Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

MAKHLUK MANIS ITU, DINDA...

Bagi Ago mahluk cewek itu manja dan egois. Bentar-bentar ngerengek, bentar-bentar ngambek., klemar-klemer, kecentilan, suka cari perhatian, terus demen gosip. Pokoknya semua sifat cewek itu bikin pusing. Ih, Ago sebel banget. Saking sebelnya dia menempatkan makhluk itu dalam deretan paling ujung di kamus kehidupannya. Dia nggak akan deket-deket dengan yang namanya cewek. Ribet.

Dia ingat betul waktu Harris kasak-kusuk di kelas gara-gara dia udah janji sama Ina tapi ternyata sampai bel pulang lewat dari lima belas menit Pak Beni masih saja asik memberi catatan tambahan. Saking gelisahnya, sampai-sampai Harris keringat dingin dan sakit perut. Kenapa? Karena membayangkan Ina bakal ngamuk dan ngomel panjang lebar. Mungkin bakal diputusin. Heran. Kenapa mesti takut diputusin. Kalau Ina nggak mau denger penjelasannya berarti cewek itu egois kan? Ada lagi cerita Rio. Demi Dewi yang doyan banget makan buah manggis, Rio sampai muterin seluruh pasar yang ada di Jakarta untuk mencari buah itu. Kalau dia datang dengan membawa buah Manggis, Dewi pasti senang dan memberinya cipika-cipiki cium pipi kiri kanan. Ya, ampun! Itu berarti cewek itu ada maunya kan? Atau Tito yang selalu membawa-bawa Sita kemana pun ia pergi, supaya ia dapat meyakinkan Sita, yang cemburuan berat, kalau dirinya nggak macam-macam. Padahal Sita sering ngeluh kepanasanlah, capeklah, laparlah. Namanya Manja dan bikin ribet kan? Ada lagi Cyntia, yang paling alergi kena debu, kalau jalan kayak siput dan doyan ngaca. Itu klemar-klemer atau kecentilan seeh? Terus, dia juga sering merhatiin tingkah gerombolan cewek-cewek di sekolahnya yang paling doyan ngerumpi di pojok kantin. Heboh. Topiknya nggak jauh-jauh. Kalau nggak tentang cowok kece pastilah tentang rivalnya dan model baju keluaran baru.

Rese kan! Ago males ngomongin soal cewek. Males deket-deket apa lagi sampe mikirin. Dan salah satu dari cewek itu adalah Dinda. Mimpi apa dia! Ago nggak ingat (saking nggak mikirinnya) sejak kapan tiba-tiba makhluk itu menerobos masuk dalam kehidupannya. Hari-harinya yang semula adem ayem, damai tentram, berubah total dan porak poranda. Tiap pagi jam enam, suara telepon dari Dinda membahana di penjuru kamarnya. Alasan cewek itu, untuk membangunkannya supaya nggak kesiangan! Weeh! Selama ini yang membangunkan Ago adalah jam weker di meja sebelah tempat tidurnya dan dia nggak pernah kesiangan, karena kalau jam wekernya gagal total, pasti Bik Nah atau mama yang turun tangan. Dia nggak perlu telepon dari Dinda! Di sekolah Dinda juga rajin menyapanya, ngintilin dia ke kantin di jam istirahat, menemaninya cari buku di perpus. Ih. Pokoknya nempeeel terus. Ago sudah berusaha mengusir makhluk itu, dari mulai cara baik-baik sampai setengah jutek. Setengah? Ya, mungkin karena masih setengah, jadi cewek itu tetap bebel. Gimana kalau sungguh-sungguh full jutek? Tapi nggak tega. Takut dia nangis. Padahal suer, Ago udah pegel banget. Apa lagi Dinda sok cari perhatian dengan sering telepon malam-malam sekedar ngucapin selamat malam dan nasihatin supaya jangan begadang, karena tiada artinya (kayak lagu dangdut). Kalau melihat Ago pergi bareng temen-temen setelah pulang sekolah, Dinda pasti nanya. Mo kemana? Ngapain? Kenapa nggak pulang dulu? Boleh ikut nggak?

Emangnya dia siapa sih..?

“Go, besok kelas lo ulangan sejarah ya? Lo udah periksa catatan lo lengkap ato nggak? Kalo nggak, lo pinjem temen lo yang lain, biar nanti gue foto kopiin ato gue bantu catet deh!” Dinda mendadak muncul saat Ago lagi bete-betenya di kantin.

“Nggak, makasih!”

“Lo sakit?” Dinda menempelkan punggung tangannya ke kening Ago. Ago cepat menepisnya risih sambil ngedumel. “Gue cuma mastiin apa lo demam, gitu!” Dinda cemberut.

“Gue kena ayan!” ujar Ago kesal. Dia beranjak.

“Go, jangan kluyuran. Cepet pulang trus istirahat ya? Pak Wondo nggak bakal ngasih ulangan susulan!”

Ago cuek. Melenggang pergi. Tapi Dinda mengejar.

“Ato lo punya masalah? Mo cerita?”

Ago berhenti. Menatap Dinda. “Masalah gue adalah…, gue kena ayan! Dan ayannya gue nular. Jadi lo jangan deket-deket gue. Ngerteee?”

Dinda sudah mau protes tapi Ago cepat-cepat pergi. Tito yang, tumben tanpa Sita, berdiri di pintu gerbang, ketawa-tawa melihat tampang kusutnya.

“Kenapa?” geram Ago. Super sewot dia!

“Kasian bener sih, tuh cewek.” ujar Tito yang tahu betul Ago alergi sama cewek.. “Secara nggak sengaja dan di luar kesadaran lo, lo pernah ngasih sinyal kali, Go?”

“Nggak ada sinyal. Gue gak punya HP!” Ago menggeleng resah. “Sekarang hidup gue udah porak poranda. Cewek itu bikin rese!”

Baru saja Ago selesai bicara begitu Dinda tahu-tahu sudah muncul di belakangnya.

“Hai, Ago, Tito! Kok masih di sini? Mau main dulu, ya?”

“Kalo iya, kenapa?” ledek Tito.

“Ago kan harus pulang cepet!”

“Iya, gue mo ngepel dan masak!” Ago keki.

“Elo kan nggak enak badan, Go. Istirahat, ya. Apa lagi besok ulangan.”

Ago menahan kesalnya. Sampe perutnya berasa mules.

“Tuh, busnya datang!” Dinda memenggal kalimat Ago. Tanpa diminta ia menyetop bus itu dan mendorong Ago. “Sampai rumah, makan, terus istirahat ya..Ayo naik!”

Ago berontak. Ditepisnya tangan Dinda. “Apa-apaan sih?”

Dinda terkejut.

“Gue belom mau pulang dan gue nggak mau diatur-atur. Eh, kan gue udah bilang, gue kena ayan menular. Jadi jangan deket-deket gue. Belom ngerti juga?”

“Gue kan cuma mau…”

“Mau apa? Ngatur gue? Atau mau ngeberantakin hidup gue?”

Dinda menggeleng. Matanya mulai merah dan berkaca.

“Denger baik-baik, anak manis. Mending elo yang pulang cepet-cepet nanti dicariin mama. Jangan pikirin gue, mulai besok dan besok dan besok …, oke?” Ago mendorong bahu Dinda pelan ke arah halte. “Selamat jalan, bye!”

“Go?” Tito protes begitu Dinda sudah pergi.

“Lo mau belain dia?”

“Bukan salah dia kalau dia punya perasaan khusus sama elo. Dia mungkin nggak pernah ngira bisa begitu perhatian sama elo dan suka sama lo. Siapa sih yang bisa nebak suara hati. Hari ini kata hati kita begini. Besok atau dua jam lagi hati kita bisa bicara lain. Sumpah suatu kali lo tersadar lo pasti nyesel.”

*

Besoknya tiba-tiba Dinda berubah. Dia tidak lagi menyapa Ago atau ngintilin ke kantin. Dia berusaha tidak menampakkan dirinya di depan Ago. Dia cuma menunduk waktu berpapasan dengan Ago di koridor. Begitu juga hari-hari berikutnya Ago lumayan lega meski diam-diam ada rasa kasihan dan menyesal. Dinda pasti tersinggung dan sedih. Tapi mau gimana lagi? Kalau selama ini dia cuma setengah jutek, dia nggak akan berhasil menjauhkan Dinda. Dia harus sungguh-sungguh jutek.

“Lo harus minta maaf!” bisik Tito, pagi-pagi sebelum bel masuk. “Lo terlalu kasar waktu itu.”

“Biarin aja. Gue nggak mau Dinda tahu gue nyesel. Ntar dikira gue ngasih lampu ijo!” dengus Ago.

“Maaf, boleh tanya?”

Sebuah suara merdu membuat ketiganya menoleh. Nampak seraut wajah cantik mengumbar senyum. Wajah yang sebelumnya tak pernah kelihatan di sekolah ini.

“Kantor kepala sekolahnya di mana, ya?”

“Pagi-pagi nyari kepala sekolah. Kenapa nggak nyari gue?” celetuk Harris konyol.

“Gue pindahan dari Bandung. “

“Oo..” Harris manggut-manggut sok akrab. “Yuk, gue anterin. Udah tahu kelasnya dimana?”

Cewek itu menggeleng.

“Mudah-mudahan sekelas ama gue!” samber Tito.

Cewek itu mengikuti langkah Harris menuju kantor kepala sekolah.

Ago diam terkesima.Cewek satu ini seperti punya daya tarik sendiri. Tiba-tiba dia terpaku pada pesonanya.

“Pasti langsung jadi primadona!” bisik Tito. “Go? Heh! Kenapa lo?”

*

Benar kata Tito. Cewek itu langsung saja jadi pusat perhatian. Semua cowok berusaha cari perhatian dan semua cewek jadi pada sirik berat. Tapi sang primadona kelihatan tenang-tenang saja. Seolah nggak berasa kalau dia jadi sorotan. Cool banget!

Cewek itu, namanya Aurell, satu kelas dengan Ago dan Harris. Ago jadi tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang mendadak aneh. Wajah itu terus saja melekat di manik matanya. Membuat tidurnya tidak pulas lagi, dan sering dapat mimpi-mimpi aneh yang gimana gitu.. yang bikin dia tambah pusing. Suer ewer-ewer. Makhluk ini sanggup merubah prinsipnya tentang cewek berubah total.

Dan suatu kali Ago dapat kesempatan bisa duduk dekat sang primadona di perpustakaan. Sebelumnya beberapa kali mereka pernah ngobrol di kelas. Tapi cuma selintas. Kesempatan ini tak disia-siakan Ago.

“Rumah lo yang di jalan Pepaya itu ya?” Ago memulai.

Alis Aurell yang bagus bertaut. “Kok tahu?”

“Pernah liat lo pulang ke situ.”

Aurell cuma manggut-manggut. Tak ada lagi tanda-tanda pembicaraan itu akan berlanjut. Aurell terlalu asik dengan bukunya.

“Gue punya serial Conan, lengkap. Gue denger lo suka serial itu, ya?” Ago mendapat ide itu tiba-tiba.

“Bener?” Aurell berbinar. “Besok bawain, ya?”

“Eh, dilarang bawa komik ke sekolah. Ada razia, mampus gue! Gimana kalo gue anterin ke rumah?” Ago bak mendapat kesempatan emas.

Muka Aurell kecut. “Ke rumah? Ng.., ntar lo keterusan, sering-sering main ke rumah gue!”

“Yee, ge-er! Cuma nganter komik doang. Lagian emangnya kenapa kalo gue sering main ke rumah? Ga boleh?”

Aurell mengangguk.

“Bokap nyokap lo galak?”

“Mereka baik.”

“Terus?”

“Guenya yang nggak mau ada cowok main ke rumah.”

“Kenapa?”

“Kebiasaan cowok! Kalo dikasih sekali, minta lagi. Boleh main ke rumah sekali, nanti jadi berkali-kali. Nanti dari mulai sekedar main, buntutnya ada apa-apanya. Otaknya emang culas. Rese, kan!”

Dada Ago dihantam telak!

“Gue belom mau deket-deket cowok. Cowok itu cuma bikin masalah. Gue masih mau konsen belajar. Apa lagi cowok itu egois. Ngekang, cemburuan dan gombal. Rayuannya selangit tapi nggak setia! Sementara dia sendiri nggak mau digituin. Belom lagi cowok itu sok hero. Padahal... Cowok itu cemen!”

“Udah-udah!” Ago menutup bukunya. Memandang Aurell tersinggung.

“Lho? Kenapa?”

“Makasih atas penjelasannya dan deskripsi lo tentang cowok!” Ago beranjak, “Kalo lo mau pinjem komik itu, datang sendiri ke rumah gue. Dan cukup di pintu pager aja!”

Aurell terlongo.

Keluar dari perpustakaan Ago langsung ke kantin dan meneguk habis dua botol cola. Sumpah. Kali pertama dia dibuat aneh begini; terpesona, lalu memikirkan, memimpikan, sampai kemudian dipermalukan! Dan oleh makhluk yang nyebelin; cewek! Jangan-jangan ini sumpahnya Dinda. Ingat Dinda Ago jadi trenyuh. Kasihan juga tuh cewek. Sebetulnya Dinda itu baik. Hmm, kenapa baru terasa kalau perhatian-perhatian Dinda itu sangat manis. Kenapa baru terasa kalau kecerewetannya itu adalah bentuk rasa sayangnya. Biasa, kita baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga saat kita sudah kehilangan! Ago nyesel! Dan ia juga baru tersadar bahwa Dinda tak kalah cantik…Dinda, makhluk manis itu...! Hey, udah berapa lama ya dia nggak liat Dinda?

Di sudut kantin Ago tidak tahu, sepasang mata Dinda memperhatikannya diam-diam. Sepasang mata milik makhluk yang dulu bagi Ago nyebelin. Sepasang mata yang sudah sangat terluka …***


Dimuat di tabloit gaul edisi ...... ? 2002

Tidak ada komentar: