Makin larut saja
Sementara tak juga kulihat kau ada
Angin, pekat, sinar bulan bahkan harum ilalang entah kemana
Semua diam tanpa sapa
Tak ada yang mengerti dan duga
Apa pun tentang mengapa
Memang sudah tak ada lagi geliat itu
Bahkan tangis pun hilang sendu
Mungkin airmata telah berpindah
Meredam gulana dan gelisah
Menepis rindu dan cinta
Hingga tak lagi bertahta
Hanya menunggu
Karena aku perempuanmu
Barangkali saja egomu tergugu
Meski kelebat tanpa rindu
Semangkuk balado kentang
Tumis kikil yang menantang
Serta ceplok telur yang terhidang
Terdiam utuh dan dingin tak tersambang
Bahkan secangkir kopimu
Tak terjamah, menunggu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar