Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

Tiga Wanita di Angkot

Kemarin, di sebuah pertigaan dekat Pasar Cileduk, tiga wanita naik ke angkot yang membawaku ke Cileduk. Aku dalam perjalanan menuju kantor pagi yang terang benderang itu. Tiga wanita paruh baya itu, masing-masing membawa kresek berisi buah pisang. Tidak banyak. Tapi untuk ukuran mereka, tentulah berat membawa kresek penuh pisang, mungkin masing-masing kresek berisi 3-4 sisir pisang. seorang di antaranya nampak jauh lebih tua lagi usianya. tubuhnya sudah membungkuk. Kulit muka dan tubuhnya jauh lebih kriput dibanding dua wanita lainnya. Entah apakah mereka bersaudara atau sekedar tetangga yang berbelanja bersama. Di dalam angkot ketiganya berbicara degan logat Betawi. Lucu, karena salah satunya ada yang 'ngedumel' dengan bahasa Betawi yang kental. Mereka masih sangat sehat. Wajahnya cerah. Gerakannya pun masih gesit untuk ukuran usia mereka yang aku perkirakan 60 tahun (untuk dua wanita yang lebih muda) dan 70 tahun (untuk 1 wanita yang lebih tua). Mata tua mereka berpendar cerah. Tak ada beban di sana. Aku yakin mereka berbahagia. Kenapa? Cara mereka bercengkrama dan membahas sesuatu begitu santai dan 'elegan'. Elegan? Ya, karena tak ada keluhan di dalamnya meski ada kalimat, "nih kite belanja pisang ndiri yak? Ke mane sih si Ntong ntu? Dasar maen mulu... Nih pisang kan buat acaranye die." dan yang lain menimpali, "biarin aje, ntar kite suruh die mijitin kite." Lalu ketiganya tertawa bersama.

Indahnya...

Aku teringat ibuku. Usianya akan 60, Agustus tahun depan. Tetapi sepanjang 10 tahun terakhir, ibuku sering mengeluh sakit ini-itu dan wajahnya tak berseri seperti mereka. Ibuku memang banyak menderita sepanjang hidupnya.
Ah, aku berharap masih sempat membahagiakannya...

Di pertigaan Cileduk, tiga wanita itu turun. Aku juga. Meski tubuhnya bungkuk, wanita yang paling tua itu tak membutuhkan bantuan saat akan turun dari angkot, dia hanya sedikit berhati-hati melangkah. Dua wanita yang lain berulangkali mengingatkan, "Emak Haji, ati-ati. Emak Haji, awas jatuh!" Mendengar sebutan itu aku berkesimpulan mereka hanyalah tetanggaan.

Mereka pergi ke arah berbeda dengan arahku. Aku melanjutkan dengan bus menuju kantor.
Di dalam bus, bayangan tiga wanita itu berpendar di mataku.

Semoga ibuku selalu sehat, berbahagia, sama seperti tiga wanita itu. Semoga masa tuaku kelak juga sehat dan berbahagia, meskipun ukuran bahagia itu sendiri berbeda untuk setiap orang.

Amin...

Tidak ada komentar: