Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Permata-permata Maurin

Dia harus menebus kesepian anak-anaknya, dengan membagi jiwanya, lentur bagai karet. Sebelah menjadi ibu, sebelah menjadi ayah.



Bagiku dia adalah wanita hebat. Wajahnya selalu sumringah. Tawa dan sapa ramahnya selalu menebar ke mana-mana. Hampir tak pernah aku melihatnya muram atau bersedih. Padahal, sebagai seorang single parent dengan dua bocah kecil, tentulah amat berat kehidupannya.

Dia pernah bilang, “mulailah pagimu dengan senyum.”

Rasanya itu kalimat klise dan ‘seenaknya’ aja. Bagaimana kita bisa tersenyum pagi-pagi, saat bangun kesiangan dan harus mengejar bus ke kantor?

Aku harus bilang dia, sahabatku ini, adalah seorang wanita hebat. Karena di pagi buta saat kantuk masih merajai, dia sudah harus menyingkirkan selimut. Meyakinkan dua permatanya nyaman di kasurnya, untuk kemudian dia bergelut dengan rutinitas paginya.

Setelah usai dengan sarapan, dia mengantar permata-permatanya ke sekolah yang memang jaraknya begitu dekat dari rumah. Lalu ia kembali ke rumah dan mulai mencatat daftar belanjaan, apa saja yang mesti dibeli Si Mbak untuk menu makan siang nanti. Sementara urusan menu belum selesai, ponselnya berdering-dering. Dari kantor, dari sumber berita, dari operator internet, sampai teman arisan. Dia melayaninya dengan tangan yang terus mencatat, sambil sesekali mengecek apakah ada bumbu dapur dan kelengkapannya yang habis. Lalu dia pergi ke kamar anak-anak. Bukan untuk merapihkan tempat tidur dan bantal-bantalnya, karena itu juga tugas Si Mbak, tapi mengecek apakah meja belajar dan rak buku mereka dalam keadaan aman, tak ada yang berbahaya atau mengkhawatirkan –dia pernah cerita bahwa dia menemukan majalah dewasa miliknya, di meja mereka!

“Entah bagaimana bisa majalah yang kubeli seminggu lalu itu, tiba-tiba berada di meja Arum! Mungkin dia mencurinya dari laci mejaku dan membawanya ke kamar!” ujarnya ketika itu. Maka sweeping pun selalu ia lakukan saat mereka sudah berangkat ke sekolah.

Kemudian dia mulai menyiapkan diri untuk pergi ke kantor. Sebelum beranjak meninggalkan rumah, sederet wanti-wanti ia uraikan pada Si Mbak, yang akan selalu mengangguk paham.

Aku harus bilang, dia wanita hebat, karena meski dengan kelelahan yang sangat, dia selalu saja bisa menjejakkan kaki di kantor dengan wajah yang tetap sumringah! Hingga sore tenggelam. Tapi tawanya tak pernah lenyap. Dia selalu riang. Bagaimana sepanjang hari itu ia berkutat dengan segala hal yang serba cepat.

Aku, rekannya sepekerjaan. Kami adalah partner yang hebat. Selama 4 tahun kami mengarungi dunia jurnalis bersama-sama. Maurin yang periang dan selalu semangat. Tahu bagaimana paginya, siangnya dan malamnya. Meski sebagian ini hanya lewat cerita-ceritanya. Aku pikir, aku sudah sangat mengenalnya.......


Sore itu aku mampir ke rumahnya, yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kantor. Aku mampir karena membutuhkan jas hujan. Sore itu mendung bergelayut dan aku lupa membawa jas hujan di motorku, kebetulan dia menyimpannya karena dulu dia ke mana-mana menggunakan motor.
Aku melihat bocah-bocahnya yang manis di rumah mungilnya. Aku yakin, seperti juga dalam cerita-ceritanya, bahwa ia dan bocah-bocah itu bahagia.

Singgahanku yang kedua adalah saat aku mengantarkan flashdisknya yang tertinggal padahal ia memerlukan itu untuk mengedit beberapa artikel yang harus masuk keesokan hari. Aku melihat mereka sedang bercengkrama. Si Sulung mengerjakan PR dan Si Bungsu bergelayut manja dipangkuannya sambil diajarkan membaca. Hanya bertiga. Tapi begitu semaraknya!

Singgahan berikutnya, adalah ketika ia mengundangku makan malam. Aku baru tahu belakangan bahwa saat itu ia berulang tahun. Selanjutnya singgahanku bukan sekedar singgahan tapi adalah kerinduanku untuk menatap bola-bola bening yang mengerjap indah dengan segala keluguannya. Arum dan Kintan. Aku tidak tahu, kenapa aku menjadi begitu ingin berada di dekat dua bocah miliknya. Mereka begitu hangat padaku. Begitu manja dan menginginkan aku.

Rumah itu memang semarak. Cerita dan tawa tiga wanita di dalamnya selalu membahana. Tapi di mataku, rumah itu sepi sesungguhnya. Entahlah! Tetap ada yang kurang. Bukan saja sosok laki-laki sebagai tiang rumah ini, tapi juga aku tak pernah melihat ada sanak famili yang bertandang.
“Tak terpikir untuk memulai lagi, Rin?” Suatu hari, jauh sebelum aku singgah ke rumahnya untuk yang pertama kali, aku pernah bertanya begitu. Dia menggeleng.

“Aku bahagia dengan hidupku sekarang!”

“Syukurlah! Tapi lebih baik kalau ada pendamping, Rin!”

Dia tertawa.

“Tak selamanya kamu bisa hidup sendirian terus!”

“Kenapa tidak?"

“Kamu perlu seseorang untuk menemani kamu. Aku tahu kamu kuat, kamu perkasa. Tapi sebagai perempuan, kamu tetap membutuhkan teman..”

Dia menggeleng tegas! “Aku dan anak-anakku bahagia, Aryo! Kalau kau bertemu anak-anakku nanti, kau tidak merasa harus bertanya seperti itu!” jawabnya.

“Mereka tidak pernah menanyakan ayahnya?”

“Mereka baik-baik saja, Aryo!”

Sulung berumur 4 tahun saat ayahnya pergi, sementara bungsu berumur 1 bulan. Arum memang sempat menanyakan ayahnya di awal-awal dulu. Tapi sekarang dia sudah melupakannya. Ia selalu mengatakan, ayahnya pergi tak perlu dirisaukan. Arum paham itu, sampai usianya kini menginjak 8 tahun. Sementara Kintan, dia bahkan tak mengenal ayahnya sama sekali, karena ditinggalkan saat ia masih sangat merah.

“Bagaimana mungkin dia menanyakan ayahnya, sosok yang tak sempat ia kenal?” ujarnya.
Benarkah?

Kini aku sudah bertemu dengan mereka, bahkan sudah belasan kali! Aku melihat bocah-bocah itu sangat bahagia. Tapi aku juga melihat adanya kerinduan yang bermain di bola bening mereka.

*


Minggu sore itu, aku menjemput Arum dan Kintan. Kemarin aku janji akan mengajak mereka berenang. Maurin, sahabatku itu, memang sedang tidak di rumah, ada undangan pers yang tidak bisa diabaikan, tapi dia mengijinkan aku menjemput anak-anaknya. Tapi begitu aku tiba di sana, mendadak langit gelap. Mendung tiba-tiba bergayut. Gerimis tipis-tipis berganti menjadi derai hujan. Aku, Arum dan Kintan termangu.

“Kita main hujan aja!” jerit Arum tiba-tiba. “Mama pasti nggak marah, asal habis itu kita langsung mandi air hangat dan minum vitamin.”

Aku masih ragu saat Kintan -Si Bungsu- tiba-tiba sudah berlari ke luar dengan semangatnya. Dalam tiga menit, mereka sudah menari di antara rinai hujan di halaman itu. Aku tergelitik dan kami main bola bersama. Tiba-tiba aku terpeleset dan jatuh. Tungkaiku terkilir. Arum menghampiri dan membantuku berdiri. Permainan kami selesai. Di teras, Arum memberiku handuk.

“Om Aryo, mandi dulu. Aku udah bilang Si Mbak masak air panas buat kita!” Arum berlari ke dalam, entah mungkin mandi duluan.

Sementara Kintan memperhatikanku diam-diam, dengan tubuhnya yang basah. Dia mendekatiku.
“Papa pernah jatuh, waktu main hujan!”

Aku menatapnya terkejut. “Papa?” Bukankah Kintan tak mengenal ayahnya?!

“Kata Kakak, dulu Papa suka main bola di sini...! Papa suka ajak Kakak hujan-hujanan...”

Aku masih menatapnya gemetar. “Kintan?”

“Kan Dede belum ada.., masih di perut Mama kata Kakak.”

Aku tertegun.

“Kata Kakak, Kakak sama Dede punya Papa. Tapi sekarang papanya nggak ada.., nggak pulang-pulang..”

Deras hujan sore itu, dingin airnya yang meresap masuk pori-pori, rasanya tak sedahsyat apa yang aku dengar. Bola mata polos yang bergerak-gerak memandangku dan bergantian memandang hujan, benar-benar keluguan yang tak tersentuh peristiwa di sekitarnya. Tapi siapa yang bisa menduga isi hatinya? Ucapannya barusan, bukankah sebuah kerinduan yang maha dalam?
“Dede cepat mandi, ya! Bilang Mbak, ayo cepat sana!” Aku mengacak rambutnya.
Bocah mungil itu mengangguk, berlari masuk ke dalam.


*

Aku melihatnya meringkuk di sofa dengan tivi menyala. Tangan kanannya memegang remote. Tangan kirinya memegang ‘Puteri Sinzhui’ jilid dua. Dia ketiduran lagi!

Aku meletakkan martabak keju di meja. Arum yang menyongsongku, segera membuka bungkusan itu dan melahapnya. Aku menempelkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan pada Arum supaya tidak berisik dan membangunkan mamanya.

“Mama semalam menangis!” bisik Arum dengan mulut penuh, sambil melirik mamanya.

“Heh?”

“Listrik mati. Mama kan takut gelap!”

Aku nyengir.

“Tapi bukan itu yang bikin Mama nangis..., Mama kangen papa!”

“Heh?” Ini surprise buat aku!!

“Eh, Om jangan kaget gitu..! Mama bukan kangen papa yang beneran papa. Bukan papanya Arum!”
“Jadi papanya siapa?”

“Yaahh.., papa...?!” mata Arum membulat menatapku, “Papa yang lain!”

“Memangnya udah ada?”

Arum menghela napas, sedikit jengkel agaknya. “Belum, Om! Mama nggak punya papa, makanya mama harus punya.., karena Mama sering nangis. Lampu mati, Mama takut... stop kontak konslet, Mama bingung. Nilai Arum jeblok, Mama ngeluh sendirian. Kintan rewel tengah malam, Mama ikutan murung. Mama kayaknya capek deh, Om! Kemarin Arum liat Mama bengong di meja dapur.”
Aku mulai paham apa yang dimaksud Arum.

*


Kini aku semakin mengenalnya. Lebih dari sekedar apa yang ke luar dari mulutnya. Setelah singgahan-singgahanku, setelah kedekatanku dengan dua bocah lucu itu, setelah aku melihat sendiri...

Dia boleh mengaku bahagia dengan kehidupannya sekarang, single parent bersama dua bocahnya yang lucu-lucu. Tapi tak seluruhnya benar!

Sekuat apa dia? Sendirian mencari nafkah, membesarkan putri-putri tercinta. Mengawasi, mendengar keluhan mereka, mengatasi segala masalah.., semuanya, sendirian! Dia tentu letih. Lahir dan batin. Dan dia berpura-pura!!

Dia tertidur di karpet ruang tengah di depan tivi. Masih dengan baju yang tadi dikenakannya di kantor. Kami baru selesai pukul 10 tadi dan aku mengantarnya pulang. Begitu tiba, dia langsung menggelosor di karpet sementara aku mengecek Arum dan Kintan di kamarnya. Begitu kembali kulihat dia sudah terkulai. Dengkurannya terdengar lembut dan halus. Dia letih sekali. Aku menatapnya lama-lama. Kusingkirkan helaian rambut yang menutupi pipinya. Sangat perlahan. Aku melihat bibirnya tersenyum, sementara lelapnya telah begitu jauh membawanya...

*


“Kamu boleh bilang, tak perlu sosok laki-laki. Kamu boleh bilang, kalian sudah berbahagia! Kau yakin?”
Ia menatapku.

“Figur laki-laki tak harus mereka dapatkan dari sosok ayahnya. Anak-anakmu, punya om? Punya pak de, punya pa’cik, punya.., siapapun laki-laki di keluarga besarmu! Tautkan silaturahmi mereka dengannya. Anakmu akan merasa sangat kaya, dikelilingi oleh keluarga besar yang mengasihinya!”

Dia terdiam. Tertunduk memainkan kerikil di kaki-kakinya. Aku tahu dia resah. Segala hal yang berhubungan dengan permata-permatanya selalu membuat Ibu muda ini khawatir. Dia memiliki kekhawatiran yang berlebihan dan aku bisa memakluminya. Dia tak pernah ingin anak-anaknya bersedih. Segala usaha dia lakukan untuk membuat anak-anaknya bahagia. Dia harus menebus kesepian anak-anaknya, dengan membagi jiwanya, lentur bagai karet. Sebelah menjadi ibu, sebelah menjadi ayah. Dia hampir berhasil!

“Apa arti perjuanganku selama ini..??” lirih sekali suaranya.

Kemarin, tak diduga-duga, Arum keceplosan bicara, “Arum pingin ada papa. Papa yang mana aja. Bosan cuma bertiga terus. Memangnya Mama bisa melindungi Arum dan Kintan, kalau Mama aja takut sama suara petir!”

Di sinilah Maurin, di hadapanku. Nampak lemah dan putus asa. Ketegaran yang selama ini ditunjukkannya lenyap. Hanya karena ‘ceplos’-nya Arum!

“Kamu bisa, Maurin! Tinggal selangkah lagi usahamu! Menautkan tali silaturahmi, agar anak-anakmu tetap mendapatkan sosok laki-laki pengganti ayahnya!”

Dia mendongak. Matanya yang selalu bersinar, nampak nanar. Untuk kali pertama aku melihatnya menangis! **



Dimuat di kumpulan cerpen majalah Kartini edisi April 2009

SESEORANG UNTUKKU

Aku masih memikirkan kata-kata Sandy sampai teh di cangkirku habis. Kemarin-kemarin aku mengabaikan segala celotehnya, tapi seminggu ini entah kenapa segala yang dikatakan Sandy mengusikku. Tepatnya nyaris membuatku bimbang. Aku mulai menyukai Sandy? Mmm.., bukan, bukan menyukai. Nggak mungkin kami bisa menjadi rekan kerja yang kompak dulu, kalau aku tidak menyukai laki-laki lajang yang lebih muda dariku 5 tahun itu! Mungkin aku mulai.. Akh! Aku yakin aku sedang kacau. Minggu deadline kadang bikin otakku agak aneh! Akhirnya aku memutuskan menghabiskan pagi ini di mejaku sampai si sulung kembali dari sekolahnya. Aku membuka emailku. Ada beberapa surat tapi aku langsung tertarik pada satu surat dengan subyek ‘Pagiku..’

‘Semburatnya tak selalu sama. Kadang keemasan dengan cahaya berkilau, kadang pula redup dengan sapuan awan hitam. Terkadang pula kicau burung riang, tapi juga tak jarang hembusan angin dingin yang menggigit. Apa dan bagaimana, pagi tetap akan datang. Dia miliku, juga milik kamu.. sayangnya kamu tak pernah sadar itu..’
Pujangga kesiangan!

Aku langsung me-replay, ‘kalau memang aku tak pernah menyadarinya, kenapa aku selalu terbangun setiap semburatnya mengintip di subuh hari?’ lalu aku tersenyum membayangkan dia membaca balasanku dengan tersenyum pula.

*

Yadi sudah siap meninggalkan meja kerjanya saat aku memanggilnya.

“Pulang?” tanyaku heran.

“Sori, Mbak. Ada janji sama yayang... Pliss??”

Aku melirik jam. Masih ada sisa dua puluh menit lagi dari jam pulang kantor.
“Liputan kemarin?” aku menadahkan tangan.

“Besok pagi pasti kelar, sumpah!”

Aku menatapnya.

“Janji, bahkan sebelum Mbak datang, laporannya sudah ada. Oke? Yayangku lagi ngambek, Mbak... empat hari nggak ketemu. Sekarang kita mau baikan, tapi syaratnya aku nggak boleh telat. Plis??”
Aku cuma menarik ujung bibirku dan kembali ke monitorku.

“Thanks Mbak Hani yang baiikk. Besok ta’ bawain coklat deh! Bye...! Senangnya hatiku hilang panas demamku...” Yadi berdendang sambil ngacir dari mejanya.

Setelah Yadi pergi, aku tercenung dengan ujung bibir yang tersungging. Membayangkan indahnya masa pacaran seusia Yadi. Itu menyeretku pada putaran waktu beberapa tahun lalu. Terus-terang, kadang aku rindu perasaan-perasaan itu. Keindahan yang sulit diuraikan dengan kata, saat aku laksana seorang ratu…! Ya, ratu, meski cuma sebentar.

*

Mataku melirik ke dinding penyekat di sebelahku. Senyum Mutia dan Dana tergambar di situ. Buah hatiku, di mana aku berdiri tegar karenanya.

Tiba-tiba layar komputerku menampakkan sebuah messenger. Sandy si pujangga kesiangan itu menyapaku. 'Seringkali yang ada di kepala tidak selaras dengan hati. Pada saat seperti itu, mana yang sebaiknya kamu pilih?'

Ada banyak hal ‘benar’ yang disampaikannya.

Aku membalasnya; Tergantung kapan hal itu terjadi….
Sandy menjawabnya dengan icon wajah nyengir. Dan tak lama messengernya bermunculan.

“Apa kabar, Pagiku??”

“Baik, Alhamdulillah..”

“Semoga pagi ini cerah dan segalanya lancar. Nulis apa?”

“Kamu pikir apa?”

“Prinsip seorang Ibu dengan dua anaknya?”

Dahiku berkerut. Kubalas pesan itu dengan mengirimkan icon wajah meledek yang menjulurkan lidah.

“Kebanggaan bukan pada apakah dia bisa melalui itu semua. Tapi apakah dia bisa mengisi itu semua tanpa meninggalkan hal yang lainnya..”

Aku menyertakan lagi icon wajah bertanya. Dan dia membalasnya; “Wake Up, Mbak! Ada sinar matahari dan kau mengabaikannya..”

Aku menyertakan icon wajah terbahak-bahak! Selanjutnya kupasang messengerku dengan ‘busy’ dan memutuskan berhenti ber- YM-an dengan pujangga kesiangan itu. Selanjutnya aku tenggelam di depan komputer. Larut, hingga dering telepon menghentikanku. Kulihat layat ponselku menampilkan nomor telepon rumah.

“Ya, siapa ini? Dede Dana atau Kaka Mutiaaa??”

“Kakak, Maaa...,” suara cempreng sulungku terdengar di sana. “Mama udah makan siang belom??”

Aku melirik jam dan tersenyum. “Iya sebentar lagi Mama pasti makan siang. Kakak sama Dede udah makan?”

“Udah, Maaa...! Tapi Dede nggak habis, tuh. Maunya main pe-es teruss.. Mbak sampe repot bujuknya.”

“Kakak dong yang bantu bujuk!”

“Dede ngambek...! Soalnya di sekolah tadi Dede dimarahi Bu Guru.”

“Lho? Kenapa? Nakal, ya?”

“Bukan! Tapi Dede nggak bikin pe-er!”

Bless. Darah yang mengalir di tubuhku serasa mendadak dingin. Kakiku lemas. Perasaan menyesal menyergapku bertubi.

“Waah.. iya, Mama lupa semalam mengingatkan kalian bikin pe-er...!”

“Kakak sih udah bikin pe-er, sendirian, waktu Mama belum pulang kerja kemarin. Kalau Dede belum..”

Semalam aku pulang sedikit lebih terlambat dari biasa. Lelah, membuat aku langsung rebah begitu tiba di rumah. Bahkan tak sempat mengecek lagi apakah anak-anak sudah membuat pe-er atau menyiapkan keperluan sekolah mereka. Dan ini bukan yang pertama Dana dihukum karena tidak membuat pe-er!

“Mama mau bicara sama Dana. Mama mau minta maaf...”

“Dana bobo, Maa.. baru aja! Ya udah, Mama jangan lupa makan siang. Nanti Kaka bilang ke Dana kalau Mama minta maaf..”

“Iya, makasih, Sayang!”

Aku tergugu. Rasanya aku tak bisa memaafkan kesalahanku.

Lalu sebuah sms muncul di ponselku. “Pagiku, makan siang bareng, ya?”

*

“Oke, cuma makan siang dengan seorang sahabat?”

Aku menatapnya setengah jengkel. Tepat pukul 12 siang dia muncul di ruanganku dan nyelonong ke mejaku.

Dia pernah bekerja di sini enam bulan lalu dan kami rekanan. Membuat dia begitu kurangajar bisa berseliweran di kantor ini, yang memang sudah begitu familiar dengannya. Dia salah satu wartawan terbaik kantor ini dulu dan semua sangat akrab dengannya. Melihat kecemasan di wajahku dia cepat-cepat berujar.

“Don’t worry, mereka semua tahu tahu dan nggak akan ada muncul komentar-komentar yang kau takutkan itu. Mbak tahu kan, aku akrab dengan semua orang, bahkan bencong di bagian dapur itu!”

Yang dia maksud bencong adalah kepala catering kantor ini, yang dulu adalah teman berantemnya. Dia memohon dengan dua tangan di dada dan akhirnya aku mengangguk.

“Yess!” ujarnya. Dan aku meninju punggungnya.

*

Tak ada yang aneh dalam persahabatan kami sejak kami masih satu kantor. Dia baik, lucu dan sangat penolong. Kepada semua orang tentunya. Tapi sejak dia pindah ke kantor lain, dia muncul di hari-hariku lewat sms, tlp dan messenger! Bukan lagi sebagai rekan kerja atau sahabat. Dia menawarkan sesuatu yang kuanggap aneh.

“Mau kupilihkan makanan pembuka?”

Aku menggeleng. “Aku nggak yakin dengan pilihan kamu!”

Dia tertawa. Siang itu akhirnya kami makan bersama.

“Sudah Desember, Mbak. Tahun akan berganti..,” ujarnya ketika makan siang kami usai dan di depan kami terhidang sepiring kecil pudding jeruk.

“Aku datang dengan tawaran yang tidak berubah!.”

Aku menatapnya sebentar. “Geblek lo! It is real life, Sandy!”

“Usiaku 32, Mbak! Laki-laki, setelah melewati 27, adalah laki-laki yang menuju real life.”

Aku menunduk. Dadaku tiba-tiba berdebar halus. Setelah enam bulan aksimu, seminggu ini segala kata-kata kamu telah berhasil mengganguku, Sandy, bisikku dalam hati.

Sandy mengetuk meja membuatku mendongak, “Mbak masih kekeuh bilang bahwa Mbak nyaman dan bahagia bersama anak-anak?"
Aku diam.

“Aku pun tetap kekeuh dengan pilihanku. Bahwa aku memilih Mbak!” ujarnya santai.

Aku meneguk lemon tea-ku. Sejak dia pindah kantor aku benar-benar baru sadar kalau laki-laki geblek ini keras kepala!

Sebagai rekanan saat itu, aku bersahabat baik dengan Sandy. Dan sebagai rekan kerja kami seringkali makan siang bareng atau sekedar ngopi di kafe sebelah kantor setelah deadline. Ketika Sandy hengkang dari kantor ini, persahabatan kami masih berlangsung baik, meski nyaris tak pernah lagi makan bareng. Merasa sudah sangat tahu tentang aku, tiba-tiba dia dengan nekadnya memilih untuk melabuhkan cinta padaku enam bulan yang lalu! Sinting! Aku single parent dengan dua anak yang masih kecil-kecil sementara dia bujang dengan karir cemerlang!

“Apa yang salah?” tanya dia waktu itu, “aku sangat mengenal Mbak dengan baik dan aku menyukai anak-anak Mbak. Umur? Karir? Bibit, bebet, bobot?”

“Ya, kalau kamu belum sinting, kamu pasti udah mikirin hal-hal itu!”

Aku menyuruhnya introspeksi dan memikirkan lagi segala ucapannya, hingga kami tak ada kontak selama tiga minggu. Hebatnya kemudian messenger, sms dan tlp-nya muncul lagi dan semakin bertubi-tubi. Sopan. Tapi tetap bagiku tak layak! Bagiku dia brondong sinting yang mengejar janda beranak dua dan lebih tua darinya 5 tahun! Nekat!

“Aku sudah memikirkan semuanya. Dan Mbak memiliki semua yang ada di benakku!” Sandy selalu bilang begitu.

Ah... Geblek bener dia!

“Tambah ya, lemon tea-nya?”

Aku tergelak. Meredakan debar di dadaku membuatku tak sadar kalau aku sudah menghabiskan isi gelasku!

“Pudingnya enak!” Sandy berkata dengan mulut penuh dan mengangsurkan piring puding ke depanku. “Coba..?” Dia membawa potongan puding di atas sendok ke arah mulutku!

Aku menggeleng, tapi sendok itu tak berpindah. Akhirnya aku pasrah disuapi begitu! Agak risih, malu, tapi diam-diam aku menikmatinya. Terutama saat Sandy menyentuh rambutku yang jatuh ke dahi dengan ujung jarinya. Sial!

“Oke, begini aja..., kita mulai dari awal. Bahwa aku sahabat Mbak.., mm.. kita buang sebutan Mbak, ya? Kan aku bukan bawahanmu lagi..!” Sandy tersenyum, “bahwa aku sahabatmu. Aku datang dengan segenap hati dan tujuan baik.., kumohon buka pintu hatimu. Lihatlah bahwa kamu sudah melewati dua tahun yang sepi!”

Aku menggeleng meralat kalimatnya.

“Oke, dua tahun yang.. hanya bersama anak-anak!” ujar Sandy lagi. “Aku tahu kamu kuat dan bisa. Tapi apa salahnya kalau aku datang untuk membantumu melalui hari-hari kalian yang beraneka warna. Apa salahnya aku datang sebagai pelengkap. Aku tak bisa menggantikan posisi siapapun di hati kamu dan anak-anak, tapi aku bisa menempatkan posisiku sebagai teman kalian. Kumohon..!”

Ini yang ketiga kalinya kalimat itu keluar dari mulut Sandy, tapi untuk yang pertamakalinya dia memohon di atas lututnya! I’m beg on my knee, sebuah kalimat indah yang nyaris sudah aku lupakan! Aku meleleh. Tapi aku harus teguh.

“Jangan terlalu jauh berpikir. Kita ambil santainya aja, ok?!” Sandy tahu betul kalau aku tegang. Sumpah dia sangat tahu hampir segala hal tentang aku! “Selama aku, kita, bisa menjalani ini bersama-sama, lets do it! Kita isi kesempatan yang ada dengan hal-hal baik, karena aku datang untuk menemani kalian bukan untuk semakin mengacaukan hidup kalian!’

Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari Mutia, putriku.

“Mama udah makan siang?? Jangan sampai hari ini Mama telat makan lagi karena kesibukan Mama. Mama tahu, Mama harus punya teman baru untuk mengingatkan makan siang, juga mengingatkan aku dan Dana bikin PR!”

Mataku basah. Aku boleh lantang berkata bahwa dua tahun lebih akulah wanita perkasa. Tapi kalimat Mutia telah membuat aku lunglai.

“Ayo, habiskan pudingnya! Lalu kamu harus kembali ke kantor, Pagiku!” Sandy menyodorkan lagi sendok ke arah mulutku. Dan matanya telah begitu sarat kasih sayang saat aku menatapnya. Memancarkan kedamaian yang selama ini dia janjikan.

Pulang ke rumah nanti, aku mungkin akan berkata pada Mutia dan Dana. Bahwa Mama mereka adalah wanita perkasa. Tapi Mama mereka memang perlu seseorang untuk membantu mengingatkan mereka bikin PR!**


Di muat di majalah Kartika edisi 71, Juni 2009
Untuk permata-pemataku....

Mata Menikam di Kafe Legong - Fajar Online


Aku melihat lagi laki-laki itu. Di kafetaria Legong, tepi pantai. Di senja kedelapan, yang merambat, menghantar temaram yang syahdu. Di tempat di mana wangiku bertebar. Masih dengan rahang yang mengeras, masih dengan mata yang menerobos sampai ke jantungku. Cuma tiga-empat detik, tapi bagai panah yang melesat dan bola mataku berdarah.

Kemarin-kemarin aku selalu membuang pandang akhirnya. Mataku bisa berdarah karena tikamannya, bagaimana dengan tubuhku? Bayangan dia pecinta yang brutal mengepung kepalaku. Maka kemarin-kemarin aku menyisiri tepian pantai ini untuk menghindarinya. Aku tak mau dia mendatangiku. Dia membuatku gemetar. Tidak, aku tak mau dia datang di malamku. Aku tak bisa menjadi bunga yang mewangi di dekatnya. Malah, aku bagai gadis ingusan yang melarikan diri begitu langkahnya mendekatiku. Laki-laki itu memang tak menyusulku. Membiarkan kaki-kakiku bergumul dengan pasir dan jilatan ombak, sendirian. Dia memang tak mengejar langkahku dengan kakinya. Tapi dengan matanya. Matanya bergerak mengikuti arah angin yang menerbangkanku dan dia tahu lebih dulu ke mana kakiku pergi!

Aku tak kuat dengan tikaman matanya itu. Dingin dan dalam. Tapi ada kilat api yang membakar. Meski dari jarak sekian meter, tapi aku tahu mata itu membelahku. Pernah aku tergesa, butir-butir pasir menjadi panas terasa di telapak kakiku di senja kala itu. Napasku bersahutan dengan debaran tak nyaman. Aku terus tergesa dan menghempaskan lelah dan gelisahku di bawah nyiur, melorot di batangnya dan terduduk lemas sambil memaki dalam hati.

Beberapa kali itu, aku tergesa melarikan diri dari tikaman matanya. Sejak senja pertama hingga senja kelima aku bagai perempuan malang yang dikuntit dengan matanya. Di senja keenam aku mulai merasa bodoh! Harusnya biar saja. Biarkan dia puas menghujaniku dengan tatapannya yang membakar itu. Karena nanti dia yang akan terbakar sendiri! Aku bisa membuat laki-laki meleleh. Aku bisa meletupkan gelora. Aku selalu membuat malam benderang dengan api asmara. Laki-laki itu, dia pasti tahu kenapa matanya terus mengikuti!!

Senja ketujuh, aku harus profesional. Kerlingan dan senyuman adalah modal pertama yang harus aku tebar, seberapa pun galaunya perasaanku. Lenggang gemulai dan mengundang akhirnya kupampang untuknya. Maka di senja kedelapan ini, ketika aku kembali bertemu dengannya, mata yang menerobos membelah jantung itu kutantang. Aku yakin dia menginginkan malamku. Di detik kesebelas atau duabelas, dia yang membuang pandangnya!!!

Hah!! Dia ternyata hanya punya duabelas detik!


(Selengkapnya klik judul di atas/ harian Fajar Makasar ed 12 April 2009)

KALIMAH MUSTAJAB


Suaramu sudah melengking panjang memanggil permata-permatamu untuk segera menyingkirkan selimut. Menggerakkan geliat yang melahirkan lenguhan manja dan protes, “Sebentar lagiii, Ma‘¦.!” Lalu suara kalian sambung-menyambung bersahutan. Dua gelas berisi susu dan segelas teh panas sudah kau hidangkan sebelum kursi-kursi itu berpenghuni. Sambil memotong martabak telur, kau akan melengking lagi memanggil-manggil. Sepuluh menit kemudian lengkinganmu menjadi rentetan mercon yang benar-benar memekakkan telinga.

“Coba cari sebelah kaus kakimu, Kiran! Fitri, jangan main bedak! Lekas pakai seragammu‘¦! Kiran, masih belum ketemu kaus kakinya? Ya, ampun‘¦ kemarin kamu letakkan di mana? Selalu saja kaus kaki hilang sebelah. Ayo, pakai saja kaus kaki yang lain, tapi pulang sekolah nanti harus kau letakkan lagi di tempatnya! Nggak disiplin! Fitrii..?? Belum selesai juga dengan bedakmu? Kamu akan ketinggalan jemputan sekolah!”

Aku benci ritual pagi seperti itu. Kepalaku bisa mendadak pecah. Aku sering menutup kepalaku dengan bantal atau malah bangun sekalian dan pergi mandi. Duduk di meja menikmati sarapan dengan mata masih terkantuk, sementara permata-permata itu berlarian memperebutkan kotak bekal makan siang!

“Aku mau yang pink! Ini punyaku!”

“Tapi kemarin Dede sudah pakai yang pink, sekarang giliran Kakak!!”

Kau menggebrak meja! Hampir saja garpuku terpental!

“Sudah!” katamu dengan gemas. “Habiskan sarapan kalian! Papaaaa‘¦?? Kok bisa sih, sarapan sambil merem?”

Biasanya aku meletakkan garpuku dengan kasar, menghabiskan teh panasku dan segera beranjak. Aku tak pernah tahan dengan ritual pagi seperti ini! Dan kau ngotot. Protes karena aku tak memberikan kecupan sebelum pergi ke kantor. Berapa lama itu berlangsung‘¦ Aku tak pernah paham. Protes-protesku akan bersambung dengan bantahanmu. Perlahan, semua itu membuatku tak lagi nyaman.

(Dimuat di Jurnal Nasional, 11 April 2010. Baca selengkapnya, klik judul di atas......)

YANG TAK BISA

“Kamu tolol banget, sih!”

Ya, ampun! Kenapa juga kuntilanak jelek ini muncul sambil sewot begitu? Alis Cemara bertaut.

“Kamu udah ngelewatin satu kesempatan emas, Ara! Duuh, bego amat sih!”

“Na?” Cemara menempelkan punggung tangannya ke kening Nana. Tapi Nana cepat menepisnya.

“Kasihan Riko dong, Ra!” cetus Nana lagi.

Bibir Cemara membentuk bulatan kecil. Mengerti dia. Segala hal tentang Riko dengan mudah mempengaruhi emosi Nana. Sayang betul Nana dengan sahabatnya itu. Dan Nana pasti tahu soal penolakannya akan ajakan Riko tentang makan malam kemarin.

“Kenapa? Bukan karena kamu nggak punya baju bagus atau kamu lagi nggak enak badan, kan?”

“Aku lapar!” Cemara malah menggandeng sahabatnya itu ke arah kantin, “kita makan bakso, ya?”

“Ra!” Nana melotot.

“Aduh, ini siang bolong, Na. Ngapain sih, marah-marah?”

Nana menarik napas dan menghembuskannya kasar.

“Mmm,” Cemara mendelik dengan senyum di ujung bibirnya, “Jadi kamu lebih sayang Riko daripada aku?”

“Aku sayang kalian! Tapi kamu sering ngecewain dia. Kasihan, kan?”

“Memang dia ngadu apa ke kamu?”

“Dia nggak pernah ngadu apa-apa. Tapi aku punya mata dan kuping yang banyak untuk hal-hal yang menyangkut sahabat-sahabatku.”

Cemara mendengus. “Tapi aku belum siap jalan berdua aja. Apa lagi untuk makan malam.”

“Yeaah, kita selalu jalan bertiga.” Nana cemberut. “Riko itu baik dan sabar! Dia suka kamu. Dia cinta berat sama kamu. Kamu sendiri pernah bilang kalo kamu juga suka dia. Apa lagi?”

“Aku kan perlu waktu, Na.”

“Sampai kamu benar-benar bisa ngelupain Kim?” decak Nana, “Dia udah nyebur ke laut, Ra! Udah dimakan hiu!”

Cemara tersenyum kecut.

*

Nana, sahabat sekaligus teman satu kelasnya itu mengenalkannya pada Riko, dua bulan lalu. Sejak itu mereka selalu bertiga. Sampai kemudian lewat Nana Cemara tahu tentang perasaan Riko.

Riko memang baik. Selain tampan dan berotak cemerlang, Riko adalah orang yang menyenangkan. Alasan yang bagus bagi Nana untuk membujuknya membuka hatinya buat Riko. Ya, apa lagi yang kurang dari Riko? Pernah juga –secara becanda- Cemara mengatakan kalau dia juga suka Riko. Tapi kalau untuk membuka hatinya dan menerima cinta Riko, Cemara terpaksa menggeleng kuat-kuat. Dia belum siap untuk hal satu itu.

“Cuma makan malam aja, Ra! Selama ini kita kan selalu bertiga. Nonton, belanja, cari buku..” bujuk Nana lagi siang tadi “Kamu perlu waktu buat berdua. Sekali, dua kali.., sampai kemudian kamu bisa menerima dia pelan-pelan. Aku yakin, kamu bisa jatuh cinta beneran sama dia! Ayolah, Cuma makan malam. Apa susahnya?”

Memang nggak susah. Tinggal ganti baju terus cabut. Lalu duduk manis di dekat Riko yang tampan!

Bukan itu masalahnya. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Riko mengutarakan perasaannya. Tentang tiga kata sakti yang paling ditakutinya.

“Dia nggak akan ngomong soal itu di makan malam pertama kalian! Percaya, deh. Dia bukan tipe gegabah.”

“Tapi artinya aku udah menanam harapan buat dia, kan?”

“Jalani aja dulu, Ra!”

“Kenapa sih kamu ngebet amat jodohin aku sama dia?”

“Kupikir kalian punya banyak kesamaan. Tapi satu hal pasti, karena kalian sama-sama pernah disakiti.”

Cemara menarik napas dalam-dalam. Merapatkan piyamanya tanpa beranjak dari duduknya di beranda samping. Langit lengang dengan hanya beberapa bintang nun jauh di sana. Mata Cemara mengerjap. Menatap satu persatu pijaran cahaya-cahaya itu. Apakah salah satu di antaranya dapat melihat Kim yang jauh di sana, di belahan timur negeri ini?

Cemara menarik nafas lagi. Apa kabar laki-laki itu? Apakah dia masih ingat pada kata-katanya sendiri sebelum pergi dulu?

“Kamu bisa lihat bintang-bintang itu kalau kangen aku. Bintang-bintang itu akan menyampaikannya ke aku.”

“Kok bisa?”

“Langit itu luas. Dia menyimpan segala rahasia hati manusia. Dan bintang-bintang itu yang mengutarakannya pada kita.”

“Waw, sentimental amat, sih!”

“Dan bintang-bintang itu juga akan menyampaikan rasa kangenku ke kamu.”

“Tapi kamu akan kembali kan, Kim?’

“Ya.”

Tapi ternyata tanah Maumere telah menenggelamkannya. Dua tahun berlalu dan tanah Maumere seakan tak mau mengembalikan Kim padanya! Cuma tiga pucuk surat dan empat dering telepon di dua bulan pertama sebelum dia benar-benar raib!

Masihkah Kim mengingatnya, atau setidaknya pernahkah? Satu atau dua kali saja?

Cemara menebarkan pandangnya lagi ke atas. Memilih satu bintang yang paling terang. Menatapnya lama. Dan seolah tengah berbicara padanya, diungkapkannya segala tanya dan rindunya.

Tiba-tiba dia menggeram. Membuang pandangnya dan merutuki diri.

Sudah kali berapa dia begini? Berharap dan berdoa semoga Kim kembali? Mengurung diri dan berkhayal bahwa Kim masih miliknya? Masih mengingat dan mencintainya? Dan sudah kali keberapa dia akhirnya kecewa?

Shit! Dia begitu lelah.

*

“Kita mau makan es krim!”

Mata Nana mengerjap. Ada sorot setengah memaksa di sana.

“Dan es krim lezat itu nggak bakal jadi masuk perutku kalo kamu mengacaukannya!”

Cemara merengut.

“Aku harus pulang cepat. Kali ini tanpa aku, deh!”

Nana menyeretnya ke pojok.

“Kamu pikir Riko mau mentraktir untuk apa? Untuk mencari kesempatan supaya bisa lebih lama sama kamu!”

“Kamu bener-bener memanfaatkan aku, ya!” Cemara merengut.

“Katakanlah begitu!” Nana mengendikkan bahu tanpa merasa bersalah.

Tiba-tiba Riko sudah ada di belakang mereka.

“Gimana? Jadi? Yuk!”

Cemara cuma bisa menurut waktu Nana sudah menariknya masuk ke mobil Riko. Dan seperti biasa Nana akan setengah memaksa menyediakan tempat Cemara di depan, di sisi Riko.

“Es krim ini terkenal dari dulu, lho!” Riko menstarter mobilnya, “Dari jaman orang tuaku muda dulu. Kalian pasti ketagihan!”

“Tapi jangan lama-lama ya, Ko.” Ujar Cemara. Entahlah, sejak tahu isi hati Riko dari Nana, dia jadi merasa tak nyaman lagi.

“Kenapa? Kena tugas ngepel di rumah?”

“Kok tahu, sih?”

“Tenang, nanti aku bantuin nimba airnya!”

Cemara tersenyum. Dia suka gaya Riko yang santai tapi begitu dewasa. Diliriknya Riko sekilas. Dalam hal apa pun, dia sebanding dengan Kim. Tapi kenapa hatinya masih ragu untuk terbuka dan menerima kehadiranya?

“Dulu orang tuaku pacarannya di sini.”

Mereka tiba di sebuah resto kecil yang nyaman. Riko memilihkan tempat di sisi dekat kolam mungil berisi koi-koi lucu.

“Kok kamu tahu? Emangnya orang tua kamu selalu cerita soal masa pacaran mereka?” tanya Nana.

“He-eh. Tapi sebetulnya aku yang banyak nanya. Siapa tahu aku bisa belajar dari mereka.” Riko cengengesan.

“Belajar apa? Belajar untuk bisa memahami dan memperlakukan wanita, begitu?” kerling Nana, “Pantas banyak cewek jungkir-balik sama kamu!”

“Kata siapa ada cewek jungkir balik karena aku! Mungkin memang mereka itu pesenam! Hehe!” Riko geleng-geleng,

“Ada banyak cewek yang terpuruk, Riko. Yang gagal dapetin perhatian kamu!”

“Nggak, aku nggak pernah sengaja membuat mereka begitu. Aku berusaha nggak akan penah mempermainkan perasaan orang. Aku nggak bisa menyakiti siapa pun.”

Cemara menatapnya sekejap sebelum mengalihkan perhatiannya pada koi-koi. Nana tiba-tiba beranjak dari duduknya dan pamit ke toilet.

“Memangnya kamu pernah di sakiti, Ko?” Tanya Cemara ragu.

Riko menggeleng. “Mudah-mudahan nggak akan pernah!” Dia tergelak dan menatap Cemara. “Kalau pun ada yang menyakitiku, aku akan berusaha untuk tidak mengingatnya. Jadi aku nggak tahu siapa-siapa yang penah menyakitiku.”

“Semudah itu?”

“Tentu aja nggak, Ara!”

Cemara tercenung. Memainkan sendoknya.

“Kenapa, Ara?”

Cemara mengangkat wajahnya. “Sebenarnya aku juga takut kalau ada orang lain yang terluka karena aku.”

“Kalau yang kamu maksud soal penolakanmu tentang makan malam tempo hari...”

“Ya, di antaranya.”

“Ara, aku memang kecewa. Tapi aku nggak mungkin terluka cuma karena soal itu. Hei, aku dididik untuk menjadi orang yang berbesar hati.”

“Syukurlah! Tapi...”

“Mungkin aku akan bersiap-siap untuk satu hal lagi yang lebih hebat.”

Cemara menelan ludah. Satu hal lagi? Yang lebih hebat? Tenggorokannya terasa kering. Di depannya Riko menatapnya. Ada sesuatu yang akan terucap di mata itu dan mungkin sudah di ujung lidah. Ah, dia takut sekali. Takut untuk mengatakan tidak. Takut berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia mulai menyukai Riko lebih dari kemarin-kemarin. Juga takut karena sisi hatinya masih menyimpan kenangan seorang Kim! Masih berharap kalau-kalau laki-laki itu muncul dan kembali mengisi hari-harinya.

Dan dia tersadar kalau Nana sudah terlalu lama meninggalkan mereka.

“Kemana anak itu?” ujarnya.

“Kamu membenciku, Ara?” Tanya Riko, tiba-tiba dan tak terduga.

Alis Cemara terangkat tinggi.

“Tentu aja nggak, Riko. Kenapa?”

“Tapi juga tidak menyintaiku, kan?”

Cemara sampai berhenti bernapas. Cara Riko mengungkapkan isi hatinya memang berbeda. Tentang tiga kata yang amat ditakutinya. Tapi tetap saja membutuhkan jawaban!

“Aku lelah, Ara. Aku nggak mau mengatakan ini sebenarnya dan akan menyimpannya. Tapi aku lelah. Dan aku tak peduli apa pun jawabanmu!”

Cemara menelan ludah.

“Dan semoga kamu pun lelah menunggu seseorang di sana, Ara. Setelah penantian panjangmu.”

Cemara ternganga.

“Maaf. Nana yang menceritakannya setelah kudesak. Itukah sebabnya kenapa kamu menjaga jarak? Kamu masih menunggunya? Masih setia berharap? Masih yakin bahwa suatu saat angin akan membawanya kembali?”

“Itu urusanku!” cetus Cemara tersinggung.

“Aku iri, Ara. Dan aku cuma berharap kamu lelah menunggunya dan mencoba membuka hati buatku.”

Cemara tergugu. Matanya basah.

*

Malamnya Cemara kembali tercenung di beranda. Kembali menatap satu-satu bintang di langit sana. Dan kembali berbicara pada mereka.

Sebetulnya aku lelah, Kim. Bisiknya pada bintang-bintang itu. Dan menyadari betapa aku begitu bodoh, membiarkan waktu terlewat dengan sebuah penantian yang tak pasti. Tapi cinta ini begitu besar. Kutelan segala gelisah, rindu dan caci maki. Kucoba yakin pada kekuatan cinta yang katanya bisa menyatukan dua hati walau terhalang benteng, jarak dan waktu. Tapi keyakinan itu seringkali terkikis dan nyaris habis. Cinta bukan cuma membutuhkan keyakinan.

Tolong, Kim. Untuk yang kesekian ribu kalinya, aku mohon. Kabari aku. Apa pun itu. Aku sudah menelan rasa sakit dari rindu yang terbendung. Aku sudah membendung keraguan dari cinta yang tak jelas. Ternyata rindu itu menyakitkan dan aku sudah begitu lelah!

Angin malam yang menerpa wajahnya yang basah terasa menggigit dingin. Cemara menghapus air matanya seiring dering telepon dan teriakan mama dari dalam.

“Telepon, Ra!”

Kalau itu dari Riko rasanya dia belum siap menerimanya. Tapi Mama tentu tidak mau tahu.

“Apa kabar, peanut?”

Peannut? Suara itu dan satu-satunya orang yang memanggilnya begitu adalah..

“Kim?”

Cemara gemetar menyebut nama itu. Setelah dua tahun?

“Ya, kalau memang masih ada nama itu di kepalamu!”

“Tentu saja, bodoh!” desisnya. Rasa senang yang meluap membuat matanya basah. “Dan aku berharap bisa memarahimu segera. Kamu dimana?”

“Masih di Maumere.”

Cemara tertegun sesaat. Segera membuang jauh-jauh angan yang sudah memenuhi kepalanya tadi. Ternyata jarak masih saja menghalangi!

“Katakan saja ada kabar apa?” ujarnya hampir menangis.

Sesaat sunyi.

“Kamu menelepon bukan untuk mengatakan kalau kamu kangen aku, kan?” suara Cemara pelan dan ragu.

Masih sunyi. Sesaat kemudian agak tersendat karena ragu terdengar suara Kim.

“Ara, seandainya pun aku mengatakan itu, kamu masih percaya?”

“Tentu aja nggak!”

“Ya, aku tahu. Aku salah.” Terdengar Kim menarik napas berat. “Sudah ada seseorang di sana, Ra?”

Gila! Cemara merutuk. Bahkan memikirkannya pun tidak. Oh, ingin sekali ia marah dan memaki. Ingin juga ditumpahkannya segala tanya yang selama ini mengganggunya. Tapi kemana kalimat-kalimat yang tersusun kala ia menatap bintang-bintang di langit itu?

“Ara, maafkan aku…”

“Untuk menelantarkan aku selama ini? Tanpa kabar apa pun?”

“Ara? Kamu..? Kamu selalu menungguku?”

“Kim! Tentu saja! Dan seperti janji kamu dulu, tentang bintang-bintang itu! Kamu lupa? Kamu bahkan nggak ingat kata-kata kamu sendiri!”

“Salah, Ara!”

“Salah? Oh, kalau saja aku ingat makian apa yang sudah kususun sejak dulu! Oke, Kim. Kuberikan kesempatan kamu untuk bela diri!”

“Ara, kalau saja kamu tahu bahwa selama ini aku begitu tersiksa. Selama ini aku berjuang melupakan kamu. Selama ini mati-matian aku mengubur segala kenangan kita. Tahu kenapa? Karena kupikir jarak yang membentang itu akan menyurutkan segala rasa yang ada di hatimu. Kupikir waktu akan pelan-pelan mengikisnya dan membuatmu melupakan aku seiring dengan datangnya orang lain. Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi menghubungimu dari pada aku harus mendengar kalau kamu sudah punya yang lain. Aku menghilang di sini. Mencoba menenggelamkan diri dan mengubur semua. Dan ternyata aku gagal.” Ujar Kim bertubi-tubi.

Cemara tertegun.

“Aku masih dan selalu ingat kamu. Hanya saja aku tidak punya keyakinan bahwa kisah kita akan berlanjut terus.”

“Kenapa, Kim?”

“Karena aku nggak mungkin kembali ke sana, Ara. Hidup dan masa depanku di sini. Ya, ada banyak alasan kenapa kulakukan ini. Menghilang dan mengubur semua tentang kita.”

“Jadi.., apa maksud kamu menelepon?”

“Aku terlalu lelah. Aku cuma ingin mendengar suaramu. Sebentar saja. Dan setelah ini semoga aku kuat ..”

“Jadi?”

“Sekali lagi maafkan aku. Lupakan aku.”

Cemara membanting teleponnya. Dia menghambur ke kamar dan tersedu di bantalnya. Ribuan caci maki melompat di sela tangisnya. Inikah hadiah dari penantiannya selama ini? Nana benar. Cowok itu sudah nyebur ke laut dan dimakan hiu! Terlalu pengecut!

Cemara menengadah. Lewat jendela yang terbuka dapat dilihatnya bintang-bintang. Tentang kata-kata Kim yang omong kosong semua!

“Telepon, Ra!”

Cemara enggan beranjak. Tapi Mama terus memanggilnya. Semoga bukan Kim lagi!

“Ini aku!”

Riko!

“Maaf mengganggu malammu. Tapi saat ini aku sedang di teras dan melihat banyak bintang. Bagus banget, Ra. Coba kamu keluar dan lihatlah! Pilih salah satu yang paling terang dan indah menurutmu. Barangkali aja pilihan kita sama !”

Mata Cemara semakin basah. ***


(Dimuat di majalah Anita cemerlang 1995 sebagai Cerita Utama)

MAKHLUK MANIS ITU, DINDA...

Bagi Ago mahluk cewek itu manja dan egois. Bentar-bentar ngerengek, bentar-bentar ngambek., klemar-klemer, kecentilan, suka cari perhatian, terus demen gosip. Pokoknya semua sifat cewek itu bikin pusing. Ih, Ago sebel banget. Saking sebelnya dia menempatkan makhluk itu dalam deretan paling ujung di kamus kehidupannya. Dia nggak akan deket-deket dengan yang namanya cewek. Ribet.

Dia ingat betul waktu Harris kasak-kusuk di kelas gara-gara dia udah janji sama Ina tapi ternyata sampai bel pulang lewat dari lima belas menit Pak Beni masih saja asik memberi catatan tambahan. Saking gelisahnya, sampai-sampai Harris keringat dingin dan sakit perut. Kenapa? Karena membayangkan Ina bakal ngamuk dan ngomel panjang lebar. Mungkin bakal diputusin. Heran. Kenapa mesti takut diputusin. Kalau Ina nggak mau denger penjelasannya berarti cewek itu egois kan? Ada lagi cerita Rio. Demi Dewi yang doyan banget makan buah manggis, Rio sampai muterin seluruh pasar yang ada di Jakarta untuk mencari buah itu. Kalau dia datang dengan membawa buah Manggis, Dewi pasti senang dan memberinya cipika-cipiki cium pipi kiri kanan. Ya, ampun! Itu berarti cewek itu ada maunya kan? Atau Tito yang selalu membawa-bawa Sita kemana pun ia pergi, supaya ia dapat meyakinkan Sita, yang cemburuan berat, kalau dirinya nggak macam-macam. Padahal Sita sering ngeluh kepanasanlah, capeklah, laparlah. Namanya Manja dan bikin ribet kan? Ada lagi Cyntia, yang paling alergi kena debu, kalau jalan kayak siput dan doyan ngaca. Itu klemar-klemer atau kecentilan seeh? Terus, dia juga sering merhatiin tingkah gerombolan cewek-cewek di sekolahnya yang paling doyan ngerumpi di pojok kantin. Heboh. Topiknya nggak jauh-jauh. Kalau nggak tentang cowok kece pastilah tentang rivalnya dan model baju keluaran baru.

Rese kan! Ago males ngomongin soal cewek. Males deket-deket apa lagi sampe mikirin. Dan salah satu dari cewek itu adalah Dinda. Mimpi apa dia! Ago nggak ingat (saking nggak mikirinnya) sejak kapan tiba-tiba makhluk itu menerobos masuk dalam kehidupannya. Hari-harinya yang semula adem ayem, damai tentram, berubah total dan porak poranda. Tiap pagi jam enam, suara telepon dari Dinda membahana di penjuru kamarnya. Alasan cewek itu, untuk membangunkannya supaya nggak kesiangan! Weeh! Selama ini yang membangunkan Ago adalah jam weker di meja sebelah tempat tidurnya dan dia nggak pernah kesiangan, karena kalau jam wekernya gagal total, pasti Bik Nah atau mama yang turun tangan. Dia nggak perlu telepon dari Dinda! Di sekolah Dinda juga rajin menyapanya, ngintilin dia ke kantin di jam istirahat, menemaninya cari buku di perpus. Ih. Pokoknya nempeeel terus. Ago sudah berusaha mengusir makhluk itu, dari mulai cara baik-baik sampai setengah jutek. Setengah? Ya, mungkin karena masih setengah, jadi cewek itu tetap bebel. Gimana kalau sungguh-sungguh full jutek? Tapi nggak tega. Takut dia nangis. Padahal suer, Ago udah pegel banget. Apa lagi Dinda sok cari perhatian dengan sering telepon malam-malam sekedar ngucapin selamat malam dan nasihatin supaya jangan begadang, karena tiada artinya (kayak lagu dangdut). Kalau melihat Ago pergi bareng temen-temen setelah pulang sekolah, Dinda pasti nanya. Mo kemana? Ngapain? Kenapa nggak pulang dulu? Boleh ikut nggak?

Emangnya dia siapa sih..?

“Go, besok kelas lo ulangan sejarah ya? Lo udah periksa catatan lo lengkap ato nggak? Kalo nggak, lo pinjem temen lo yang lain, biar nanti gue foto kopiin ato gue bantu catet deh!” Dinda mendadak muncul saat Ago lagi bete-betenya di kantin.

“Nggak, makasih!”

“Lo sakit?” Dinda menempelkan punggung tangannya ke kening Ago. Ago cepat menepisnya risih sambil ngedumel. “Gue cuma mastiin apa lo demam, gitu!” Dinda cemberut.

“Gue kena ayan!” ujar Ago kesal. Dia beranjak.

“Go, jangan kluyuran. Cepet pulang trus istirahat ya? Pak Wondo nggak bakal ngasih ulangan susulan!”

Ago cuek. Melenggang pergi. Tapi Dinda mengejar.

“Ato lo punya masalah? Mo cerita?”

Ago berhenti. Menatap Dinda. “Masalah gue adalah…, gue kena ayan! Dan ayannya gue nular. Jadi lo jangan deket-deket gue. Ngerteee?”

Dinda sudah mau protes tapi Ago cepat-cepat pergi. Tito yang, tumben tanpa Sita, berdiri di pintu gerbang, ketawa-tawa melihat tampang kusutnya.

“Kenapa?” geram Ago. Super sewot dia!

“Kasian bener sih, tuh cewek.” ujar Tito yang tahu betul Ago alergi sama cewek.. “Secara nggak sengaja dan di luar kesadaran lo, lo pernah ngasih sinyal kali, Go?”

“Nggak ada sinyal. Gue gak punya HP!” Ago menggeleng resah. “Sekarang hidup gue udah porak poranda. Cewek itu bikin rese!”

Baru saja Ago selesai bicara begitu Dinda tahu-tahu sudah muncul di belakangnya.

“Hai, Ago, Tito! Kok masih di sini? Mau main dulu, ya?”

“Kalo iya, kenapa?” ledek Tito.

“Ago kan harus pulang cepet!”

“Iya, gue mo ngepel dan masak!” Ago keki.

“Elo kan nggak enak badan, Go. Istirahat, ya. Apa lagi besok ulangan.”

Ago menahan kesalnya. Sampe perutnya berasa mules.

“Tuh, busnya datang!” Dinda memenggal kalimat Ago. Tanpa diminta ia menyetop bus itu dan mendorong Ago. “Sampai rumah, makan, terus istirahat ya..Ayo naik!”

Ago berontak. Ditepisnya tangan Dinda. “Apa-apaan sih?”

Dinda terkejut.

“Gue belom mau pulang dan gue nggak mau diatur-atur. Eh, kan gue udah bilang, gue kena ayan menular. Jadi jangan deket-deket gue. Belom ngerti juga?”

“Gue kan cuma mau…”

“Mau apa? Ngatur gue? Atau mau ngeberantakin hidup gue?”

Dinda menggeleng. Matanya mulai merah dan berkaca.

“Denger baik-baik, anak manis. Mending elo yang pulang cepet-cepet nanti dicariin mama. Jangan pikirin gue, mulai besok dan besok dan besok …, oke?” Ago mendorong bahu Dinda pelan ke arah halte. “Selamat jalan, bye!”

“Go?” Tito protes begitu Dinda sudah pergi.

“Lo mau belain dia?”

“Bukan salah dia kalau dia punya perasaan khusus sama elo. Dia mungkin nggak pernah ngira bisa begitu perhatian sama elo dan suka sama lo. Siapa sih yang bisa nebak suara hati. Hari ini kata hati kita begini. Besok atau dua jam lagi hati kita bisa bicara lain. Sumpah suatu kali lo tersadar lo pasti nyesel.”

*

Besoknya tiba-tiba Dinda berubah. Dia tidak lagi menyapa Ago atau ngintilin ke kantin. Dia berusaha tidak menampakkan dirinya di depan Ago. Dia cuma menunduk waktu berpapasan dengan Ago di koridor. Begitu juga hari-hari berikutnya Ago lumayan lega meski diam-diam ada rasa kasihan dan menyesal. Dinda pasti tersinggung dan sedih. Tapi mau gimana lagi? Kalau selama ini dia cuma setengah jutek, dia nggak akan berhasil menjauhkan Dinda. Dia harus sungguh-sungguh jutek.

“Lo harus minta maaf!” bisik Tito, pagi-pagi sebelum bel masuk. “Lo terlalu kasar waktu itu.”

“Biarin aja. Gue nggak mau Dinda tahu gue nyesel. Ntar dikira gue ngasih lampu ijo!” dengus Ago.

“Maaf, boleh tanya?”

Sebuah suara merdu membuat ketiganya menoleh. Nampak seraut wajah cantik mengumbar senyum. Wajah yang sebelumnya tak pernah kelihatan di sekolah ini.

“Kantor kepala sekolahnya di mana, ya?”

“Pagi-pagi nyari kepala sekolah. Kenapa nggak nyari gue?” celetuk Harris konyol.

“Gue pindahan dari Bandung. “

“Oo..” Harris manggut-manggut sok akrab. “Yuk, gue anterin. Udah tahu kelasnya dimana?”

Cewek itu menggeleng.

“Mudah-mudahan sekelas ama gue!” samber Tito.

Cewek itu mengikuti langkah Harris menuju kantor kepala sekolah.

Ago diam terkesima.Cewek satu ini seperti punya daya tarik sendiri. Tiba-tiba dia terpaku pada pesonanya.

“Pasti langsung jadi primadona!” bisik Tito. “Go? Heh! Kenapa lo?”

*

Benar kata Tito. Cewek itu langsung saja jadi pusat perhatian. Semua cowok berusaha cari perhatian dan semua cewek jadi pada sirik berat. Tapi sang primadona kelihatan tenang-tenang saja. Seolah nggak berasa kalau dia jadi sorotan. Cool banget!

Cewek itu, namanya Aurell, satu kelas dengan Ago dan Harris. Ago jadi tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang mendadak aneh. Wajah itu terus saja melekat di manik matanya. Membuat tidurnya tidak pulas lagi, dan sering dapat mimpi-mimpi aneh yang gimana gitu.. yang bikin dia tambah pusing. Suer ewer-ewer. Makhluk ini sanggup merubah prinsipnya tentang cewek berubah total.

Dan suatu kali Ago dapat kesempatan bisa duduk dekat sang primadona di perpustakaan. Sebelumnya beberapa kali mereka pernah ngobrol di kelas. Tapi cuma selintas. Kesempatan ini tak disia-siakan Ago.

“Rumah lo yang di jalan Pepaya itu ya?” Ago memulai.

Alis Aurell yang bagus bertaut. “Kok tahu?”

“Pernah liat lo pulang ke situ.”

Aurell cuma manggut-manggut. Tak ada lagi tanda-tanda pembicaraan itu akan berlanjut. Aurell terlalu asik dengan bukunya.

“Gue punya serial Conan, lengkap. Gue denger lo suka serial itu, ya?” Ago mendapat ide itu tiba-tiba.

“Bener?” Aurell berbinar. “Besok bawain, ya?”

“Eh, dilarang bawa komik ke sekolah. Ada razia, mampus gue! Gimana kalo gue anterin ke rumah?” Ago bak mendapat kesempatan emas.

Muka Aurell kecut. “Ke rumah? Ng.., ntar lo keterusan, sering-sering main ke rumah gue!”

“Yee, ge-er! Cuma nganter komik doang. Lagian emangnya kenapa kalo gue sering main ke rumah? Ga boleh?”

Aurell mengangguk.

“Bokap nyokap lo galak?”

“Mereka baik.”

“Terus?”

“Guenya yang nggak mau ada cowok main ke rumah.”

“Kenapa?”

“Kebiasaan cowok! Kalo dikasih sekali, minta lagi. Boleh main ke rumah sekali, nanti jadi berkali-kali. Nanti dari mulai sekedar main, buntutnya ada apa-apanya. Otaknya emang culas. Rese, kan!”

Dada Ago dihantam telak!

“Gue belom mau deket-deket cowok. Cowok itu cuma bikin masalah. Gue masih mau konsen belajar. Apa lagi cowok itu egois. Ngekang, cemburuan dan gombal. Rayuannya selangit tapi nggak setia! Sementara dia sendiri nggak mau digituin. Belom lagi cowok itu sok hero. Padahal... Cowok itu cemen!”

“Udah-udah!” Ago menutup bukunya. Memandang Aurell tersinggung.

“Lho? Kenapa?”

“Makasih atas penjelasannya dan deskripsi lo tentang cowok!” Ago beranjak, “Kalo lo mau pinjem komik itu, datang sendiri ke rumah gue. Dan cukup di pintu pager aja!”

Aurell terlongo.

Keluar dari perpustakaan Ago langsung ke kantin dan meneguk habis dua botol cola. Sumpah. Kali pertama dia dibuat aneh begini; terpesona, lalu memikirkan, memimpikan, sampai kemudian dipermalukan! Dan oleh makhluk yang nyebelin; cewek! Jangan-jangan ini sumpahnya Dinda. Ingat Dinda Ago jadi trenyuh. Kasihan juga tuh cewek. Sebetulnya Dinda itu baik. Hmm, kenapa baru terasa kalau perhatian-perhatian Dinda itu sangat manis. Kenapa baru terasa kalau kecerewetannya itu adalah bentuk rasa sayangnya. Biasa, kita baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga saat kita sudah kehilangan! Ago nyesel! Dan ia juga baru tersadar bahwa Dinda tak kalah cantik…Dinda, makhluk manis itu...! Hey, udah berapa lama ya dia nggak liat Dinda?

Di sudut kantin Ago tidak tahu, sepasang mata Dinda memperhatikannya diam-diam. Sepasang mata milik makhluk yang dulu bagi Ago nyebelin. Sepasang mata yang sudah sangat terluka …***


Dimuat di tabloit gaul edisi ...... ? 2002