aku tetap cowok pemalu yang nggak gaul, nggak pede! Bagaimana bisa aku berada di tengah-tengah pesta ini kalau bukan karena desakan sahabatku, si kutu loncat itu!
“Hei? Aryo, ya? Apa kabar?”
Beberapa teman menyapaku. Aku tak terlalu mengenalnya. Mungkin karena pangling. Dan bukan sifatku untuk berbasa-basi, aku cuma tersenyum tipis membalas sapaan mereka. Mufid yang antutias menghampiri mereka.
“Yo? Hei, kok elu nggak berubah, gini-gini aja?”
Nah, yang ini aku masih mengenalnya. Agus. Aku cukup dekat dengannya waktu di kelas tiga.
“Kabar lu gimana? Sukses?”
“Alhamdulillah....,” gumamku.
“Mana pacar lu? Nggak lu bawa?”
Tiba-tiba Mufid ngakak. Dia sudah ada di belakangku dan menyela, “Pacar? Hujan berkelir kalo dia udah punya pacar sekarang, Gus!”
“Lho?” Agus kelihatan bingung. “Masih jomblo aja? Yang bener?”
Aku tak menanggapi. Pura-pura sibuk memperhatikan seisi ruang.
“Gue denger lu udah punya gandengan. Malah bentar lagi mau merit!”
Mufid tambah ngakak mendengar kata-kata Agus. “Gosip apa tuh? Siapa yang sebar gosip nggak mutu gitu? Wong Aryo lebih demen pacaran sama kucing peliharaannya. Aryo cuma berani ngelus-ngelus kucing!”
“Jadi masih kayak dulu?” Agus masih belum yakin.
“Iyalah!” tandas Mufid.
Biar saja mereka berdua yang ributin statusku. Aku nggak peduli. Aku menikmati hidangan kecil di meja di sisiku.
“Jadi Rea cuma nebak-nebak aja dong!”
Mendengar nama itu disebutkan aku dan Mufid sama-sama memandang Agus.
“Rea? Apa urusannya?” tanya Mufid.
“Aku sama Rea kan sering kontak-kontakan gitu deh. Beberapa minggu lalu dia ngeluh ke aku kalo Aryo itu makin sombong aja, mentang-mentang mau merit!”
“Hah?” aku dan Mufid sama-sama ternganga.
“Kok Rea bisa ngomong begitu?” ujarku heran.
“Tauk! Mending lu tanya aja sama orangnya. Tuh, Rea di sana!”
Aku melirik ke arah yang ditunjuk Agus. Pada saat yang sama Rea sedang melihat ke arahku lalu melengos.
“Tuh, gue bilang juga apa!” cetus Mufid. “Sikap lu yang terlalu grogi malah dianggap sombong sama dia. Parahnya lagi lu sombong dikira mentang-mentang mau merit, huahaha!”
Huh, puas banget si kutu loncat itu ngeledekin aku.
“Emangnya lu nggak pernah tahu?” tiba-tiba Agus berbisik, “Waktu es-em-pe dulu Rea suka ama lu, Yo!”
Aku dan Mufid lagi-lagi ternganga.
“Lu tahu kan, dulu gue pacaran sama Eci, sahabatnya Rea. Eci sering cerita ke gue kalo Rea selalu aja ngomongin elu. Muji-muji elu. Sayangnya elu terlalu diem dan ngumpet terus.”
“Gus, kita kan temenan waktu kelas tiga. Kita deket banget. Kenapa lu nggak cerita waktu itu?” keluhku.
“Eci minta gue janji jangan ngomong ke siapa-siapa. Itu sebetulnya Rahasia Rea yang cuma diceritain ke Eci!”
Aku dan Mufid saling bertatapan. Dadaku bergolak, terkejut tetapi senang.
“Sekarang dia masih punya perasaan itu nggak, ya?” gumamku tiba-tiba di luar sadar.
“Nah, sekarang kesempatannya, Yo!” seru Mufid sambil menarik tanganku, “Cepat deketin Rea. Ajak dia ngobrol-ngobrol. Jangan grogi! Lalu minta nomor teleponnya.”
Sebelum aku sempat berpikir Mufid sudah menarikku ke arah dimana Rea berada. Mufid pura-pura menujukkan sesuatu padaku di meja dekat tempat Rea berdiri lalu meninggalkanku begitu saja. Sompret bener! Aku gelagapan. Tapi Rea sudah melihatku, dia mengulas senyum tipis.
“Hai!” aku -mau tak mau- menyapanya. Lalu pura-pura mencicipi minuman di meja. Sedetik, dua detik..., aku masih bingung. Di detik kesepuluh aku sudah akan bergerak meninggalkan tempat itu, waktu tiba-tiba Agus menyeruak ke dekatku dan menyapa Rea.
“Hei, Rea! Udah ketemu Aryo?” Agus mendorong pinggangku. “Tahu nggak, dia masih aja sekutu buku dulu! Makin tebal kan kacamatanya?”
Aku meringis. Pinter juga aktingnya!
“Sudah,” ujar Rea kalem. “Beberapa bulan lalu kami juga pernah ketemu. Iya kan Yo?”
“Oya? Dimana?” seru Agus.
“Di Mall. Gue lagi cari kado buat adik gue....”
“Eh, sori gue tinggal, temenku manggil tuh!” Agus beringsut meninggalkan kami berdua. Bener-bener licin otaknya!
“Datang sama siapa Yo?” tanya Rea kemudian.
“Bareng Mufid.”
“Cuma berdua sama Mufid?”
“Iya. Kenapa?”
“Ngng.., nggak kok!”
Sepi. Keringat dinginku mulai keluar. Tapi aku bertekat nggak akan gentar. Paling tidak aku bisa pedekate, ngobrol-ngobrol sebentar. Soal nomor telepon bisa kutanya Agus nanti.
“Sori ya, waktu itu....” aku kebingungan mencari bahan obrolan.
“Gue ngerti kok, Yo!” potong Rea tiba-tiba.
Ngerti? Aku terlongong dalam hati. Emangnya Rea tahu aku mau ngomongin apa?
“Mungkin elu takut dilihat cewek lu, jadi sikap lu waktu itu kaku dan nggak tahu mesti gimana waktu ketemu gue. Nggak pa-pa, kok. Emang sih, mulanya gue miris dan berpikir kok elu dingin banget, nggak surprise ketemu gue. Gue sedih. Padahal gue udah histeris dan seneng waktu ketemu lu di mall itu.”
“Re, gue...”
“Mungkin kedengerannya lucu. Gue seneng banget ketemu lu,... andai lu belum punya cewek... Tapi udahlah! Gue sekarang nyusul lu, punya pacar. Baru tiga minggu ini...”
“Tapi Re, gue belum...”
“Kenalin Yo, ini Andre!” Rea menarik tangan seseorang yang kebetulan melintas di dekatnya. “Gue emang sengaja ngajak dia kesini.”
Aku menerima uluran tangan cowok itu. Lebih ganteng dari aku, memang. Tapi aku yakin dia nggak lebih pintar dari aku. Tapi percuma lebih pintar aku, karena dia yang lebih beruntung dapetin Rea. Aku memang tolol! Inilah nasib si cowok pemalu yang nggak percaya diri! ***
Dimuat di majalah G2, 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar