Terkadang aku merasa sudah sempurna dengan keadaanku sekarang. Sempurna untuk diriku sendiri, tetapi aku tidak tahu apakah sudah sempurna untuk orang lain, terutama anak-anakku. Kami hanya bertiga di rumah. Aku dan dua putri cantikku. Aku berbahagia, meski harus membanting tulang sendirian dan menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anakku. Aku mendampingi mereka mengerjakan PR, bermain, mendongeng sebelum tidur dan mendekap mereka saat mereka ketakutan atau bersedih. Dekapan itu sekaligus juga mengusir ketakutan dan kesedihanku sendiri.
Aku merasa baik-baik saja. Pun ketika Hari Ibu aku hanya mendapat pelukan dan hadiah kecil dari dua putri cantikku itu. Merekalah surgaku.
Sampai kemudian saat seorang teman 'menculikku' untuk menonton film The Next Three Days.
Film yang akhirnya membawa emosiku pada sebuah bentuk 'kehilangan' atau 'tak sempurna'.
Film itu menceritakan perjuangan seorang suami dalam membela istrinya yang didakwa membunuh seseorang. Si suami sangat mengenal siapa istrinya, hingga dia melakukan berbagai cara 'ajaib' untuk bisa membebaskan sang istri, belahan jiwanya. Cinta yang begitu besar. Yang membawaku menitikkan air mata dan keadaan bahwa sesungguhnya aku kehilangan sosok itu. Sosok hero dalam rumah tanggaku, dalam rumah kami, dalam hati kami, aku dan anak-anakku.
Baiklah, aku tak boleh terbuai... Itu hanya sebuah film, bukan.
Tapi sekali lagi, aku harus mengakui, aku tertohok.
Selesai menonton film itu, aku terdiam.
Kesunyian pelan-pelan melingkari, pun ketika aku tiba di rumah.
Memeluk dua bocah kecil yang menyapaku berebutan. "Mama pulaaaang.... aku senang Mama pulang. Ada Mama hatiku senang, tenang dan aman," ujar Kaka. Dede melanjutkan, "Tadi hujan besar, Ma. Takut... Sekarang ada Mama, biarpun ada gledek, Dede gak takut lagi. Kan bisa peluk Mama."
Baiklah, aku tak boleh terbuai lagi. Aku adalah hero untuk mereka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar