Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

Duka Dinda

“Katanya lo cinta mati sama Joel?”

Dina mengangguk pelan.

“Jadi...?”

“Gue sayang sama Joel. Tapi gue harus ngelupain dia!”

“Cuma gara-gara Joel sering telat dateng malem mingguan?”

Dina diam.

“Lo nggak tanya kenapa dia sering telat? Kali aja dia punya kesibukan lain sebelum dateng ngapelin lo. Jadi kenek angkot, kali!”

“Ratiiih!” Dina mencubit lengan sahabatnya itu. Matanya mulai berair. Dia sedang tidak mau bercanda. Hatinya luka.

Joel sudah berubah. Tidak lagi semanis dulu. Tak lagi penuh perhatian seperti saat pertama mereka pacaran. Bukan hanya karena Joel sering telat mengapelinya malam minggu yang membuatnya memilih melepas Joel. Tidak sesederhana itu.

“Pikirin lagi, Din! Jangan terburu-buru. Inget, saat dulu lo berusaha ngedapatin Joel dari antrian panjang cewek-cewek kecentilan itu! Gue balik dulu. Ntar malem lo telepon gue, ya?”

Ratih meninggalkannya sendirian di kamar. Membuat Dina kembali termangu. Terbayang wajah Joel. Joel memang ganteng. Lebih dari itu dia menyempurnakan kelebihan fisiknya dengan kecemerlangan otaknya. Membuat teman-teman Dina iri. Membuat api cemburu tersulut karena merasa kalah persaingan. Menciptakan ragam desas-desus untuk menghancurkan hubungan mereka. Dina tak peduli. Selagi di depan matanya adalah Joel yang setia...

“Joel mau sama Dina, karena nyokapnya Dina Pencari Bakat. Mo numpang ngetop, gitu.”

“Bukan cuma itu, sih. Katanya karena Dina orang kaya.”

“Joel kan anak orang kaya juga?”

“Tapi nggak sekaya orang tua Dina. Joel mana mau sama Dina kalo Dina bukan anak orang kaya?”

“Iya. Emang Dina punya kelebihan apa? Muka, biasa aja. Di sekolah ini banyak yang jauh lebih cantik dari Dina. Otak? Juga biasa aja. Nggak bisa basket, voli, apalagi renang, haha..,” kata-kata itu diucapkan dengan nada mengejek. “Nyanyi? Dina nggak pernah ikut paduan suara sekolah.”

“Heeei. Dina kan pake susuk!”

“Hahaha...”

Suara-suara itu, cemohan-cemohan itu, satu dua kali cuma sekedar lewat di telinganya. Dina tak mau ambil pusing. Dunia ini tidak melulu orang baik-baik. Lebih banyak orang yang sirik dan jahat. Biar saja. Tapi satu dua kali bisa terlewat, saat yang kesembilan dan sepuluh kali, Dina mulai meringis kesakitan. Pedih. Kekebalan hatinya tersayat juga.

Pada Ratih ia ungkapkan semua. Biasanya sahabat baiknya yang cantik, periang dan kadang konyol itu, tahu apa yang dirasakannya dan bersedia berlama-lama mendengar keluhannya. Tapi tentang keluhannya kali ini, keluhannya tentang Joel, Dina merasakan Ratih menanggapinya sambil lalu.

Dina menarik napas dalam-dalam. Tentu saja Ratih bersikap begitu!

Ia menarik guling dan memeluknya. Sebaris luka bermain lagi di hatinya.

*

“Lo pulang sendirian nggak pa-pa, kan?”

Dina berusaha menenangkan hatinya. Mengulas senyum tipis yang sungguh-sungguh dipaksakan!

“Gue ada urusan lain. Perlu gue panggil Joel buat nganter lo pulang?”

Dina menggeleng. Sudah hampir sebulan ini Joel tidak lagi menemaninya pulang, belakangan Ratih yang setia menemaninya. Tapi belakangan Ratih pun mulai punya banyak alasan.

“Ati-ati, Din. Nanti gue telepon, ya?”

Dina mengikuti langkah Ratih dengan mata kecewanya. Bukan. Bukan sekedar Ratih tidak menemaninya pulang dan ia harus pulang sendirian. Tidak sesederhana itu!

“Pulang sendirian, nih?”

Dina tahu suara siapa dari arah sisi jalan itu. Dia tidak menoleh. Sebentar lagi akan terdengar nada ‘merdu’ dari kumpulan ‘ibu-ibu arisan’ itu!

“Kok nggak dianter Joel, Din?”

Dina cuma memberi ulasan tipis di ujung bibirnya. Tanpa menoleh.

“Joelnya sibuk ya, Din? Apa jangan-jangan..., yaa.. maklum sih, lama-lama kan Joel ngerasa pegel juga!”

Lalu ada cekikikan, pelan tapi sengaja diperdengarkan. Dina tak menanggapi. Dia melangkah tertatih. Sayangnya ia tak pernah bisa berjalan cepat-cepat! Sudut matanya mulai berair. Bukan, bukan cuma ejekan itu yang membuatnya ingin menangis. Tidak sesederhana itu!

*

Bulu-bulu halus itu dimainkannya. Diacak dan dielusnya. Pussi, kucing kecil kesayangannya, menggeliat senang bermanja-manja dipelukkannya. Dulu, Joel yang menghadiahkan hewan itu di hari ulang tahunnya. Dina kangen Joel. Hampir satu tahun bersama membuat rasa cintanya telah mengakar. Apalagi cuma Joel yang selama ini betul-betul paham kondisi dirinya. Tapi sekarang Joel berubah. Joel meninggalkannya. Ia pun tahu betul bersama siapa Joel saat ini! Ia pun tahu betul apa yang sebenarnya tengah terjadi. Perih di hatinya telah dirasakan lama, hingga minggu lalu ia harus mengambil keputusan melupakan Joel. Joel, Dina kangen Joel!

Telepon berdering. Setengah kaget membuat Dina tergesa bangkit tak menyadari posisi berdirinya belum tegak saat tiba-tiba kruknya oleng dan ia terjatuh. Kakinya membentur kaki meja. Pussi melompat dari pelukkannya, berlari ke dapur. Dina mengerang kesakitan. Mungkin Bi Inah sedang sibuk di halaman belakang, tidak mendengar, sementara telepon terus berdering. Susah payah Dina merangkak. Kakinya ngilu.

“Ya, halo?” Dina menahan sakit kakinya.

“Hai? Dina? Kamu pasti lagi kesepian!” Suara diseberang sangat Dina hapal. Suara-suara yang selalu mengejeknya.

“Ada apa?” Dina malas-malasan menanggapi.

“Ada kabar. nih. Baru aja kita-kita ngeliat, Joel boncengan sama Ratih. Masa lo belom tau, kalo sebulan ini Joel ama Ratih lengkeeet banget. Ato lo udah tau, cuma pura-pura nggak tau? Mereka mesra, lho! Kemarenan mereka malah keliatan jalan, gandengan!”

Kata-kata terakhir itu ditekan dengan nada aneh. Nada yang menyakitkan di kuping dan hati Dina.

“Yah, Joel mungkin sadar. Gimana mau gandengan sama elo!”

Dina menutup teleponnya. Cemohan-cemohan itu membuat dadanya sesak. Ia memang gadis cacat! Jangankan bisa bergandengan mesra, membawa langkahnya sendiri pun seringkali harus dibantu. Setelah sekian lama bersama, Joel akhirnya sadar bahwa ia bukan gadis yang tepat, lalu berpaling!

Keputusan yang diambilnya minggu lalu itu sudah bulat memang. Bukan sekedar Joel terlambat mengapelinya atau ejekan-ejekan semua itu. Tidak sesederhana itu. Ia harus paham dan sadar diri. Kalau memang Joel harus meninggalkannya ia harus berbesar hati, dan kalau Ratih menghianatinya ia pun harus tegar!

“Non Dina?” Bi Inah mendekatinya cemas. Mengangsurkan kruk ke arahnya. “Non Dina, nggak apa-apa?”

Dina mengangguk perih. Meraih kruknya dan berjalan tertatih ke kamarnya.**

Tidak ada komentar: