Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

Permata-permata Maurin

Dia harus menebus kesepian anak-anaknya, dengan membagi jiwanya, lentur bagai karet. Sebelah menjadi ibu, sebelah menjadi ayah.



Bagiku dia adalah wanita hebat. Wajahnya selalu sumringah. Tawa dan sapa ramahnya selalu menebar ke mana-mana. Hampir tak pernah aku melihatnya muram atau bersedih. Padahal, sebagai seorang single parent dengan dua bocah kecil, tentulah amat berat kehidupannya.

Dia pernah bilang, “mulailah pagimu dengan senyum.”

Rasanya itu kalimat klise dan ‘seenaknya’ aja. Bagaimana kita bisa tersenyum pagi-pagi, saat bangun kesiangan dan harus mengejar bus ke kantor?

Aku harus bilang dia, sahabatku ini, adalah seorang wanita hebat. Karena di pagi buta saat kantuk masih merajai, dia sudah harus menyingkirkan selimut. Meyakinkan dua permatanya nyaman di kasurnya, untuk kemudian dia bergelut dengan rutinitas paginya.

Setelah usai dengan sarapan, dia mengantar permata-permatanya ke sekolah yang memang jaraknya begitu dekat dari rumah. Lalu ia kembali ke rumah dan mulai mencatat daftar belanjaan, apa saja yang mesti dibeli Si Mbak untuk menu makan siang nanti. Sementara urusan menu belum selesai, ponselnya berdering-dering. Dari kantor, dari sumber berita, dari operator internet, sampai teman arisan. Dia melayaninya dengan tangan yang terus mencatat, sambil sesekali mengecek apakah ada bumbu dapur dan kelengkapannya yang habis. Lalu dia pergi ke kamar anak-anak. Bukan untuk merapihkan tempat tidur dan bantal-bantalnya, karena itu juga tugas Si Mbak, tapi mengecek apakah meja belajar dan rak buku mereka dalam keadaan aman, tak ada yang berbahaya atau mengkhawatirkan –dia pernah cerita bahwa dia menemukan majalah dewasa miliknya, di meja mereka!

“Entah bagaimana bisa majalah yang kubeli seminggu lalu itu, tiba-tiba berada di meja Arum! Mungkin dia mencurinya dari laci mejaku dan membawanya ke kamar!” ujarnya ketika itu. Maka sweeping pun selalu ia lakukan saat mereka sudah berangkat ke sekolah.

Kemudian dia mulai menyiapkan diri untuk pergi ke kantor. Sebelum beranjak meninggalkan rumah, sederet wanti-wanti ia uraikan pada Si Mbak, yang akan selalu mengangguk paham.

Aku harus bilang, dia wanita hebat, karena meski dengan kelelahan yang sangat, dia selalu saja bisa menjejakkan kaki di kantor dengan wajah yang tetap sumringah! Hingga sore tenggelam. Tapi tawanya tak pernah lenyap. Dia selalu riang. Bagaimana sepanjang hari itu ia berkutat dengan segala hal yang serba cepat.

Aku, rekannya sepekerjaan. Kami adalah partner yang hebat. Selama 4 tahun kami mengarungi dunia jurnalis bersama-sama. Maurin yang periang dan selalu semangat. Tahu bagaimana paginya, siangnya dan malamnya. Meski sebagian ini hanya lewat cerita-ceritanya. Aku pikir, aku sudah sangat mengenalnya.......


Sore itu aku mampir ke rumahnya, yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kantor. Aku mampir karena membutuhkan jas hujan. Sore itu mendung bergelayut dan aku lupa membawa jas hujan di motorku, kebetulan dia menyimpannya karena dulu dia ke mana-mana menggunakan motor.
Aku melihat bocah-bocahnya yang manis di rumah mungilnya. Aku yakin, seperti juga dalam cerita-ceritanya, bahwa ia dan bocah-bocah itu bahagia.

Singgahanku yang kedua adalah saat aku mengantarkan flashdisknya yang tertinggal padahal ia memerlukan itu untuk mengedit beberapa artikel yang harus masuk keesokan hari. Aku melihat mereka sedang bercengkrama. Si Sulung mengerjakan PR dan Si Bungsu bergelayut manja dipangkuannya sambil diajarkan membaca. Hanya bertiga. Tapi begitu semaraknya!

Singgahan berikutnya, adalah ketika ia mengundangku makan malam. Aku baru tahu belakangan bahwa saat itu ia berulang tahun. Selanjutnya singgahanku bukan sekedar singgahan tapi adalah kerinduanku untuk menatap bola-bola bening yang mengerjap indah dengan segala keluguannya. Arum dan Kintan. Aku tidak tahu, kenapa aku menjadi begitu ingin berada di dekat dua bocah miliknya. Mereka begitu hangat padaku. Begitu manja dan menginginkan aku.

Rumah itu memang semarak. Cerita dan tawa tiga wanita di dalamnya selalu membahana. Tapi di mataku, rumah itu sepi sesungguhnya. Entahlah! Tetap ada yang kurang. Bukan saja sosok laki-laki sebagai tiang rumah ini, tapi juga aku tak pernah melihat ada sanak famili yang bertandang.
“Tak terpikir untuk memulai lagi, Rin?” Suatu hari, jauh sebelum aku singgah ke rumahnya untuk yang pertama kali, aku pernah bertanya begitu. Dia menggeleng.

“Aku bahagia dengan hidupku sekarang!”

“Syukurlah! Tapi lebih baik kalau ada pendamping, Rin!”

Dia tertawa.

“Tak selamanya kamu bisa hidup sendirian terus!”

“Kenapa tidak?"

“Kamu perlu seseorang untuk menemani kamu. Aku tahu kamu kuat, kamu perkasa. Tapi sebagai perempuan, kamu tetap membutuhkan teman..”

Dia menggeleng tegas! “Aku dan anak-anakku bahagia, Aryo! Kalau kau bertemu anak-anakku nanti, kau tidak merasa harus bertanya seperti itu!” jawabnya.

“Mereka tidak pernah menanyakan ayahnya?”

“Mereka baik-baik saja, Aryo!”

Sulung berumur 4 tahun saat ayahnya pergi, sementara bungsu berumur 1 bulan. Arum memang sempat menanyakan ayahnya di awal-awal dulu. Tapi sekarang dia sudah melupakannya. Ia selalu mengatakan, ayahnya pergi tak perlu dirisaukan. Arum paham itu, sampai usianya kini menginjak 8 tahun. Sementara Kintan, dia bahkan tak mengenal ayahnya sama sekali, karena ditinggalkan saat ia masih sangat merah.

“Bagaimana mungkin dia menanyakan ayahnya, sosok yang tak sempat ia kenal?” ujarnya.
Benarkah?

Kini aku sudah bertemu dengan mereka, bahkan sudah belasan kali! Aku melihat bocah-bocah itu sangat bahagia. Tapi aku juga melihat adanya kerinduan yang bermain di bola bening mereka.

*


Minggu sore itu, aku menjemput Arum dan Kintan. Kemarin aku janji akan mengajak mereka berenang. Maurin, sahabatku itu, memang sedang tidak di rumah, ada undangan pers yang tidak bisa diabaikan, tapi dia mengijinkan aku menjemput anak-anaknya. Tapi begitu aku tiba di sana, mendadak langit gelap. Mendung tiba-tiba bergayut. Gerimis tipis-tipis berganti menjadi derai hujan. Aku, Arum dan Kintan termangu.

“Kita main hujan aja!” jerit Arum tiba-tiba. “Mama pasti nggak marah, asal habis itu kita langsung mandi air hangat dan minum vitamin.”

Aku masih ragu saat Kintan -Si Bungsu- tiba-tiba sudah berlari ke luar dengan semangatnya. Dalam tiga menit, mereka sudah menari di antara rinai hujan di halaman itu. Aku tergelitik dan kami main bola bersama. Tiba-tiba aku terpeleset dan jatuh. Tungkaiku terkilir. Arum menghampiri dan membantuku berdiri. Permainan kami selesai. Di teras, Arum memberiku handuk.

“Om Aryo, mandi dulu. Aku udah bilang Si Mbak masak air panas buat kita!” Arum berlari ke dalam, entah mungkin mandi duluan.

Sementara Kintan memperhatikanku diam-diam, dengan tubuhnya yang basah. Dia mendekatiku.
“Papa pernah jatuh, waktu main hujan!”

Aku menatapnya terkejut. “Papa?” Bukankah Kintan tak mengenal ayahnya?!

“Kata Kakak, dulu Papa suka main bola di sini...! Papa suka ajak Kakak hujan-hujanan...”

Aku masih menatapnya gemetar. “Kintan?”

“Kan Dede belum ada.., masih di perut Mama kata Kakak.”

Aku tertegun.

“Kata Kakak, Kakak sama Dede punya Papa. Tapi sekarang papanya nggak ada.., nggak pulang-pulang..”

Deras hujan sore itu, dingin airnya yang meresap masuk pori-pori, rasanya tak sedahsyat apa yang aku dengar. Bola mata polos yang bergerak-gerak memandangku dan bergantian memandang hujan, benar-benar keluguan yang tak tersentuh peristiwa di sekitarnya. Tapi siapa yang bisa menduga isi hatinya? Ucapannya barusan, bukankah sebuah kerinduan yang maha dalam?
“Dede cepat mandi, ya! Bilang Mbak, ayo cepat sana!” Aku mengacak rambutnya.
Bocah mungil itu mengangguk, berlari masuk ke dalam.


*

Aku melihatnya meringkuk di sofa dengan tivi menyala. Tangan kanannya memegang remote. Tangan kirinya memegang ‘Puteri Sinzhui’ jilid dua. Dia ketiduran lagi!

Aku meletakkan martabak keju di meja. Arum yang menyongsongku, segera membuka bungkusan itu dan melahapnya. Aku menempelkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan pada Arum supaya tidak berisik dan membangunkan mamanya.

“Mama semalam menangis!” bisik Arum dengan mulut penuh, sambil melirik mamanya.

“Heh?”

“Listrik mati. Mama kan takut gelap!”

Aku nyengir.

“Tapi bukan itu yang bikin Mama nangis..., Mama kangen papa!”

“Heh?” Ini surprise buat aku!!

“Eh, Om jangan kaget gitu..! Mama bukan kangen papa yang beneran papa. Bukan papanya Arum!”
“Jadi papanya siapa?”

“Yaahh.., papa...?!” mata Arum membulat menatapku, “Papa yang lain!”

“Memangnya udah ada?”

Arum menghela napas, sedikit jengkel agaknya. “Belum, Om! Mama nggak punya papa, makanya mama harus punya.., karena Mama sering nangis. Lampu mati, Mama takut... stop kontak konslet, Mama bingung. Nilai Arum jeblok, Mama ngeluh sendirian. Kintan rewel tengah malam, Mama ikutan murung. Mama kayaknya capek deh, Om! Kemarin Arum liat Mama bengong di meja dapur.”
Aku mulai paham apa yang dimaksud Arum.

*


Kini aku semakin mengenalnya. Lebih dari sekedar apa yang ke luar dari mulutnya. Setelah singgahan-singgahanku, setelah kedekatanku dengan dua bocah lucu itu, setelah aku melihat sendiri...

Dia boleh mengaku bahagia dengan kehidupannya sekarang, single parent bersama dua bocahnya yang lucu-lucu. Tapi tak seluruhnya benar!

Sekuat apa dia? Sendirian mencari nafkah, membesarkan putri-putri tercinta. Mengawasi, mendengar keluhan mereka, mengatasi segala masalah.., semuanya, sendirian! Dia tentu letih. Lahir dan batin. Dan dia berpura-pura!!

Dia tertidur di karpet ruang tengah di depan tivi. Masih dengan baju yang tadi dikenakannya di kantor. Kami baru selesai pukul 10 tadi dan aku mengantarnya pulang. Begitu tiba, dia langsung menggelosor di karpet sementara aku mengecek Arum dan Kintan di kamarnya. Begitu kembali kulihat dia sudah terkulai. Dengkurannya terdengar lembut dan halus. Dia letih sekali. Aku menatapnya lama-lama. Kusingkirkan helaian rambut yang menutupi pipinya. Sangat perlahan. Aku melihat bibirnya tersenyum, sementara lelapnya telah begitu jauh membawanya...

*


“Kamu boleh bilang, tak perlu sosok laki-laki. Kamu boleh bilang, kalian sudah berbahagia! Kau yakin?”
Ia menatapku.

“Figur laki-laki tak harus mereka dapatkan dari sosok ayahnya. Anak-anakmu, punya om? Punya pak de, punya pa’cik, punya.., siapapun laki-laki di keluarga besarmu! Tautkan silaturahmi mereka dengannya. Anakmu akan merasa sangat kaya, dikelilingi oleh keluarga besar yang mengasihinya!”

Dia terdiam. Tertunduk memainkan kerikil di kaki-kakinya. Aku tahu dia resah. Segala hal yang berhubungan dengan permata-permatanya selalu membuat Ibu muda ini khawatir. Dia memiliki kekhawatiran yang berlebihan dan aku bisa memakluminya. Dia tak pernah ingin anak-anaknya bersedih. Segala usaha dia lakukan untuk membuat anak-anaknya bahagia. Dia harus menebus kesepian anak-anaknya, dengan membagi jiwanya, lentur bagai karet. Sebelah menjadi ibu, sebelah menjadi ayah. Dia hampir berhasil!

“Apa arti perjuanganku selama ini..??” lirih sekali suaranya.

Kemarin, tak diduga-duga, Arum keceplosan bicara, “Arum pingin ada papa. Papa yang mana aja. Bosan cuma bertiga terus. Memangnya Mama bisa melindungi Arum dan Kintan, kalau Mama aja takut sama suara petir!”

Di sinilah Maurin, di hadapanku. Nampak lemah dan putus asa. Ketegaran yang selama ini ditunjukkannya lenyap. Hanya karena ‘ceplos’-nya Arum!

“Kamu bisa, Maurin! Tinggal selangkah lagi usahamu! Menautkan tali silaturahmi, agar anak-anakmu tetap mendapatkan sosok laki-laki pengganti ayahnya!”

Dia mendongak. Matanya yang selalu bersinar, nampak nanar. Untuk kali pertama aku melihatnya menangis! **



Dimuat di kumpulan cerpen majalah Kartini edisi April 2009

Tidak ada komentar: