Pemimpin, adalah panutan dari sebuah elemen. Bukan hanya ide-ide-nya yang cemerlang serta kecerdikannya membangun dan mengayomi. Tapi dia juga harus pandai beradaptasi dan bersilaturahmi. Bagaimana dia bisa menjadi pimpinan kalau bicara saja tidak bisa? Bagaimana dia bisa menjadi tokoh yang berwibawa kalau bicara saja dia sangat sulit?
Ada banyak pemimpin yang ternyata tak pandai bertutur secara alamiah tanpa teks. Di negeri ini mungkin hanya Soekarno, bagi aku, satu-satunya pemimpin yang sangat lihai membangun semangat persatuan dan kesatuan rakyatnya lewat orasi dan pidatonya yang seringkali dia lakukan secara alami, spontan dan tanpa bantuan sekretaris untuk menyusun naskahnya.
Bukan hanya pemimpin negara. Pemimpin, di manapun dia, adalah jiwa yang magnit. Mampu menghipnotis pengikutnya. Sekali bicara, kata-katanya didengar dan diresapi.
Film yang aku tonton ini, The Speech Kings, benar-benar menyentuh hatiku, bagaimana seorang raja (di film itu dia menjadi raja Inggris dan seperti kita tahu, tahta raja di sana adalah turun temurun) membangun simpatik rakyatnya lewat pidatonya -yang meskipun harus lewat teks yang dibuat para ajudannya.
Dia adalah raja yang gagap, yang hanya bisa bicara di depan keluarganya sendiri tapi tak pernah berhasil bicara di depan umum, pun lewat ruangan pribadi yang tertutup yang bahkan hanya orang kepercayaannya saja yang ada di depannya. Melalui corong suara, kata-katanya didengar oleh jutaan rakyatnya. Toh dia adalah seorang gagap yang harus banyak berlatih untuk menimbulkan rasa percaya dirinya dan melupakan sakit 'gagap'nya. Dia berhasil melalui itu semua berkat percaya diri yang ditularkan seorang aktor yang juga ahli terapi bicara.
Bicara, untuk didengarkan.
Bicara, untuk menyalurkan energi positif.
Bicara, untuk memberikan pengayoman.
Raja.
Bicara raja adalah mutlak.
Bicara pemimpin adalah petunjuk mata angin.
*nonton yang kedua bersama Ariel, bahkan aku tak pernah tahu bahwa saat itu adalah permulaan...*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar