
Suaramu sudah melengking panjang memanggil permata-permatamu untuk segera menyingkirkan selimut. Menggerakkan geliat yang melahirkan lenguhan manja dan protes, “Sebentar lagiii, Ma‘¦.!” Lalu suara kalian sambung-menyambung bersahutan. Dua gelas berisi susu dan segelas teh panas sudah kau hidangkan sebelum kursi-kursi itu berpenghuni. Sambil memotong martabak telur, kau akan melengking lagi memanggil-manggil. Sepuluh menit kemudian lengkinganmu menjadi rentetan mercon yang benar-benar memekakkan telinga.
“Coba cari sebelah kaus kakimu, Kiran! Fitri, jangan main bedak! Lekas pakai seragammu‘¦! Kiran, masih belum ketemu kaus kakinya? Ya, ampun‘¦ kemarin kamu letakkan di mana? Selalu saja kaus kaki hilang sebelah. Ayo, pakai saja kaus kaki yang lain, tapi pulang sekolah nanti harus kau letakkan lagi di tempatnya! Nggak disiplin! Fitrii..?? Belum selesai juga dengan bedakmu? Kamu akan ketinggalan jemputan sekolah!”
Aku benci ritual pagi seperti itu. Kepalaku bisa mendadak pecah. Aku sering menutup kepalaku dengan bantal atau malah bangun sekalian dan pergi mandi. Duduk di meja menikmati sarapan dengan mata masih terkantuk, sementara permata-permata itu berlarian memperebutkan kotak bekal makan siang!
“Aku mau yang pink! Ini punyaku!”
“Tapi kemarin Dede sudah pakai yang pink, sekarang giliran Kakak!!”
Kau menggebrak meja! Hampir saja garpuku terpental!
“Sudah!” katamu dengan gemas. “Habiskan sarapan kalian! Papaaaa‘¦?? Kok bisa sih, sarapan sambil merem?”
Biasanya aku meletakkan garpuku dengan kasar, menghabiskan teh panasku dan segera beranjak. Aku tak pernah tahan dengan ritual pagi seperti ini! Dan kau ngotot. Protes karena aku tak memberikan kecupan sebelum pergi ke kantor. Berapa lama itu berlangsung‘¦ Aku tak pernah paham. Protes-protesku akan bersambung dengan bantahanmu. Perlahan, semua itu membuatku tak lagi nyaman.
(Dimuat di Jurnal Nasional, 11 April 2010. Baca selengkapnya, klik judul di atas......)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar