“Namanya Risma,” kata Edo. Untuk yang kesekian kalinya dia memergokiku mencuri pandang ke arah taman.
“Kenal?”
“Dikit.”
“Dikit? Pernah pacaran, ya?” ledekku.
“Sekedar ngobrol-ngobrol.”
Ya. Wajah tirus itu menarik perhatianku waktu aku lari pagi. Rimbunan pohon di sisi jalan melindungi wajah tirusnya dari sengat matahari pagi. Aku melihat ada sisi menarik dalam dirinya. Cara dia duduk. Kedua kakinya terlipat dan tersembunyi di balik gaunnya. Dia begitu asik membaca.
*
Sekali, dua kali hingga berkali-kali melihatnya di sana, bikin aku penasaran juga. Kebetulan saat ini aku tidak sedang bersama Edo. Aku memberanikan diri mendekatinya. “Nggak ada yang jual minuman di sini, ya?”
Dia mendongak dari buku yang dibacanya. Tapi kemudian dia menunduk, meneruskan lagi bacaannya.
“Boleh ikut duduk di sini?” Baru saja selesai kalimatku, tiba-tiba seorang Ibu menghampiri dengan mendorong sebuah kursi roda. Mendekati si gadis tanpa menghiraukanku.
“Ayo, kita pulang!” ujar Ibu itu sambil menyematkan jaket ke pundak si gadis dan memapahnya. Memindahkan si gadis ke kursi roda. Aku tercengang.
*
Aku mendekati Edo yang sibuk mencuci motor bututnya. Melihatku datang dengan muka serius, dia terkekeh tapi tidak bertanya apa-apa.
“Dia nggak bisa jalan, Do?”
“He-eh. Kenapa? Nggak jadi naksir?”
Aku tidak menjawab.
“Udah kenalannya? Kapan?” tanya Edo.
Aku menggeleng. “Belum. Dia memang lahir seperti itu? Atau kecelakaan?
Edo menghentikan kesibukannya. “Dua tahun lalu dia kecelakaan.”
“Oya?”
“Aku pernah ngobrol-ngobrol dikit. Waktu itu dia kayak yang mencoba untuk curhat. Tapi di minggu berikutnya dia minta supaya aku nggak lagi menemuinya. Keluarganya melarang keras ia dekat dengan siapapun. Aku nurut aja, demi kebaikannya,” papar Edo.
*
Gadis itu ragu-ragu mengembangkan senyumnya, membalas senyumku waktu aku melangkah ke arahnya.
“Hai!” sapaku ragu-ragu.
Dia cuma tersenyum. Menunduk. Meneruskan bacaannya.
“Boleh nggak, duduk di sini?”
Dia mengangguk ragu-ragu.
“Rumahmu dekat dari sini? Boleh kenalan?”
Dia tiba-tiba menjadi gelisah. Melempar pandangnya ke satu arah dengan bola mata yang mencari-cari.
“Apa aku mengganggu?” aku mencoba tahu diri.
Seorang Ibu – orang yang sama yang kulihat minggu pagi lalu- muncul tiba-tiba. Mendekati gadis itu dan menatap penuh selidik ke arahku yang ragu-ragu mengulas senyum ramah padanya. Tanpa membalas senyumku ibu itu memapah gadis itu ke kursi roda lalu membawanya pergi.
Aku tercenung. Kenapa mereka begitu apatis? Apa wajahku ini mencurigakan?
*
Sulit menjelaskan apa yang kurasa saat kubayangkan lagi sosok cantik itu. Ya, sayang sekali, gadis cantik itu dalam usianya yang muda, harus menghabiskan waktunya dengan bertumpu pada sebuah kursi roda. Apa yang bisa ia lakukan? Menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku di bangku taman? Aku membayangkan kalau ia berada di rumah. Mungkin cuma menonton tivi? Mendengarkan radio? Bermain dengan boneka kesayangannya di kasurnya yang empuk? Atau paling-paling berkeliling di halaman rumahnya dengan bantuan si ibu? Aku tergidik. Sejak menyadari keadaan gadis itu ingatanku selalu dilempar pada sebuah masa lalu. Tuhan Maha Sempurna. Menciptakan makhluk dengan segala keindahannya. Lalu keindahan itu tiba-tiba dirampas....!
Ya, aku telah merampas keindahan yang telah diberikan Tuhan, hingga mengorbankan masa depan bahkan nyawa seseorang! Ya, kalau saja Airin masih hidup, tentu saat ini hidupnya sama seperti gadis itu, bertumpu di kursi roda! Tak berdaya!
Airin! Gadis kecil itu....! Dadaku terasa sesak tiba-tiba. Aku menarik napas dalam-dalam. Sesungguhnya, melihat gadis itu membuat ingatanku terbang pada masa tujuh tahun lalu. Sepedaku oleng saat aku menghindari laju sebuah mobil. Gadis mungil yang kubonceng dengan sepedaku terjatuh, lalu berguling di aspal berbatu dan tubuhnya terhempas pada batang pohon. Sebagian tulang punggungnya patah. Bukan cuma tidak bisa berdiri. Bahkan menegakkan tubuhnya pun tidak lagi. Beberapa minggu kemudian gadis itu telah tiada. Meninggalkan penyesalan berkepanjangan yang membuat sebagian tubuhku menggigil nyeri tiap mengingatnya. Kini, perasaan itu semakin mengganggu. Menyeretku pada sebuah keinginan. Aku ingin berteman dengan gadis cantik di bangku taman itu. Risma. Bahkan menjadikannya teman terdekatku. Aku ingin bisa membuatnya tertawa, berbinar-binar..., aku ingin menjadi tempatnya berlindung dan berbagi!
Saat memikirkan itu Edo muncul di kamarku.
“Sedikit aja!” pintaku, “Aku mau tahu tentang dia.”
“Rik, kalo kamu jatuh cinta, mendingan kubur perasaan itu.”
“Kok, mikir kayak gitu?”
“Apa lagi namanya kalau ada cowok yang begitu memperhatikan seorang cewek?”
“Dia memang cantik,” akhirnya aku berterus-terang, “tapi ini belum berarti cinta!”
“Jadi berarti apa?”
“Aku cuma mau mengenalnya,” gumamku.
Edo terkekeh.
“Heh, beneran! Jangan ngeledek!”
“Rik, keluarganya nggak bakal mengijinkan siapapun mendekati gadis itu. Mereka takut kalau seseorang yang mendekati gadis itu cuma bermaksud mempermainkanya. Apapun alasan kamu mendekatinya, bagi mereka sama saja. Gadis itu nggak boleh punya teman, tau?”
*
“Hai!”
Minggu pagi itu aku sengaja mendekatinya dan menyapa. Gadis itu menatapiku ragu-ragu.
“Aku Erik. Kamu Risma?” ujarku tanpa basa-basi lagi.
Gadis itu mengangguk ragu.
“Aku tahu namamu dari temanku, Edo. Masih ingat dia? Dia juga temanku. Tempat tinggalnya bersebelahan dengan kos-kosanku. Aku memang baru di kota ini.”
“Edo..?” Gadis itu termangu sesaat.
“Sebetulnya dia masih mau berteman denganmu. Tapi.., apa benar kamu nggak boleh berteman dengan siapapun?”
Dia tiba-tiba menjadi gelisah. Melempar pandangnya ke satu arah dengan bola mata yang mencari-cari.
“Kenapa? Apa kamu harus punya ketakutan sebesar itu pada semua orang?”
Gadis itu terbelalak. “Apa kamu percaya bahwa masih ada orang yang benar-benar tulus memperhatikan orang macam aku?” cetusnya tiba-tiba diluar dugaanku. “Atau kamu nggak bisa membedakan arti kata tulus dengan kasihan?”
Aku mencoba tersenyum, menenangkannya. “Kamu nggak pernah tahu ya, bahwa rasa iba bisa melahirkan rasa tulus yang sesungguhnya?”
“Rasa kasihan membuat seseorang semakin tidak berarti!” suaranya terdengar dingin.
“Rasa kasihan membangkitkan semangat seseorang untuk lebih mencintai...,” timpalku tak mau kalah.
“Kalau ada orang yang kasihan sama aku lalu bisa mencintai aku...”
Tiba-tiba si Ibu muncul. Suara langkahnya membuatku bungkam. Ia menatapiku agak lama. Raut wajah dan bahasa tubuhnya penuh waspada.
“Pagi, Bu!” sapaku ramah. Aku sudah bertekad ingin menunjukkan itikad baikku.
Si Ibu tidak menjawab. Ia memapah Risma ke kursi roda. Aku segera sigap, sebelum si Ibu membawa pergi Risma aku mencoba menahan langkahnya.
“Bu, saya Erik. Saya penduduk baru di sini. Saya tidak punya maksud lain kecuali ingin berteman dengan Risma...”
Si ibu menatapiku curiga. “Tahu dari mana namanya? Kalian sudah saling kenal?”
“Siapa yang tidak kenal gadis sebaik Risma, Bu?”
Dahi si Ibu mengkerut. “Tahu apa kamu soal Risma? Maaf, tapi kami harus segera pulang.”
“Tapi, Bu....?”
“Anak muda, tolong, jangan cari perkara! Lebih baik urus saja dirimu sendiri!”
“Bu..!!”
“Kami juga punya urusan sendiri!”
“Bu, saya..., saya juga punya teman yang sama seperti Risma.”
“Lalu?”
“Itu sebabnya saya ingin menjadi teman Risma..”
“Memangnya ke mana temanmu yang sama seperti Risma itu, heh?”
Aku terpaku. Mendapati sorot mata si Ibu yang tak bersahabat. Aku kehilangan kata-kata. Sempat kulihat wajah Risma yang menegang. Lewat matanya ia mengisyaratkan agar aku segera pergi.
“Ke mana dia? Sudah kau sakiti, heh? Sudah puas kau hancurkan hingga tak ada lagi yang bersisa dari hidupnya yang sudah cacat itu? Orang-orang macam kalian hanya memanfaatkan kelemahan Risma. Kalian bangkitkan semangatnya, kalian jejali dengan bualan, lalu dengan begitu kalian mudah merampas masa depannya dan kalian rengut habis-habisan!” si Ibu masih memelototiku. “Urus saja dirimu sendiri. Sebelum ajal menjemputmu semoga kau sadar bahwa hidupmu tidak lebih sempurna daripada gadis-gadis seperti Risma...”
Aku tergugu.
*
Hari berikutnya tak lagi kujumpai wajah tirus namun cantik itu. Bangku taman itu selalu kosong. Aku kehilangan.
“Nggak semua orang bisa menerima maksud baik orang lain, Rik!” ujar Edo pagi itu. Semalaman aku ceritakan semua yang ada di hatiku, juga tentang masa lalu yang hingga kini mengganggu ketenanganku. Kini Edo mengerti alasanku kenapa aku ingin menjadi orang terdekat buat Risma.
“Hal-hal mengerikan telah membawa seseorang pada kungkungan trauma, mendadak membuatnya menjadi figur yang penuh curiga, hingga tak percaya pada siapa atau apapun.”
“Kalau saja mereka mau memberiku kesempatan...”
“Bagi mereka kesempatan adalah omong kosong. Saat ini mereka lebih memilih memasang benteng untuk menjaga diri mereka, ketimbang bertaruh dengan menyediakan kesempatan bagi orang lain! Kamu tau, Rik..., ketakutan mereka saat ini lebih dari sekedar sakit akan musibah yang sudah mereka alami.”
Aku tak bisa menyalahkan. Kalau saja mereka bisa membaca apa yang tertulis di hatiku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar