Prolog
Kalau saja bisa…
Wina menarik napas dalam-dalam. Memberi rongga pada pepat dadanya. Tapi terlalu sesak, hingga rasanya ia tetap sulit bernapas.
Kalau saja bisa…
Ingin sekali ia menghilang dari tempatnya ini. Tiba-tiba berada di kamarnya, membiarkan segala sakit yang ia rasa membeludak keluar lewat derai tangis.
Tapi dia masih di sini, dengan gaun ulang tahunnya di sebuah kafe yang dipilih Kim untuk ulang tahunnya. Susah payah menahan perih dadanya dan berusaha agar tidak menangis.
“Maafkan aku.”
Wina terpaku mendengarnya.
“Tak bermaksud menyakitimu. Aku sudah berusaha agar malam ini kita bisa bersama. Tolong, pahami. Lili sangat membutuhkanku.”
Wina masih terpaku.
“Aku tak punya pilihan lain. Aku harus pergi. Selamat ulang tahun, kutelepon malam nanti.”
Tangan kekar itu membelai rambutnya sebelum mengecup keningnya. Lewat sudut matanya yang mulai basah, Wina melihat sosok itu beranjak meninggalkannya. Saat sosok itu benar-benar menghilang, Wina tergugu.
*
“Menyenangkan juga ya, jalan sama kamu.”
Mata teduh Kim memandangnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang baru ia temukan di sana.
“Dulu kita kan sering jalan sama-sama. Pulang sekolah bareng, pergi les bareng, sampai kumpul-kumpul di warung baksonya Bu Suti. Lupa?”
Kim cuma manggut-manggut.
Tiba-tiba Wina merasakan dadanya berdebar aneh. Apa lagi saat jari-jari Kim merapikan anak rambut yang tejatuh di keningnya. Ia menjadi kikuk tiba-tiba.
“Apa kamu tidak merasakan itu?”
Wina meringis, pura-pura tidak mengerti.
“Masa, sih?” desak Kim, “Mm, waktu es-em-pe dulu kamu suka aku kan?”
Wina gelagapan. Ditatapnya Kim dengan marah.
“Sok tahu!”
Kim malah tersenyum menang. “Aku tahu kok! Kelihatan dari matamu!”
Wina ternganga. Merasakan wajahnya panas. Dikejarnya Kim yang sudah menjauh dan meledeknya.
*
“Dia sombong, ya?”
Wina mengamati sosok tinggi yang punya mata teduh namun dingin itu. Ditambah sepasang alis tebal yang kian menunjukkan keangkuhan.
“Nggak juga!” bela Roy, “Kelihatannya aja begitu,. Tapi kalo kamu sudah kenal dia, kamu pasti berpendapat sebaliknya. Dia asik!”
Wina meragukan ucapan Roy. Cowok gunung yang pendiam yang tidak peduli pada gadis manapun itu, menyenangkan? Tapi sungguh, Wina menyukai tatapan dingin berkesan tak peduli itu. Ada sesuatu yang ia bisa rasakan di situ. Namun dia bukan model cewek yang suka mengejar dan mencari perhatian. Tatapan tak peduli Kim dilihatnya sebagai sebuah isyarat, agar tak berharap dan menjauh. Wina pun memalingkan wajah, mengayunkan langkah dan dekatlah ia pada Roy, sahabat satu geng dengan Kim.
Menjadi pacar Roy malah membuka jalan untuk lebih mengenal Kim. Wina hampir selalu berada di dekat Roy, termasuk saat Roy berkumpul bersama gengnya, dan pastinya selalu ada Kim. Tiap pulang sekolah, pergi les atau sesekali berkumpul di warung bakso Bu Suti. Roy benar, di balik tatapan tak peduli Kim, Kim adalah seorang sahabat yang baik dan menyenangkan.
Sampai lepas masa SMP. Sampai hubungannya dengan Roy terputus karena mereka berbeda SMU. Tapi hubungan persahabatannya dengan Kim malah terus berlanjut. Sebagai sahabat Kim justru sering meneleponnya, berkunjung ke rumahnya dan terkadang mereka keluar untuk jalan-jalan. Benar kata pepatah, Sahabat tak kenal kata putus. Semua berjalan manis. Kadang Kim menghilang tanpa berita dua bahkan empat minggu, lalu tiba-tiba telepon darinya berdering dan dia ada di depan pintu rumahnya lengkap dengan ucapan-ucapan jahilnya. Begitulah Kim.
Sampai kemudian Kim benar-benar menghilang, melanjutkan kuliahnya di seberang. Wina merasa kehilangan. Tapi tak terlalu memikirkan karena saat itu ia sibuk dengan Ardy, pacar barunya.
Sampai bertahun kemudian. Saat segala rasa telah berubah, saat segala kenangan masa kecil berarak terbang terbawa angin, tiba-tiba Kim muncul lagi.
Reaksi pertama saat menerima teleponnya adalah satu kalimat umpatan.
“Kalau memang mau menghilang sekian lama, kenapa mesti tanggung-tanggung? Hari gini baru menghubungi aku!”
Kim cuma tertawa. Tawa yang sungguh berbeda dari Kim kecil dan Kim remaja. Dan Wina baru menyadari betul-betul, bahwa sosok yang kemudian berdiri di pintu rumahnya, tepat di depannya itu, adalah sosok dewasa yang mampu membuatnya terpaku!
Alangkah berbedanya. Sorot mata itu tak sedingin dulu. Tidak juga berkesan tak peduli. Mata teduh yang terlindung oleh sepasang alis tebal menukik itu begitu hangat menatapnya. Dan tawa itu, Wina berani bersumpah, akan ada banyak gadis yang meleleh karenanya!
“Masih mengenaliku?” mata itu berkejap nakal, “Kalau ya, tolong persilakan aku masuk. Kalau tidak, ayo kita pergi jalan-jalan?”
“Kim?”
“Kuberi waktu satu menit!”
Wina masih dalam keterkejutannya. Tak mempercayai penglihatannya. Untuk yang pertama kali setelah sekian lama ditelan bumi, sosok itu tiba-tiba meneleponnya kemarin, dan sekarang, bagai disulap, dia sudah ada di depannya lengkap dengan penampilannya yang berbeda!
“Waktumu habis! Terpaksa kamu kuculik! Ayo, kita jalan-jalan saja!”
Sore itu adalah sore ‘mengejutkan’ bagi Wina. Dari kemunculan Kim yang tiba-tiba, tatapan aneh Kim, gerak jari-jari yang merapikan anak rambutnya, sampai kalimat kurang ajar termanis, ‘waktu es-em-pe dulu, kamu suka aku, kan?’
*
Entah apa yang terjadi.
Berhari-hari kemudian Wina mengulas itu diam-diam. Uraian waktu yang telah mengubah rasa itu menjadi kedekatan yang manis sebagai sahabat. Ia bahkan hampir lupa bahwa ia pernah menyukai Kim. Hari-hari manis masa SMP dan SMU telah menempatkan kondisi mereka bagai sahabat.
Tapi mungkin dia salah. Di hari pertama kemunculan Kim itu, sesuatu tiba-tiba terbersit di sudut hatinya, tak terduga. Sesuatu yang semula dianggapnya sudah tak ada lagi. Sesuatu yang malah mengingatkannya, bahwa dulu, pernah ada rasa.
Wina memandang wajahnya di cermin. Ada bayang Kim di sana. Sekarang dia sungguh-sungguh ingat, warna akan rasa yang pernah ia punya itu. Pernah? Atau masih?
Disaksikan puluhan bintang-bintang di atas sana, semalam Kim menggenggam tangannya hangat.
“Aku tak pernah tahu, kenapa aku datang padamu,” ujar Kim memulai. “Kamu adalah orang yang masuk dalam daftar pertama yang ingin aku temui saat aku menginjak kota ini lagi.”
Mungkin bintang-bintang di atas sana berkelap-kelip meledeknya. Wina merasa dadanya penuh.
“Aku menyesal, pernah mengabaikan matamu!”
Wina merutuk. Mata memang tak bisa berbohong. Ternyata dulu Kim sempat menangkap sinyal itu!
“Kita masih terlalu kecil saat itu, Wina. Aku tahu yang berpendar di matamu saat itu adalah sesuatu yang indah. Tapi aku tak peduli. Baru kusadari aku kehilangan sinar di matamu, saat aku berada jauh darimu.”
“Perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadarinya?” rajuk Wina, “Padahal di sini justru aku sudah melupakannya!”
“Tapi persahabatan kita, sungguh indah ya?”
Wina mengangguk. “Kamu sahabat yang baik!”
Kim menatap Wina. Lewat matanya dia ingin meralat ucapan Wina. Perlahan tangannya terulur. Merengkuh bahu Wina lembut.
“Bagaimana kalau.., sahabat istimewa?” bisiknya setengah meledek. “Sekarang aku sudah di sini dan kita bisa terus bersama-sama.”
Wina tertegun. Bukan oleh ucapan Kim. Tapi oleh gemuruh hatinya yang kian hebat.
*
Entah apa yang terjadi.
Hari manis itu terulang. Tapi nuansanya benar-benar berbeda. Mereka masih berebut omong tak mau kalah. Masih cekikikan mengkritik sesuatu yang aneh yang dilihat mereka. Masih saling meledek, melontarkan umpatan dan makian-makian manis saat bercanda. Tapi nuansanya sungguh amat berbeda.
Entah apa yang terjadi.
Karena nyatanya Wina atau Kim kerap menguraikan kata rindu. Lewat sinar mata mereka, lewat sentuhan… dan bintang-bintang di atas sana menyaksikan.
Suatu kali nuansa itu tergores. Kalau saja saat ini nuansa yang mereka punya masih semurni dulu, pernyataan Kim mungkin bukan sebuah petir di telingan Wina.
“Aku tak bisa, maaf!”
Sore itu entah kenapa Wina mendesak untuk bertemu. Tidak bisa besok atau lusa. Dia benar-benar ingin bertemu Kim saat itu juga.
“Tapi kenapa?” kejar Wina, karena tak biasanya Kim menolak.
“Aku harus bertemu Lili.”
“Siapa?”
Beberapa saat hanya tarikan napas yang terdengar di horn telepon, sebelum Kim berujar dengan cemas.
“Pacarku!”
Kalau saja nuansa itu masih sama seperti saat SMP atau SMU dulu, Wina pasti akan terpekik; “Apa? Pacar? Kamu bisa punya pacar? Huahaha..”
Tapi nuansa itu terlanjur berbeda. Nuansa yang mereka ciptakan sendiri tanpa menyadarinya.
Ada yang tertusuk di hati Wina. Kim juga menyadari, tapi dia tak bisa berbohong, dan untuk hal itu dia mengutuki diri.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka selama ini? Tak pernah terlintas kalau Kim hanya memanfaatkan waktu luangnya! Tapi Wina cukup berbesar hati untuk menghibur dirinya. Menyadari bahwa memang tak pernah ada komitmen di antara mereka. Ah, bukankah cinta hadir apa adanya? Cinta tak perlu komitrmen. Cinta bukan sebuah aturan. Dia hadir untuk membahagiakan dan mendamaikan.
“Lili baru kembali dari study-nya di luar.”
“Oh!” Cuma itu yang keluar dari bibir Wina. Selanjutnya dia memilih menutup teleponnya.
*
Entah apa yang terjadi.
Harusnya dia lupakan nuansa itu. Malah kalau bisa mengembalikannya pada warna semula saat mereka kecil dulu.
Saat Kim muncul dengan mata penuh sesal dan bersalah, Wina malah menyambutnya dengan ketulusan pada senyumnya.
“Aku menyayangimu. Berbeda warnanya dengan saat kita kecil dulu. Sebelum bertemu lagi denganmu, aku sudah punya Lili. Entah aku harus bagaimana. Tapi jangan katakan kalau aku memanfaatkan kesendirianku untuk mendekatimu. Itu salah! Untuk saat ini aku tak bisa meninggalkan Lili, tapi aku juga tak ingin melepaskanmu.”
Tidak nyaman memilih pada kondisi menyulitkan. Wina tak sampai hati men-cap Kim sebagai pengecut. Ia lebih memilih membela Kim dari pada mengasihani dirinya sendiri.
“Aku mengerti!” ujarnya. Detik berikutnya dia terpana oleh ucapannya sendiri.
“Aku tak ingin menyakitimu. Aku sayang kamu!”
Wina memilih untuk terbuai dengan kalimat itu daripada berdebat dengan logika dan akal sehatnya. Cinta memang buta. Dalam kegelapannya dia membiarkan semua mengalir bagai air.
Sampai detik ini. Sampai puluhan minggu berlalu dan ia masih berada pada kondisi yang sama. Menyintai Kim tanpa tahu siapa dirinya bagi Kim. Dia berusaha menghibur dirinya saat mendapati Kim sibuk bersama Lili dan cukup merasa senang saat Kim datang padanya.
*
Suatu kali dalam hidup, kita akan merasa lelah dengan apa yang tengah kita hadapi. Tapi cinta yang Wina punya begitu besar. Saat lelah itu hampir menyentuh batinnya, ia cepat mengusiknya. Tak pernah terpikirkan bahwa segalanya ada batasnya.
“Ini ulang tahunku! Kumohon kita bisa bersama-sama,” pintanya di telepon.
“Kuusahakan!”
Mereka punya tanggal kelahiran yang berdekatan. Hanya saja saat ulang tahun Kim kemarin lalu, Kim memilih bersama Lili. Sisa malamnya baru dihabiskan untuk menelepon Wina. Dan lagi-lagi Wina menghibur dirinya sendiri. Kim bisa jujur padanya tentang Lili, tetapi tak bisa jujur pada Lili tentang dirinya. Apakah itu berarti Kim lebih mempercayai bahwa dirinya begitu kuat? Entahlah. Hatinya terlalu gelap untuk mencerna.
Kim datang memenuhi janjinya. Dengan setangkai Mawar Merah yang disodorkan ke depan Wina dan kecupan hangat di kening. Dengan gaun termanis yang disiapkan khusus untuk ulang tahunnya, Wina menyambut sosok terkasih itu dengan suka cita.
“Selamat ulang tahun. Aku sayang kamu!”
Hati Wina meluap. Mampu membuatnya lupa bahwa ia hanya memiliki sedikit saja hati Kim.
“Bunganya indah, terima kasih. Aku siapkan minum dulu. Eh, ya, aku bikin kue yang enaaak…”
“Tidak usah, Wina. Kita langsung ke kafe saja. Yuk!”
Wina tidak peka pada sikap Kim yang terburu-buru itu. Dan malam itu Wina terlalu menikmati luapan hatinya hingga tak menyadari kalau sorot mata Kim lagi-lagi melirik arloji. Saat Wina asik dengan fruit punch-nya, Kim malah setengah mati merasakan tempat duduknya panas.
“Kita pulang?”
Wina terkejut. Baru jam delapan. Minumannya saja belum habis. Pemain musik di atas pentas itu saja baru akan memulai aksinya.
“Bisa kita lanjutkan besok!”
“”Tapi..,” Wina tertegun. Mendapati gelisah di mata Kim sekaligus rasa bersalah. Mendadak hatinya ngilu.
Ponsel Kim berbunyi. Ia beranjak untuk menerima teleponnya. Wina tersadar. Dia perlu segera menabahkan hatinya. Kim kembali beberapa menit kemudian. Dia duduk menatap Wina. Tak perlu penjelasan apa-apa, Wina segera tahu apa yang akan ia dengar. Tapi lagi-lagi hatinya begitu gelap. Dia masih saja berharap keajaiban datang. Ini ulang tahunnya. Kim tak akan merusak malam ini! Kim tentu lebih memilih bersamanya!
Sedetik, dua detik. Wina menahan napas. Menghimpun seluruh kekuatan hatinya. Dia masih sangat berharap!
“Maafkan aku!”
Wina tertegun. Menatap mata Kim sebentar lalu cepat-cepat berpaling. Takut kalau mata itu memberitahu lebih dulu apa yang selanjutnya akan dia dengar.
“Malam ini aku memilih bersamamu…”
Tapi? Wina menelan ludah.
“Kuusahakan aku ada bersamamu, meski waktu yang kupunya amat sempit. Aku berjanji pada Lili untuk menemaninya. Dia sakit. Tidak parah, tapi aku harus…”
Wina menggeleng lemah. “Ini ulang tahunku, Kim!”
“Itulah, kenapa aku sempatkan ke sini, Wina!”
“Tolong bersamaku..”
“Sudah!”
“Aku tak ingin mendengar namanya malam ini. Untuk malam ini saja.”
Kim menggenggam tangannya. Ponselnya kembali berbunyi. Kim tak menjawabnya. Malah menatap Wina lama.
“Maafkan aku. Aku sudah berusaha bersamamu malam ini. Tolong, Wina. Mengertilah!”
Ternyata dia salah! Kim memilih merusak malam ini. Seluruh tubuhnya lemas, membuatnya tak berdaya.
“Kuharap kamu berubah pikiran.”
Tapi Kim menggeleng. Meluluhlantakkan hati Wina. Wina tak berdaya.
Kalau saja bisa… ia ingin terbang, berada di kamarnya. Menumpahkan tangisnya…
*
Epilog.
Wina menyudahi tangisnya. Menghimpun segala kekuatan untuk bisa berdiri dan mengangkat wajah. Meninggalkan kafe itu dengan segala perih.
Tiba di kamar yang ia lakukan adalah meraih Mawar pemberian Kim. Menyiumi harumnya. Dalam sakit yang sangat ia bertekad menyudahi semua. Termasuk masa kecil mereka.
Lewat jendela kamarnya kerlap-kerlip bintang menyentuh manik matanya. Gemerlapnya malah membuatnya semakin sendirian. Dalam lelahnya ia tertidur.
Wina baru terjaga saat ponselnya berbunyi.
“Belum tidur?” sapa Kim.
“Sudah. Terbangun oleh teleponmu.”
“Maaf.”
“Tak apa!”
Oh! Bagai tak terjadi sesuatu. Ia mengutuk dirinya. Kenapa ia harus punya cinta yang begitu besar pada sosok ini?
“Maafkan aku, ya. Aku cuma ingin bilang, aku sayang kamu. Sekali lagi, selamat ulang tahun.”
“Terima kasih!”
Dia bahkan tak mampu menolak telepon itu, apalagi memaki.
Dan bintang-bintang di atas sana masih berkelap-kelip. Seakan mengejeknya. Entah apa yang terjadi. Tapi lagi-lagi kepalanya menggeleng saat sudut terdalam hatinya mendesak untuk memusnahkan bayang sosok itu. Tidak. Dia terlalu menyintai Kim! **
Tidak ada komentar:
Posting Komentar