Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

SESEORANG UNTUKKU

Aku masih memikirkan kata-kata Sandy sampai teh di cangkirku habis. Kemarin-kemarin aku mengabaikan segala celotehnya, tapi seminggu ini entah kenapa segala yang dikatakan Sandy mengusikku. Tepatnya nyaris membuatku bimbang. Aku mulai menyukai Sandy? Mmm.., bukan, bukan menyukai. Nggak mungkin kami bisa menjadi rekan kerja yang kompak dulu, kalau aku tidak menyukai laki-laki lajang yang lebih muda dariku 5 tahun itu! Mungkin aku mulai.. Akh! Aku yakin aku sedang kacau. Minggu deadline kadang bikin otakku agak aneh! Akhirnya aku memutuskan menghabiskan pagi ini di mejaku sampai si sulung kembali dari sekolahnya. Aku membuka emailku. Ada beberapa surat tapi aku langsung tertarik pada satu surat dengan subyek ‘Pagiku..’

‘Semburatnya tak selalu sama. Kadang keemasan dengan cahaya berkilau, kadang pula redup dengan sapuan awan hitam. Terkadang pula kicau burung riang, tapi juga tak jarang hembusan angin dingin yang menggigit. Apa dan bagaimana, pagi tetap akan datang. Dia miliku, juga milik kamu.. sayangnya kamu tak pernah sadar itu..’
Pujangga kesiangan!

Aku langsung me-replay, ‘kalau memang aku tak pernah menyadarinya, kenapa aku selalu terbangun setiap semburatnya mengintip di subuh hari?’ lalu aku tersenyum membayangkan dia membaca balasanku dengan tersenyum pula.

*

Yadi sudah siap meninggalkan meja kerjanya saat aku memanggilnya.

“Pulang?” tanyaku heran.

“Sori, Mbak. Ada janji sama yayang... Pliss??”

Aku melirik jam. Masih ada sisa dua puluh menit lagi dari jam pulang kantor.
“Liputan kemarin?” aku menadahkan tangan.

“Besok pagi pasti kelar, sumpah!”

Aku menatapnya.

“Janji, bahkan sebelum Mbak datang, laporannya sudah ada. Oke? Yayangku lagi ngambek, Mbak... empat hari nggak ketemu. Sekarang kita mau baikan, tapi syaratnya aku nggak boleh telat. Plis??”
Aku cuma menarik ujung bibirku dan kembali ke monitorku.

“Thanks Mbak Hani yang baiikk. Besok ta’ bawain coklat deh! Bye...! Senangnya hatiku hilang panas demamku...” Yadi berdendang sambil ngacir dari mejanya.

Setelah Yadi pergi, aku tercenung dengan ujung bibir yang tersungging. Membayangkan indahnya masa pacaran seusia Yadi. Itu menyeretku pada putaran waktu beberapa tahun lalu. Terus-terang, kadang aku rindu perasaan-perasaan itu. Keindahan yang sulit diuraikan dengan kata, saat aku laksana seorang ratu…! Ya, ratu, meski cuma sebentar.

*

Mataku melirik ke dinding penyekat di sebelahku. Senyum Mutia dan Dana tergambar di situ. Buah hatiku, di mana aku berdiri tegar karenanya.

Tiba-tiba layar komputerku menampakkan sebuah messenger. Sandy si pujangga kesiangan itu menyapaku. 'Seringkali yang ada di kepala tidak selaras dengan hati. Pada saat seperti itu, mana yang sebaiknya kamu pilih?'

Ada banyak hal ‘benar’ yang disampaikannya.

Aku membalasnya; Tergantung kapan hal itu terjadi….
Sandy menjawabnya dengan icon wajah nyengir. Dan tak lama messengernya bermunculan.

“Apa kabar, Pagiku??”

“Baik, Alhamdulillah..”

“Semoga pagi ini cerah dan segalanya lancar. Nulis apa?”

“Kamu pikir apa?”

“Prinsip seorang Ibu dengan dua anaknya?”

Dahiku berkerut. Kubalas pesan itu dengan mengirimkan icon wajah meledek yang menjulurkan lidah.

“Kebanggaan bukan pada apakah dia bisa melalui itu semua. Tapi apakah dia bisa mengisi itu semua tanpa meninggalkan hal yang lainnya..”

Aku menyertakan lagi icon wajah bertanya. Dan dia membalasnya; “Wake Up, Mbak! Ada sinar matahari dan kau mengabaikannya..”

Aku menyertakan icon wajah terbahak-bahak! Selanjutnya kupasang messengerku dengan ‘busy’ dan memutuskan berhenti ber- YM-an dengan pujangga kesiangan itu. Selanjutnya aku tenggelam di depan komputer. Larut, hingga dering telepon menghentikanku. Kulihat layat ponselku menampilkan nomor telepon rumah.

“Ya, siapa ini? Dede Dana atau Kaka Mutiaaa??”

“Kakak, Maaa...,” suara cempreng sulungku terdengar di sana. “Mama udah makan siang belom??”

Aku melirik jam dan tersenyum. “Iya sebentar lagi Mama pasti makan siang. Kakak sama Dede udah makan?”

“Udah, Maaa...! Tapi Dede nggak habis, tuh. Maunya main pe-es teruss.. Mbak sampe repot bujuknya.”

“Kakak dong yang bantu bujuk!”

“Dede ngambek...! Soalnya di sekolah tadi Dede dimarahi Bu Guru.”

“Lho? Kenapa? Nakal, ya?”

“Bukan! Tapi Dede nggak bikin pe-er!”

Bless. Darah yang mengalir di tubuhku serasa mendadak dingin. Kakiku lemas. Perasaan menyesal menyergapku bertubi.

“Waah.. iya, Mama lupa semalam mengingatkan kalian bikin pe-er...!”

“Kakak sih udah bikin pe-er, sendirian, waktu Mama belum pulang kerja kemarin. Kalau Dede belum..”

Semalam aku pulang sedikit lebih terlambat dari biasa. Lelah, membuat aku langsung rebah begitu tiba di rumah. Bahkan tak sempat mengecek lagi apakah anak-anak sudah membuat pe-er atau menyiapkan keperluan sekolah mereka. Dan ini bukan yang pertama Dana dihukum karena tidak membuat pe-er!

“Mama mau bicara sama Dana. Mama mau minta maaf...”

“Dana bobo, Maa.. baru aja! Ya udah, Mama jangan lupa makan siang. Nanti Kaka bilang ke Dana kalau Mama minta maaf..”

“Iya, makasih, Sayang!”

Aku tergugu. Rasanya aku tak bisa memaafkan kesalahanku.

Lalu sebuah sms muncul di ponselku. “Pagiku, makan siang bareng, ya?”

*

“Oke, cuma makan siang dengan seorang sahabat?”

Aku menatapnya setengah jengkel. Tepat pukul 12 siang dia muncul di ruanganku dan nyelonong ke mejaku.

Dia pernah bekerja di sini enam bulan lalu dan kami rekanan. Membuat dia begitu kurangajar bisa berseliweran di kantor ini, yang memang sudah begitu familiar dengannya. Dia salah satu wartawan terbaik kantor ini dulu dan semua sangat akrab dengannya. Melihat kecemasan di wajahku dia cepat-cepat berujar.

“Don’t worry, mereka semua tahu tahu dan nggak akan ada muncul komentar-komentar yang kau takutkan itu. Mbak tahu kan, aku akrab dengan semua orang, bahkan bencong di bagian dapur itu!”

Yang dia maksud bencong adalah kepala catering kantor ini, yang dulu adalah teman berantemnya. Dia memohon dengan dua tangan di dada dan akhirnya aku mengangguk.

“Yess!” ujarnya. Dan aku meninju punggungnya.

*

Tak ada yang aneh dalam persahabatan kami sejak kami masih satu kantor. Dia baik, lucu dan sangat penolong. Kepada semua orang tentunya. Tapi sejak dia pindah ke kantor lain, dia muncul di hari-hariku lewat sms, tlp dan messenger! Bukan lagi sebagai rekan kerja atau sahabat. Dia menawarkan sesuatu yang kuanggap aneh.

“Mau kupilihkan makanan pembuka?”

Aku menggeleng. “Aku nggak yakin dengan pilihan kamu!”

Dia tertawa. Siang itu akhirnya kami makan bersama.

“Sudah Desember, Mbak. Tahun akan berganti..,” ujarnya ketika makan siang kami usai dan di depan kami terhidang sepiring kecil pudding jeruk.

“Aku datang dengan tawaran yang tidak berubah!.”

Aku menatapnya sebentar. “Geblek lo! It is real life, Sandy!”

“Usiaku 32, Mbak! Laki-laki, setelah melewati 27, adalah laki-laki yang menuju real life.”

Aku menunduk. Dadaku tiba-tiba berdebar halus. Setelah enam bulan aksimu, seminggu ini segala kata-kata kamu telah berhasil mengganguku, Sandy, bisikku dalam hati.

Sandy mengetuk meja membuatku mendongak, “Mbak masih kekeuh bilang bahwa Mbak nyaman dan bahagia bersama anak-anak?"
Aku diam.

“Aku pun tetap kekeuh dengan pilihanku. Bahwa aku memilih Mbak!” ujarnya santai.

Aku meneguk lemon tea-ku. Sejak dia pindah kantor aku benar-benar baru sadar kalau laki-laki geblek ini keras kepala!

Sebagai rekanan saat itu, aku bersahabat baik dengan Sandy. Dan sebagai rekan kerja kami seringkali makan siang bareng atau sekedar ngopi di kafe sebelah kantor setelah deadline. Ketika Sandy hengkang dari kantor ini, persahabatan kami masih berlangsung baik, meski nyaris tak pernah lagi makan bareng. Merasa sudah sangat tahu tentang aku, tiba-tiba dia dengan nekadnya memilih untuk melabuhkan cinta padaku enam bulan yang lalu! Sinting! Aku single parent dengan dua anak yang masih kecil-kecil sementara dia bujang dengan karir cemerlang!

“Apa yang salah?” tanya dia waktu itu, “aku sangat mengenal Mbak dengan baik dan aku menyukai anak-anak Mbak. Umur? Karir? Bibit, bebet, bobot?”

“Ya, kalau kamu belum sinting, kamu pasti udah mikirin hal-hal itu!”

Aku menyuruhnya introspeksi dan memikirkan lagi segala ucapannya, hingga kami tak ada kontak selama tiga minggu. Hebatnya kemudian messenger, sms dan tlp-nya muncul lagi dan semakin bertubi-tubi. Sopan. Tapi tetap bagiku tak layak! Bagiku dia brondong sinting yang mengejar janda beranak dua dan lebih tua darinya 5 tahun! Nekat!

“Aku sudah memikirkan semuanya. Dan Mbak memiliki semua yang ada di benakku!” Sandy selalu bilang begitu.

Ah... Geblek bener dia!

“Tambah ya, lemon tea-nya?”

Aku tergelak. Meredakan debar di dadaku membuatku tak sadar kalau aku sudah menghabiskan isi gelasku!

“Pudingnya enak!” Sandy berkata dengan mulut penuh dan mengangsurkan piring puding ke depanku. “Coba..?” Dia membawa potongan puding di atas sendok ke arah mulutku!

Aku menggeleng, tapi sendok itu tak berpindah. Akhirnya aku pasrah disuapi begitu! Agak risih, malu, tapi diam-diam aku menikmatinya. Terutama saat Sandy menyentuh rambutku yang jatuh ke dahi dengan ujung jarinya. Sial!

“Oke, begini aja..., kita mulai dari awal. Bahwa aku sahabat Mbak.., mm.. kita buang sebutan Mbak, ya? Kan aku bukan bawahanmu lagi..!” Sandy tersenyum, “bahwa aku sahabatmu. Aku datang dengan segenap hati dan tujuan baik.., kumohon buka pintu hatimu. Lihatlah bahwa kamu sudah melewati dua tahun yang sepi!”

Aku menggeleng meralat kalimatnya.

“Oke, dua tahun yang.. hanya bersama anak-anak!” ujar Sandy lagi. “Aku tahu kamu kuat dan bisa. Tapi apa salahnya kalau aku datang untuk membantumu melalui hari-hari kalian yang beraneka warna. Apa salahnya aku datang sebagai pelengkap. Aku tak bisa menggantikan posisi siapapun di hati kamu dan anak-anak, tapi aku bisa menempatkan posisiku sebagai teman kalian. Kumohon..!”

Ini yang ketiga kalinya kalimat itu keluar dari mulut Sandy, tapi untuk yang pertamakalinya dia memohon di atas lututnya! I’m beg on my knee, sebuah kalimat indah yang nyaris sudah aku lupakan! Aku meleleh. Tapi aku harus teguh.

“Jangan terlalu jauh berpikir. Kita ambil santainya aja, ok?!” Sandy tahu betul kalau aku tegang. Sumpah dia sangat tahu hampir segala hal tentang aku! “Selama aku, kita, bisa menjalani ini bersama-sama, lets do it! Kita isi kesempatan yang ada dengan hal-hal baik, karena aku datang untuk menemani kalian bukan untuk semakin mengacaukan hidup kalian!’

Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari Mutia, putriku.

“Mama udah makan siang?? Jangan sampai hari ini Mama telat makan lagi karena kesibukan Mama. Mama tahu, Mama harus punya teman baru untuk mengingatkan makan siang, juga mengingatkan aku dan Dana bikin PR!”

Mataku basah. Aku boleh lantang berkata bahwa dua tahun lebih akulah wanita perkasa. Tapi kalimat Mutia telah membuat aku lunglai.

“Ayo, habiskan pudingnya! Lalu kamu harus kembali ke kantor, Pagiku!” Sandy menyodorkan lagi sendok ke arah mulutku. Dan matanya telah begitu sarat kasih sayang saat aku menatapnya. Memancarkan kedamaian yang selama ini dia janjikan.

Pulang ke rumah nanti, aku mungkin akan berkata pada Mutia dan Dana. Bahwa Mama mereka adalah wanita perkasa. Tapi Mama mereka memang perlu seseorang untuk membantu mengingatkan mereka bikin PR!**


Di muat di majalah Kartika edisi 71, Juni 2009
Untuk permata-pemataku....

Tidak ada komentar: