Mengenai Saya

Foto saya
Simpang-siur... Kadang2 bikin bete. Tapi sebenarnya bisa jadi teman yang mengasikkan. Sebagaimana Virgo, aku itu perasa dan pencemas. Itu yang seringkali bikin aku panik, meski herannya di kesempatan lain aku bisa sangat easy going.....

BAGAI KERLIP BINTANG

Prolog

Kalau saja bisa…

Wina menarik napas dalam-dalam. Memberi rongga pada pepat dadanya. Tapi terlalu sesak, hingga rasanya ia tetap sulit bernapas.

Kalau saja bisa…

Ingin sekali ia menghilang dari tempatnya ini. Tiba-tiba berada di kamarnya, membiarkan segala sakit yang ia rasa membeludak keluar lewat derai tangis.

Tapi dia masih di sini, dengan gaun ulang tahunnya di sebuah kafe yang dipilih Kim untuk ulang tahunnya. Susah payah menahan perih dadanya dan berusaha agar tidak menangis.

“Maafkan aku.”

Wina terpaku mendengarnya.

“Tak bermaksud menyakitimu. Aku sudah berusaha agar malam ini kita bisa bersama. Tolong, pahami. Lili sangat membutuhkanku.”

Wina masih terpaku.

“Aku tak punya pilihan lain. Aku harus pergi. Selamat ulang tahun, kutelepon malam nanti.”

Tangan kekar itu membelai rambutnya sebelum mengecup keningnya. Lewat sudut matanya yang mulai basah, Wina melihat sosok itu beranjak meninggalkannya. Saat sosok itu benar-benar menghilang, Wina tergugu.

*

“Menyenangkan juga ya, jalan sama kamu.”

Mata teduh Kim memandangnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang baru ia temukan di sana.

“Dulu kita kan sering jalan sama-sama. Pulang sekolah bareng, pergi les bareng, sampai kumpul-kumpul di warung baksonya Bu Suti. Lupa?”

Kim cuma manggut-manggut.

Tiba-tiba Wina merasakan dadanya berdebar aneh. Apa lagi saat jari-jari Kim merapikan anak rambut yang tejatuh di keningnya. Ia menjadi kikuk tiba-tiba.

“Apa kamu tidak merasakan itu?”

Wina meringis, pura-pura tidak mengerti.

“Masa, sih?” desak Kim, “Mm, waktu es-em-pe dulu kamu suka aku kan?”

Wina gelagapan. Ditatapnya Kim dengan marah.

“Sok tahu!”

Kim malah tersenyum menang. “Aku tahu kok! Kelihatan dari matamu!”

Wina ternganga. Merasakan wajahnya panas. Dikejarnya Kim yang sudah menjauh dan meledeknya.

*

“Dia sombong, ya?”

Wina mengamati sosok tinggi yang punya mata teduh namun dingin itu. Ditambah sepasang alis tebal yang kian menunjukkan keangkuhan.

“Nggak juga!” bela Roy, “Kelihatannya aja begitu,. Tapi kalo kamu sudah kenal dia, kamu pasti berpendapat sebaliknya. Dia asik!”

Wina meragukan ucapan Roy. Cowok gunung yang pendiam yang tidak peduli pada gadis manapun itu, menyenangkan? Tapi sungguh, Wina menyukai tatapan dingin berkesan tak peduli itu. Ada sesuatu yang ia bisa rasakan di situ. Namun dia bukan model cewek yang suka mengejar dan mencari perhatian. Tatapan tak peduli Kim dilihatnya sebagai sebuah isyarat, agar tak berharap dan menjauh. Wina pun memalingkan wajah, mengayunkan langkah dan dekatlah ia pada Roy, sahabat satu geng dengan Kim.

Menjadi pacar Roy malah membuka jalan untuk lebih mengenal Kim. Wina hampir selalu berada di dekat Roy, termasuk saat Roy berkumpul bersama gengnya, dan pastinya selalu ada Kim. Tiap pulang sekolah, pergi les atau sesekali berkumpul di warung bakso Bu Suti. Roy benar, di balik tatapan tak peduli Kim, Kim adalah seorang sahabat yang baik dan menyenangkan.

Sampai lepas masa SMP. Sampai hubungannya dengan Roy terputus karena mereka berbeda SMU. Tapi hubungan persahabatannya dengan Kim malah terus berlanjut. Sebagai sahabat Kim justru sering meneleponnya, berkunjung ke rumahnya dan terkadang mereka keluar untuk jalan-jalan. Benar kata pepatah, Sahabat tak kenal kata putus. Semua berjalan manis. Kadang Kim menghilang tanpa berita dua bahkan empat minggu, lalu tiba-tiba telepon darinya berdering dan dia ada di depan pintu rumahnya lengkap dengan ucapan-ucapan jahilnya. Begitulah Kim.

Sampai kemudian Kim benar-benar menghilang, melanjutkan kuliahnya di seberang. Wina merasa kehilangan. Tapi tak terlalu memikirkan karena saat itu ia sibuk dengan Ardy, pacar barunya.

Sampai bertahun kemudian. Saat segala rasa telah berubah, saat segala kenangan masa kecil berarak terbang terbawa angin, tiba-tiba Kim muncul lagi.

Reaksi pertama saat menerima teleponnya adalah satu kalimat umpatan.

“Kalau memang mau menghilang sekian lama, kenapa mesti tanggung-tanggung? Hari gini baru menghubungi aku!”

Kim cuma tertawa. Tawa yang sungguh berbeda dari Kim kecil dan Kim remaja. Dan Wina baru menyadari betul-betul, bahwa sosok yang kemudian berdiri di pintu rumahnya, tepat di depannya itu, adalah sosok dewasa yang mampu membuatnya terpaku!

Alangkah berbedanya. Sorot mata itu tak sedingin dulu. Tidak juga berkesan tak peduli. Mata teduh yang terlindung oleh sepasang alis tebal menukik itu begitu hangat menatapnya. Dan tawa itu, Wina berani bersumpah, akan ada banyak gadis yang meleleh karenanya!

“Masih mengenaliku?” mata itu berkejap nakal, “Kalau ya, tolong persilakan aku masuk. Kalau tidak, ayo kita pergi jalan-jalan?”

“Kim?”

“Kuberi waktu satu menit!”

Wina masih dalam keterkejutannya. Tak mempercayai penglihatannya. Untuk yang pertama kali setelah sekian lama ditelan bumi, sosok itu tiba-tiba meneleponnya kemarin, dan sekarang, bagai disulap, dia sudah ada di depannya lengkap dengan penampilannya yang berbeda!

“Waktumu habis! Terpaksa kamu kuculik! Ayo, kita jalan-jalan saja!”

Sore itu adalah sore ‘mengejutkan’ bagi Wina. Dari kemunculan Kim yang tiba-tiba, tatapan aneh Kim, gerak jari-jari yang merapikan anak rambutnya, sampai kalimat kurang ajar termanis, ‘waktu es-em-pe dulu, kamu suka aku, kan?’

*

Entah apa yang terjadi.

Berhari-hari kemudian Wina mengulas itu diam-diam. Uraian waktu yang telah mengubah rasa itu menjadi kedekatan yang manis sebagai sahabat. Ia bahkan hampir lupa bahwa ia pernah menyukai Kim. Hari-hari manis masa SMP dan SMU telah menempatkan kondisi mereka bagai sahabat.

Tapi mungkin dia salah. Di hari pertama kemunculan Kim itu, sesuatu tiba-tiba terbersit di sudut hatinya, tak terduga. Sesuatu yang semula dianggapnya sudah tak ada lagi. Sesuatu yang malah mengingatkannya, bahwa dulu, pernah ada rasa.

Wina memandang wajahnya di cermin. Ada bayang Kim di sana. Sekarang dia sungguh-sungguh ingat, warna akan rasa yang pernah ia punya itu. Pernah? Atau masih?

Disaksikan puluhan bintang-bintang di atas sana, semalam Kim menggenggam tangannya hangat.

“Aku tak pernah tahu, kenapa aku datang padamu,” ujar Kim memulai. “Kamu adalah orang yang masuk dalam daftar pertama yang ingin aku temui saat aku menginjak kota ini lagi.”

Mungkin bintang-bintang di atas sana berkelap-kelip meledeknya. Wina merasa dadanya penuh.

“Aku menyesal, pernah mengabaikan matamu!”

Wina merutuk. Mata memang tak bisa berbohong. Ternyata dulu Kim sempat menangkap sinyal itu!

“Kita masih terlalu kecil saat itu, Wina. Aku tahu yang berpendar di matamu saat itu adalah sesuatu yang indah. Tapi aku tak peduli. Baru kusadari aku kehilangan sinar di matamu, saat aku berada jauh darimu.”

“Perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadarinya?” rajuk Wina, “Padahal di sini justru aku sudah melupakannya!”

“Tapi persahabatan kita, sungguh indah ya?”

Wina mengangguk. “Kamu sahabat yang baik!”

Kim menatap Wina. Lewat matanya dia ingin meralat ucapan Wina. Perlahan tangannya terulur. Merengkuh bahu Wina lembut.

“Bagaimana kalau.., sahabat istimewa?” bisiknya setengah meledek. “Sekarang aku sudah di sini dan kita bisa terus bersama-sama.”

Wina tertegun. Bukan oleh ucapan Kim. Tapi oleh gemuruh hatinya yang kian hebat.

*

Entah apa yang terjadi.

Hari manis itu terulang. Tapi nuansanya benar-benar berbeda. Mereka masih berebut omong tak mau kalah. Masih cekikikan mengkritik sesuatu yang aneh yang dilihat mereka. Masih saling meledek, melontarkan umpatan dan makian-makian manis saat bercanda. Tapi nuansanya sungguh amat berbeda.

Entah apa yang terjadi.

Karena nyatanya Wina atau Kim kerap menguraikan kata rindu. Lewat sinar mata mereka, lewat sentuhan… dan bintang-bintang di atas sana menyaksikan.

Suatu kali nuansa itu tergores. Kalau saja saat ini nuansa yang mereka punya masih semurni dulu, pernyataan Kim mungkin bukan sebuah petir di telingan Wina.

“Aku tak bisa, maaf!”

Sore itu entah kenapa Wina mendesak untuk bertemu. Tidak bisa besok atau lusa. Dia benar-benar ingin bertemu Kim saat itu juga.

“Tapi kenapa?” kejar Wina, karena tak biasanya Kim menolak.

“Aku harus bertemu Lili.”

“Siapa?”

Beberapa saat hanya tarikan napas yang terdengar di horn telepon, sebelum Kim berujar dengan cemas.

“Pacarku!”

Kalau saja nuansa itu masih sama seperti saat SMP atau SMU dulu, Wina pasti akan terpekik; “Apa? Pacar? Kamu bisa punya pacar? Huahaha..”

Tapi nuansa itu terlanjur berbeda. Nuansa yang mereka ciptakan sendiri tanpa menyadarinya.

Ada yang tertusuk di hati Wina. Kim juga menyadari, tapi dia tak bisa berbohong, dan untuk hal itu dia mengutuki diri.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka selama ini? Tak pernah terlintas kalau Kim hanya memanfaatkan waktu luangnya! Tapi Wina cukup berbesar hati untuk menghibur dirinya. Menyadari bahwa memang tak pernah ada komitmen di antara mereka. Ah, bukankah cinta hadir apa adanya? Cinta tak perlu komitrmen. Cinta bukan sebuah aturan. Dia hadir untuk membahagiakan dan mendamaikan.

“Lili baru kembali dari study-nya di luar.”

“Oh!” Cuma itu yang keluar dari bibir Wina. Selanjutnya dia memilih menutup teleponnya.

*

Entah apa yang terjadi.

Harusnya dia lupakan nuansa itu. Malah kalau bisa mengembalikannya pada warna semula saat mereka kecil dulu.

Saat Kim muncul dengan mata penuh sesal dan bersalah, Wina malah menyambutnya dengan ketulusan pada senyumnya.

“Aku menyayangimu. Berbeda warnanya dengan saat kita kecil dulu. Sebelum bertemu lagi denganmu, aku sudah punya Lili. Entah aku harus bagaimana. Tapi jangan katakan kalau aku memanfaatkan kesendirianku untuk mendekatimu. Itu salah! Untuk saat ini aku tak bisa meninggalkan Lili, tapi aku juga tak ingin melepaskanmu.”

Tidak nyaman memilih pada kondisi menyulitkan. Wina tak sampai hati men-cap Kim sebagai pengecut. Ia lebih memilih membela Kim dari pada mengasihani dirinya sendiri.

“Aku mengerti!” ujarnya. Detik berikutnya dia terpana oleh ucapannya sendiri.

“Aku tak ingin menyakitimu. Aku sayang kamu!”

Wina memilih untuk terbuai dengan kalimat itu daripada berdebat dengan logika dan akal sehatnya. Cinta memang buta. Dalam kegelapannya dia membiarkan semua mengalir bagai air.

Sampai detik ini. Sampai puluhan minggu berlalu dan ia masih berada pada kondisi yang sama. Menyintai Kim tanpa tahu siapa dirinya bagi Kim. Dia berusaha menghibur dirinya saat mendapati Kim sibuk bersama Lili dan cukup merasa senang saat Kim datang padanya.

*

Suatu kali dalam hidup, kita akan merasa lelah dengan apa yang tengah kita hadapi. Tapi cinta yang Wina punya begitu besar. Saat lelah itu hampir menyentuh batinnya, ia cepat mengusiknya. Tak pernah terpikirkan bahwa segalanya ada batasnya.

“Ini ulang tahunku! Kumohon kita bisa bersama-sama,” pintanya di telepon.

“Kuusahakan!”

Mereka punya tanggal kelahiran yang berdekatan. Hanya saja saat ulang tahun Kim kemarin lalu, Kim memilih bersama Lili. Sisa malamnya baru dihabiskan untuk menelepon Wina. Dan lagi-lagi Wina menghibur dirinya sendiri. Kim bisa jujur padanya tentang Lili, tetapi tak bisa jujur pada Lili tentang dirinya. Apakah itu berarti Kim lebih mempercayai bahwa dirinya begitu kuat? Entahlah. Hatinya terlalu gelap untuk mencerna.

Kim datang memenuhi janjinya. Dengan setangkai Mawar Merah yang disodorkan ke depan Wina dan kecupan hangat di kening. Dengan gaun termanis yang disiapkan khusus untuk ulang tahunnya, Wina menyambut sosok terkasih itu dengan suka cita.

“Selamat ulang tahun. Aku sayang kamu!”

Hati Wina meluap. Mampu membuatnya lupa bahwa ia hanya memiliki sedikit saja hati Kim.

“Bunganya indah, terima kasih. Aku siapkan minum dulu. Eh, ya, aku bikin kue yang enaaak…”

“Tidak usah, Wina. Kita langsung ke kafe saja. Yuk!”

Wina tidak peka pada sikap Kim yang terburu-buru itu. Dan malam itu Wina terlalu menikmati luapan hatinya hingga tak menyadari kalau sorot mata Kim lagi-lagi melirik arloji. Saat Wina asik dengan fruit punch-nya, Kim malah setengah mati merasakan tempat duduknya panas.

“Kita pulang?”

Wina terkejut. Baru jam delapan. Minumannya saja belum habis. Pemain musik di atas pentas itu saja baru akan memulai aksinya.

“Bisa kita lanjutkan besok!”

“”Tapi..,” Wina tertegun. Mendapati gelisah di mata Kim sekaligus rasa bersalah. Mendadak hatinya ngilu.

Ponsel Kim berbunyi. Ia beranjak untuk menerima teleponnya. Wina tersadar. Dia perlu segera menabahkan hatinya. Kim kembali beberapa menit kemudian. Dia duduk menatap Wina. Tak perlu penjelasan apa-apa, Wina segera tahu apa yang akan ia dengar. Tapi lagi-lagi hatinya begitu gelap. Dia masih saja berharap keajaiban datang. Ini ulang tahunnya. Kim tak akan merusak malam ini! Kim tentu lebih memilih bersamanya!

Sedetik, dua detik. Wina menahan napas. Menghimpun seluruh kekuatan hatinya. Dia masih sangat berharap!

“Maafkan aku!”

Wina tertegun. Menatap mata Kim sebentar lalu cepat-cepat berpaling. Takut kalau mata itu memberitahu lebih dulu apa yang selanjutnya akan dia dengar.

“Malam ini aku memilih bersamamu…”

Tapi? Wina menelan ludah.

“Kuusahakan aku ada bersamamu, meski waktu yang kupunya amat sempit. Aku berjanji pada Lili untuk menemaninya. Dia sakit. Tidak parah, tapi aku harus…”

Wina menggeleng lemah. “Ini ulang tahunku, Kim!”

“Itulah, kenapa aku sempatkan ke sini, Wina!”

“Tolong bersamaku..”

“Sudah!”

“Aku tak ingin mendengar namanya malam ini. Untuk malam ini saja.”

Kim menggenggam tangannya. Ponselnya kembali berbunyi. Kim tak menjawabnya. Malah menatap Wina lama.

“Maafkan aku. Aku sudah berusaha bersamamu malam ini. Tolong, Wina. Mengertilah!”

Ternyata dia salah! Kim memilih merusak malam ini. Seluruh tubuhnya lemas, membuatnya tak berdaya.

“Kuharap kamu berubah pikiran.”

Tapi Kim menggeleng. Meluluhlantakkan hati Wina. Wina tak berdaya.

Kalau saja bisa… ia ingin terbang, berada di kamarnya. Menumpahkan tangisnya…

*

Epilog.

Wina menyudahi tangisnya. Menghimpun segala kekuatan untuk bisa berdiri dan mengangkat wajah. Meninggalkan kafe itu dengan segala perih.

Tiba di kamar yang ia lakukan adalah meraih Mawar pemberian Kim. Menyiumi harumnya. Dalam sakit yang sangat ia bertekad menyudahi semua. Termasuk masa kecil mereka.

Lewat jendela kamarnya kerlap-kerlip bintang menyentuh manik matanya. Gemerlapnya malah membuatnya semakin sendirian. Dalam lelahnya ia tertidur.

Wina baru terjaga saat ponselnya berbunyi.

“Belum tidur?” sapa Kim.

“Sudah. Terbangun oleh teleponmu.”

“Maaf.”

“Tak apa!”

Oh! Bagai tak terjadi sesuatu. Ia mengutuk dirinya. Kenapa ia harus punya cinta yang begitu besar pada sosok ini?

“Maafkan aku, ya. Aku cuma ingin bilang, aku sayang kamu. Sekali lagi, selamat ulang tahun.”

“Terima kasih!”

Dia bahkan tak mampu menolak telepon itu, apalagi memaki.

Dan bintang-bintang di atas sana masih berkelap-kelip. Seakan mengejeknya. Entah apa yang terjadi. Tapi lagi-lagi kepalanya menggeleng saat sudut terdalam hatinya mendesak untuk memusnahkan bayang sosok itu. Tidak. Dia terlalu menyintai Kim! **


(dimuat di majalah HP 1997)

CERITA CINTA MELAN

Bentar lagi Melan akan melewati rumah Dudu. Hatinya dag-dig-dug nggak karuan! Mudah-mudahan Dudu lagi ada di depan rumahnya. Lagi baca koran, kek. Lagi ngejemur, kek… yang penting Melan bisa ngeliat wajahnya. Meski kata orang-orang Dudu kayak sekoteng, tapi bagi Melan Dudu ganteng. Meski kaca mata besar dan tebal bikin hidung pesek Dudu tenggelam, bagi Melan Dudu tetap Glen alienskie-nya. Seharian tadi Melan nggak ngeliat Dudu di sekolah. Makanya pulang kursus masak, dia bela-belain lewat depan rumah Dudu, meski itu berarti dia harus muter jauh. Dia pingin banget ngeliat arjunanya, meski cuma ujung sepatunya!
Nah, rumah Dudu udah di depan matanya. Melan melangkah lambat-lambat. Menunduk pura-pura sibuk memperhatikan tali sepatunya. Ujung matanya melirik. Mm.., nggak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah itu sepi.
Melan semakin melambatkan langkahnya. Dudu keluar doong!! Jangan ngerem aja! Cepet keluar rumah! Ngapain kek, pokoknya kamu keluar! Ini gue, ada di depan rumah loo...!
Blasshh!! Doanya terkabul. Pintu rumah Dudu terbuka dan muncul sesosok yang dirindukannya. Tu dia arjunanya! Eit, tapi.. siapa yang menyusul di belakang Dudu? Mata Melan nyaris melompat keluar. Arlin! Haa...Arlin?!!
Melan mangap beberapa saat, sampai akhirnya dia tersadar dan cepat-cepat menutup mulutnya sebelum lalat masuk. Ngapain Arlin di sana?? Kaget dan sedih bercampur satu. Dudu, arjuna tercinta selingkuh!! Selingkuh? Nggak juga, kan dia dan Dudu belom pacaran... Tapi Melan tak terima kejadian ini! Melan melangkah cepat-cepat. Setengah berlari dia pulang ke rumah.

*

Nana menyolek pipi Melan. “Nggak dapet uang jajan?”
Melan tak menyahut. Membolak-balik halaman majalah tanpa ada yang benar-benar dilihatnya.
“Atau berebutan perkedel ma adik lo? Mm.., pasti ada apa-apanya nih!”
Pingiiin banget Melan curhat. Mengeluarkan segala sesak hatinya. Tapi Nana kan bocor abis. Jadi Melan cuma bisa menggeleng.
“Ya udah kalo nggak mau cerita!” cetus Nana keki. “Gue bukan sahabat lo lagi yaa..”
Melan gelisah. Cerita nggak yaa..?
Tiba-tiba Dewi muncul. Napasnya terengah, balapan dengan serentetan kalimat yang keluar dari bibirnya. “Gosip hangat! Arlin pacaran sama Dudu!”
Napas Melan berhenti. Harusnya dia nggak perlu kaget lagi, kan kemarin dia udah duluan kaget. Tapi nyatanya dia masih juga kaget. Kaget karena Dewi bisa mendapatkan berita itu!
“Apa?” teriakan Nana mengalahkan deru jantung Melan. “Jangan bikin kebohongan publik dong!”
“Bener!” Dewi mengangkat dua jarinya, bersumpah. “Gue liat mereka ngobrol di perpus.”
“Ngobrol?” teriak Nana lagi.
Kedengerannya wajar banget, dua orang beda jenis ngobrol di depan perpus. Apanya yang salah? Kecuali kalo ngobrolnya di kafe duduk berdua, atau di tempat yang sepi dan romantis, mungkin bisa dicurigai. Tapi untuk kasus ini, meski ngobrolnya di depan perpus yang notabene rame begitu, tetep aja kedengerannya aneh.
“Arlin ngobrol sama si katro??”
“Na! Nggak usah teriak-teriak gitu!” Melan cemberut memperhatikan sekelilingnya. “Lo berisik banget sih!”
“Ini berita heboh!” balas Nana.
“Eh, berarti kasak-kusuk kemarin itu bener!” bisik Dewi.
“Jadi mereka berdua udah masuk infotainment Kasak-Kusuk?” potong Nana masih dengan teriak dan muka lugu.
“Inget nggak, kemarin lalu ada bisik-bisik soal kedekatan Arlin sama Dudu?”
Melan ingat. Kira-kira tiga hari lalu ada yang bilang kalo Arlin lagi deketin Dudu. Tapi siapa yang mau percaya! Seisi sekolah ini tahu siapa Arlin, primadona sekolah ini yang cantik, pinter dan punya senyum memabukkan. Dan seisi sekolah ini juga tahu siapa Dudu, cowok berkaca mata tebal yang kutu buku dan pendiam, cupu, muka katro, dan sama sekali nggak tahu siapa itu Sandra Dewi! Jadi nggak mungkin bangetlah kalo Arlin ngedeketin Dudu kecuali kalo Arlin lagi kesambet cupid nyasar!
Dan..., bisik-bisik itu benar! Kemarin dia melihat sendiri Arlin keluar dari rumah Dudu. Lalu hari ini Dewi membawa berita itu!! Oh.., takdir menyedihkan!!
“Bisik-bisik itu benar!” ujar Dewi semakin menyesakkan dada Melan. “Tapi, pasti ada yang nggak beres!”
“Iya. Mana mungkin!” timpal Nana. “Mm.., jangan-jangan Arlin lagi nyari sensasi nih!”
“Maksud lo?”
“Arlin lagi nyari perhatian penjuru sekolah ini. Bagaimana pun hebatnya seorang Arlin, lama-lama publik akan bosan, lalu mencari sumber perhatian baru dan nggak memperhatikan dia lagi. Apa lagi sekarang ada si Wita, cewek kelas satu yang mulai jadi incaran cowok-cowok sini dan konon bakal menggeser posisi Arlin,” kata Nana mirip seorang presenter gosip.
“Ah.., nggak gitu kali! Arlin ngedeketin Dudu karena minta ilmunya. Arlin memang pinter, tapi Dudu juga lebih pinter.”
“Atau.., jangan-jangan Dudu yang ngedeketin Arlin!”
“Nonsen! Ga mungkin Katro kayak dia punya nyali deketin Arlin!”
“Mungkin aja! Namanya cowok, nggak pandang dirinya cupu, katro atau keren, ngeliat jidat licin langsung pingin!”
Dua makhluk bawel itu rebut omong, tak peduli pada Melan yang berusaha menahan perasaannya. Hati Melan remuk. Dia diam tertunduk, memainkan ujung sepatunya. Dudu...!

*

Melan jadi nggak bergairah. Kangen dan sedih bercampur jadi satu. Nggak ada yang tahu pedih hatinya. Termasuk Dudu...! Ya, Dudu nggak tahu bahwa betapa hati ini sakit dan nyeri. Iyalah.., Dudu nggak tahu kalo selama ini Melan cinta Dudu. Dudu nggak tahu kalo selama ini Melan sangat merindukan Dudu. Padahal Melan sudah berusaha memberi sinyal-sinyal cinta, yaitu sering lewat depan rumah Dudu, sering berlama-lama mandangin Dudu, sering kirim-kirim senyum untuk Dudu, juga pernah kirim salam lewat teman sebangku Dudu. Tapi dasar Dudu tulalit dan terlalu katro, sampai detik ini Dudu nggak ngerti sinyal cinta Melan! Nggak ada balasan... Meski begitu kemarin-kemarin Melan tetap pantang mundur. Tetep cinta Dudu. Tapi sejak pemandangan itu dilihatnya..., sejak bisik-bisik itu kian santer.., Ohh... Melan jadi pingin bunuh diri! Atau bunuh Dudu aja sekalian! Nana dan Dewi kebingungan melihat aksi diem Melan.
“Kenapa sih, Mel, kok lo kurang darah gitu?”
“Lo lagi em?”
“Nggak dikasih duit jajan?”
“Berantem ma nyokap?”
Kepala Melan tetap menggeleng.
“Gini nih, teman yang nggak per lagi! Udah berapa hari dia kayak begini tanpa membaginya sama kita! Ya udah, kita cuekin aja si Melan! Biar dia tahu apa artinya teman!!”
“GUE LAGI PATAH HATIIII!” akhirnya Melan tak tahan. Tapi detik berikutnya dia kaget sendiri.
“PATAH HATI?” Nana dan Dewi berpandangan. Kapan Melan pacaran?
“Eh..ngng.., nggak!” Melan pucat-pasi.
*

Hati Melan masih membiru lebam. Wajahnya tertunduk menatapi ujung sepatunya yang bercumbu dengan kerikil dan debu. Sesaat kemudian dia mendongak tiba-tiba. Astaga! Kenapa langkahnya membawanya lewat sini, lewat depan rumahnya Dudu! Padahal dia udah nggak mau lagi muter jauh hanya untuk lihat teras rumah Dudu! Eit, tapi siapa itu?! Mata Melan membelalak. Arjuna brengseknya dan Arlin! Mereka berdiri di depan pintu pagar! Cepat Melan bersembunyi di balik gerobak tukang somay yang mangkal. Sial! Dua makhluk menyebalkan itu malah menuju ke arahnya.
“Lucu banget ya si Kimong! Bolanya sampe bocor digigitin! Kayaknya gue nggak pernah bosen deh liat dia. Lo beruntung ya punya Kimong!”
“Iya. Makanya gue nggak mau kehilangan dia. Makasih ya, Lin. Kalo waktu itu Kimong nggak ditemuin, gue nggak tahu kayak gimana hidup gue!”
“Sama-sama, Du! Maaf ya, jadi sering main ke rumah lo cuma untuk liat Kimong. Gue emang suka kucing. Terakhir gue punya Pussi yang mati ketabrak mobil.”
“Nggak pa-pa. Kapan aja lo boleh main ke sini. Asal jangan bawa Kimong, hehe!”
“Tapi kayaknya Hery mulai cemburu deh liat gue sering ke sini. Ngng... Jangan-jangan dari pihak lo ada juga yang cemburu atau marah nih?””
“Iya, banyak yang gosipin kita lho, hehe! Gue sih cuek. Sementara ini gue belum ada cewek.Tapi kalo itu bakal ngerusak hubungan lo sama Hery, mending lo atur aja lagi deh!””
“Iya. Makasih ya Du. Angkotnya udah datang. Gue pulang!”
Melan bengong-bengong di balik gerobak somay dengan jidat berkerut-kerut. Kimong? Dudu punya kucing? Jadi mereka bersekutu dan akrab gitu gara-gara seekor kucing? Hhh.. kirain mereka pacaran… cihuy, berarti dia masih punya kesempatan!
“Eh, ngapain lo di sini?”
Melan kaget tujuh kali! Dudu sudah di sampingnya.
“Ngng..ngng..??”
“Beli somay?”
“Eh, iya!”
Sumpah baru kali ini Melan bisa ngeliat wajah Dudu dari dekat. Begitu dekat...! Lututnya gemetar. Dudu lumayan cakep juga. Cuma kacamata tebalnya itu...
“Beli somay kok jauh banget?”
“Ngng.., iya! Soalnya somay di rumahku nggak ada yang enak!”
Dudu manggut-manggut, lalu melangkah hendak meninggalkan Melan. Tapi kemudian badannya berbalik menghadap Melan tepat saat Melan baru saja mau memanggilnya.
“Nanti somaynya makan di rumah gue aja. Di sini panas.”
Tuiiingng!! Melan terbang tinggi! Kalimat terindah yang pertama kali di dengarnya. Dudu mengajaknya mampir! Oohh.. Dudu!
“Sekalian nanti gue kenalin lo sama Kimong, kucing kesayangan gue. Dua minggu lalu Kimong hilang. Untungnya ditemuin sama Arlin. Makanya Arlin jadi suka main ke sini karena dia suka sama kucing.”
Hati Melan berbunga-bunga. Sakit dan nyeri di dada lenyap seketika.
“Lo suka kucing?”
Melan mengangguk asal. Lupa kalo dia pernah jerit-jerit waktu dicakar kucing tetangga sebelah.
“Itu berarti lo bakal suka juga sama Kimong!”
Ohh... Dudu! Gue suka sama eloo…. Eh, maksudnya gue juga suka kucing, Du! Yah, suka dua-duanyalah!! Jadi nanti gue sering-sering main ke sini yaa... teriak hati Melan. ***



Duka Dinda

“Katanya lo cinta mati sama Joel?”

Dina mengangguk pelan.

“Jadi...?”

“Gue sayang sama Joel. Tapi gue harus ngelupain dia!”

“Cuma gara-gara Joel sering telat dateng malem mingguan?”

Dina diam.

“Lo nggak tanya kenapa dia sering telat? Kali aja dia punya kesibukan lain sebelum dateng ngapelin lo. Jadi kenek angkot, kali!”

“Ratiiih!” Dina mencubit lengan sahabatnya itu. Matanya mulai berair. Dia sedang tidak mau bercanda. Hatinya luka.

Joel sudah berubah. Tidak lagi semanis dulu. Tak lagi penuh perhatian seperti saat pertama mereka pacaran. Bukan hanya karena Joel sering telat mengapelinya malam minggu yang membuatnya memilih melepas Joel. Tidak sesederhana itu.

“Pikirin lagi, Din! Jangan terburu-buru. Inget, saat dulu lo berusaha ngedapatin Joel dari antrian panjang cewek-cewek kecentilan itu! Gue balik dulu. Ntar malem lo telepon gue, ya?”

Ratih meninggalkannya sendirian di kamar. Membuat Dina kembali termangu. Terbayang wajah Joel. Joel memang ganteng. Lebih dari itu dia menyempurnakan kelebihan fisiknya dengan kecemerlangan otaknya. Membuat teman-teman Dina iri. Membuat api cemburu tersulut karena merasa kalah persaingan. Menciptakan ragam desas-desus untuk menghancurkan hubungan mereka. Dina tak peduli. Selagi di depan matanya adalah Joel yang setia...

“Joel mau sama Dina, karena nyokapnya Dina Pencari Bakat. Mo numpang ngetop, gitu.”

“Bukan cuma itu, sih. Katanya karena Dina orang kaya.”

“Joel kan anak orang kaya juga?”

“Tapi nggak sekaya orang tua Dina. Joel mana mau sama Dina kalo Dina bukan anak orang kaya?”

“Iya. Emang Dina punya kelebihan apa? Muka, biasa aja. Di sekolah ini banyak yang jauh lebih cantik dari Dina. Otak? Juga biasa aja. Nggak bisa basket, voli, apalagi renang, haha..,” kata-kata itu diucapkan dengan nada mengejek. “Nyanyi? Dina nggak pernah ikut paduan suara sekolah.”

“Heeei. Dina kan pake susuk!”

“Hahaha...”

Suara-suara itu, cemohan-cemohan itu, satu dua kali cuma sekedar lewat di telinganya. Dina tak mau ambil pusing. Dunia ini tidak melulu orang baik-baik. Lebih banyak orang yang sirik dan jahat. Biar saja. Tapi satu dua kali bisa terlewat, saat yang kesembilan dan sepuluh kali, Dina mulai meringis kesakitan. Pedih. Kekebalan hatinya tersayat juga.

Pada Ratih ia ungkapkan semua. Biasanya sahabat baiknya yang cantik, periang dan kadang konyol itu, tahu apa yang dirasakannya dan bersedia berlama-lama mendengar keluhannya. Tapi tentang keluhannya kali ini, keluhannya tentang Joel, Dina merasakan Ratih menanggapinya sambil lalu.

Dina menarik napas dalam-dalam. Tentu saja Ratih bersikap begitu!

Ia menarik guling dan memeluknya. Sebaris luka bermain lagi di hatinya.

*

“Lo pulang sendirian nggak pa-pa, kan?”

Dina berusaha menenangkan hatinya. Mengulas senyum tipis yang sungguh-sungguh dipaksakan!

“Gue ada urusan lain. Perlu gue panggil Joel buat nganter lo pulang?”

Dina menggeleng. Sudah hampir sebulan ini Joel tidak lagi menemaninya pulang, belakangan Ratih yang setia menemaninya. Tapi belakangan Ratih pun mulai punya banyak alasan.

“Ati-ati, Din. Nanti gue telepon, ya?”

Dina mengikuti langkah Ratih dengan mata kecewanya. Bukan. Bukan sekedar Ratih tidak menemaninya pulang dan ia harus pulang sendirian. Tidak sesederhana itu!

“Pulang sendirian, nih?”

Dina tahu suara siapa dari arah sisi jalan itu. Dia tidak menoleh. Sebentar lagi akan terdengar nada ‘merdu’ dari kumpulan ‘ibu-ibu arisan’ itu!

“Kok nggak dianter Joel, Din?”

Dina cuma memberi ulasan tipis di ujung bibirnya. Tanpa menoleh.

“Joelnya sibuk ya, Din? Apa jangan-jangan..., yaa.. maklum sih, lama-lama kan Joel ngerasa pegel juga!”

Lalu ada cekikikan, pelan tapi sengaja diperdengarkan. Dina tak menanggapi. Dia melangkah tertatih. Sayangnya ia tak pernah bisa berjalan cepat-cepat! Sudut matanya mulai berair. Bukan, bukan cuma ejekan itu yang membuatnya ingin menangis. Tidak sesederhana itu!

*

Bulu-bulu halus itu dimainkannya. Diacak dan dielusnya. Pussi, kucing kecil kesayangannya, menggeliat senang bermanja-manja dipelukkannya. Dulu, Joel yang menghadiahkan hewan itu di hari ulang tahunnya. Dina kangen Joel. Hampir satu tahun bersama membuat rasa cintanya telah mengakar. Apalagi cuma Joel yang selama ini betul-betul paham kondisi dirinya. Tapi sekarang Joel berubah. Joel meninggalkannya. Ia pun tahu betul bersama siapa Joel saat ini! Ia pun tahu betul apa yang sebenarnya tengah terjadi. Perih di hatinya telah dirasakan lama, hingga minggu lalu ia harus mengambil keputusan melupakan Joel. Joel, Dina kangen Joel!

Telepon berdering. Setengah kaget membuat Dina tergesa bangkit tak menyadari posisi berdirinya belum tegak saat tiba-tiba kruknya oleng dan ia terjatuh. Kakinya membentur kaki meja. Pussi melompat dari pelukkannya, berlari ke dapur. Dina mengerang kesakitan. Mungkin Bi Inah sedang sibuk di halaman belakang, tidak mendengar, sementara telepon terus berdering. Susah payah Dina merangkak. Kakinya ngilu.

“Ya, halo?” Dina menahan sakit kakinya.

“Hai? Dina? Kamu pasti lagi kesepian!” Suara diseberang sangat Dina hapal. Suara-suara yang selalu mengejeknya.

“Ada apa?” Dina malas-malasan menanggapi.

“Ada kabar. nih. Baru aja kita-kita ngeliat, Joel boncengan sama Ratih. Masa lo belom tau, kalo sebulan ini Joel ama Ratih lengkeeet banget. Ato lo udah tau, cuma pura-pura nggak tau? Mereka mesra, lho! Kemarenan mereka malah keliatan jalan, gandengan!”

Kata-kata terakhir itu ditekan dengan nada aneh. Nada yang menyakitkan di kuping dan hati Dina.

“Yah, Joel mungkin sadar. Gimana mau gandengan sama elo!”

Dina menutup teleponnya. Cemohan-cemohan itu membuat dadanya sesak. Ia memang gadis cacat! Jangankan bisa bergandengan mesra, membawa langkahnya sendiri pun seringkali harus dibantu. Setelah sekian lama bersama, Joel akhirnya sadar bahwa ia bukan gadis yang tepat, lalu berpaling!

Keputusan yang diambilnya minggu lalu itu sudah bulat memang. Bukan sekedar Joel terlambat mengapelinya atau ejekan-ejekan semua itu. Tidak sesederhana itu. Ia harus paham dan sadar diri. Kalau memang Joel harus meninggalkannya ia harus berbesar hati, dan kalau Ratih menghianatinya ia pun harus tegar!

“Non Dina?” Bi Inah mendekatinya cemas. Mengangsurkan kruk ke arahnya. “Non Dina, nggak apa-apa?”

Dina mengangguk perih. Meraih kruknya dan berjalan tertatih ke kamarnya.**

PESTA REUNI

Pertemuan itu amat tak terduga. Tak ada tanda-tanda, isyarat bahkan mimpi. Setelah lima tahun!

“Hai!” Dia tersenyum manis sekali. Dua mata beningnya yang pernah kukagumi bersinar senang. “Aryo, kan?”

Aku mengangguk ragu. Membalas sapaannya dengan seulas senyum kikuk.

“Masih inget aku nggak? Kok malah bengong aja?”

Bukan aku tak ingat lagi pada wajah manis itu. Tapi aku sedang berusaha menenangkan hatiku yang masih sangat terkejut.

“Gue Rea!” Dia nyaris berteriak. Masih dengan mata yang bersinar. “Rea! Inget, kan?” dia mengulang.

Aku mengangguk cepat. Aku belum mampu berkata-kata.

“Apa kabar, Yo?” ia mengulurkan tangannya.

“Baik,” cuma satu gumaman itu yang bisa keluar dari mulutku. Padahal ada banyak kalimat yang ingin menyembur keluar beserta seribu rasa senang. Kusambut uluran tangannya dengan sedikit gemetar. Kulihat tatapan matanya. Ia menunggu kalimat berikut dariku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan.

“Ngng...,” ia jadi kelihatan serba salah, “Kamu lagi ngapain di sini?”

“Jalan-jalan aja.”

“Sendirian?”

“He-eh.”

“Ada yang dicari?”

Aku menggeleng.

“Kalo aku lagi nyari kado buat adikku. Tapi udah dapet sih.” Dia kemudian terdiam. Seperti mencari-cari bahan obrolan. Tapi sampai sepuluh detik kami saling berdiaman akhirnya ia pamit. “Senang ketemu kamu lagi. Ngng..., mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi nanti.”

Lagi-lagi aku cuma mengangguk.

“Oke, Bye!” ia berlalu setelah menatapku sebentar. Setelah ia menghilang kukutuk diriku habis-habisan.

Guoblookkk!

*

“Payah, luh!”

Tuh, kan! Nyesel aku cerita tentang pertemuanku dengan Rea. Akhirnya aku cuma dapat ejekan dari si kutu loncat Mufid!

“Itu keajaiban, tau! Setelah lima tahun, setelah lulus dari es-em-pe, tanpa diduga lu bisa ketemu bidadari pujaan hati. Malah dia duluan yang mengenalimu bahkan histeris. Lalu Tuhan ngasih lu kesempatan buat ngobrol-ngobrol. Kenapa lu sia-siain?” Mufid masih saja geregetan.

“Gue juga nyesel!” cetusku keki. “Gue grogi. Gue gugup. Gue salting!”

“Sampe nggak kepikiran nanya nomor teleponnya atau alamat rumahnya?”

Aku cuma mendengus.

“Okelah, lu boleh lupa nanya nomor teleponnya atau alamat rumahnya. Tapi sikap grogi lu yang keterlaluan itu, pasti dianggapnya sebagai kesombongan atau kecuekan lu. Bayangin aja, masa ketemu temen lama, lu cuma manggut-manggut. Nggak rame, nggak hangat, nggak antutias...... Dia pasti jadi males ketemu lu lagi.”

Iya. Aku akui aku memang goblok. Padahal pertemuan kemarin itu adalah sebuah keajaiban. Rea adalah cewek yang aku taksir sejak kelas dua SMP. Tapi aku tidak pernah punya keberanian mendekati dia apalagi menyatakan cinta. Aku cowok kuper yang amat pemalu. Aku nggak punya banyak teman. Nggak percaya diri. Aku cuma berteman dengan buku-buku sampai kaca mataku setebal pantat botol! Semua perasaan itu kusimpan dalam-dalam. Sampai kami lulus SMP. Kemudian aku dan Rea beda SMU. Tapi tetap saja aku nggak punya keberanian untuk main ke rumahnya atau mampir ke sekolahnya. Apa kata dia nanti? Lalu berita yang kudengar Rea pindah rumah. Masih di dalam kota, tapi aku nggak tahu alamat barunya. Lalu semua berlalu begitu saja. Sampai kemudian Tuhan mempertemukan kami lagi.

“Makin cantik ga?” Mufid membuyarkan lamunanku.

“Makin...” aku menggumam lesu.

“Makin keren?”

“Makin...”

“Makin montok?”

“Makin...”

“Sayang, ya..., elu tolol!”

“Fiiid!” aku melotot. “Gue emang tolol. Coba kalo elu jadi gue!”

“Gue nggak mau jadi elu! Karena gue nggak tolol!”

Mufid kabur begitu guling kulempar ke arahnya. Siapa juga yang mau jadi cowok pemalu dan nggak percaya diri kayak aku? Aku sendiri sebetulnya nggak mau. Dari dulu aku bingung bagaimana caranya menghilangkan sifat pemalu dan rasa nggak percaya diri ini. Bikin aku nggak punya banyak teman. Sahabat karibku cuma satu-satunya, si kutu loncat Mufid itu!

*

Dua bulan kemudian...

Mufid tergesa-gesa mendekatiku dengan sesuatu di tangannya.

“Reuni, Yo!” ujarnya terengah, menunjukkan selebaran pengumuman. “Reuni SMP angkatan kita, minggu depan!”

Aku membaca pengumuman itu sekilas. “Terus?”

“Asik, kan? Gue kangen banget sama temen-temen kita. Kayak apa mereka sekarang, ya?”

Aku diam tak menanggapi.

“Heh, lu ikut kan?” ujar Mufid tiba-tiba.

“Liat nanti aja.”

“Liat nanti? Lu nggak semangat untuk ketemu Rea lagi?”

Aku bagai diingatkan. Yap, ikut reuni berarti kesempatan untuk bisa ketemu Rea lagi. Tapi..., buat apa?

“Kalo memang ada kesempatan ketemu dia lagi, jangan lu sia-siain, Yo!”

“Memangnya aku harus gimana?” ujarku lugu.

“Hah, payah luh!” Mufid berlalu dengan kesal.

*

Akhirnya aku datang ke tempat ini. Ke pesta reuni yang bagiku kelihatan hingar dan membuatku makin tersisih. Lihat teman-teman satu angkatanku, mereka kelihatan tambah dewasa dan berisi. Kelihatan sekali mereka adalah orang-orang pintar dan gaul. Meski beberapa di antaranya tidak cantik atau ganteng, tetapi mereka amat percaya diri. Keren! Sebenernya aku juga pintar. Saat SMP dulu, mereka tahu Aryo si juara umum. Sampai sekarang kuliah IPK ku selalu memuaskan. Tapi aku tetap cowok pemalu yang nggak gaul, nggak pede! Bagaimana bisa aku berada di tengah-tengah pesta ini kalau bukan karena desakan sahabatku, si kutu loncat itu!

“Hei? Aryo, ya? Apa kabar?”

Beberapa teman menyapaku. Aku tak terlalu mengenalnya. Mungkin karena pangling. Dan bukan sifatku untuk berbasa-basi, aku cuma tersenyum tipis membalas sapaan mereka. Mufid yang antutias menghampiri mereka.

“Yo? Hei, kok elu nggak berubah, gini-gini aja?”

Nah, yang ini aku masih mengenalnya. Agus. Aku cukup dekat dengannya waktu di kelas tiga.

“Kabar lu gimana? Sukses?”

“Alhamdulillah....,” gumamku.

“Mana pacar lu? Nggak lu bawa?”

Tiba-tiba Mufid ngakak. Dia sudah ada di belakangku dan menyela, “Pacar? Hujan berkelir kalo dia udah punya pacar sekarang, Gus!”

“Lho?” Agus kelihatan bingung. “Masih jomblo aja? Yang bener?”

Aku tak menanggapi. Pura-pura sibuk memperhatikan seisi ruang.

“Gue denger lu udah punya gandengan. Malah bentar lagi mau merit!”

Mufid tambah ngakak mendengar kata-kata Agus. “Gosip apa tuh? Siapa yang sebar gosip nggak mutu gitu? Wong Aryo lebih demen pacaran sama kucing peliharaannya. Aryo cuma berani ngelus-ngelus kucing!”

“Jadi masih kayak dulu?” Agus masih belum yakin.

“Iyalah!” tandas Mufid.

Biar saja mereka berdua yang ributin statusku. Aku nggak peduli. Aku menikmati hidangan kecil di meja di sisiku.

“Jadi Rea cuma nebak-nebak aja dong!”

Mendengar nama itu disebutkan aku dan Mufid sama-sama memandang Agus.

“Rea? Apa urusannya?” tanya Mufid.

“Aku sama Rea kan sering kontak-kontakan gitu deh. Beberapa minggu lalu dia ngeluh ke aku kalo Aryo itu makin sombong aja, mentang-mentang mau merit!”

“Hah?” aku dan Mufid sama-sama ternganga.

“Kok Rea bisa ngomong begitu?” ujarku heran.

“Tauk! Mending lu tanya aja sama orangnya. Tuh, Rea di sana!”

Aku melirik ke arah yang ditunjuk Agus. Pada saat yang sama Rea sedang melihat ke arahku lalu melengos.

“Tuh, gue bilang juga apa!” cetus Mufid. “Sikap lu yang terlalu grogi malah dianggap sombong sama dia. Parahnya lagi lu sombong dikira mentang-mentang mau merit, huahaha!”

Huh, puas banget si kutu loncat itu ngeledekin aku.

“Emangnya lu nggak pernah tahu?” tiba-tiba Agus berbisik, “Waktu es-em-pe dulu Rea suka ama lu, Yo!”

Aku dan Mufid lagi-lagi ternganga.

“Lu tahu kan, dulu gue pacaran sama Eci, sahabatnya Rea. Eci sering cerita ke gue kalo Rea selalu aja ngomongin elu. Muji-muji elu. Sayangnya elu terlalu diem dan ngumpet terus.”

“Gus, kita kan temenan waktu kelas tiga. Kita deket banget. Kenapa lu nggak cerita waktu itu?” keluhku.

“Eci minta gue janji jangan ngomong ke siapa-siapa. Itu sebetulnya Rahasia Rea yang cuma diceritain ke Eci!”

Aku dan Mufid saling bertatapan. Dadaku bergolak, terkejut tetapi senang.

“Sekarang dia masih punya perasaan itu nggak, ya?” gumamku tiba-tiba di luar sadar.

“Nah, sekarang kesempatannya, Yo!” seru Mufid sambil menarik tanganku, “Cepat deketin Rea. Ajak dia ngobrol-ngobrol. Jangan grogi! Lalu minta nomor teleponnya.”

Sebelum aku sempat berpikir Mufid sudah menarikku ke arah dimana Rea berada. Mufid pura-pura menujukkan sesuatu padaku di meja dekat tempat Rea berdiri lalu meninggalkanku begitu saja. Sompret bener! Aku gelagapan. Tapi Rea sudah melihatku, dia mengulas senyum tipis.

“Hai!” aku -mau tak mau- menyapanya. Lalu pura-pura mencicipi minuman di meja. Sedetik, dua detik..., aku masih bingung. Di detik kesepuluh aku sudah akan bergerak meninggalkan tempat itu, waktu tiba-tiba Agus menyeruak ke dekatku dan menyapa Rea.

“Hei, Rea! Udah ketemu Aryo?” Agus mendorong pinggangku. “Tahu nggak, dia masih aja sekutu buku dulu! Makin tebal kan kacamatanya?”

Aku meringis. Pinter juga aktingnya!

“Sudah,” ujar Rea kalem. “Beberapa bulan lalu kami juga pernah ketemu. Iya kan Yo?”

“Oya? Dimana?” seru Agus.

“Di Mall. Gue lagi cari kado buat adik gue....”

“Eh, sori gue tinggal, temenku manggil tuh!” Agus beringsut meninggalkan kami berdua. Bener-bener licin otaknya!

“Datang sama siapa Yo?” tanya Rea kemudian.

“Bareng Mufid.”

“Cuma berdua sama Mufid?”

“Iya. Kenapa?”

“Ngng.., nggak kok!”

Sepi. Keringat dinginku mulai keluar. Tapi aku bertekat nggak akan gentar. Paling tidak aku bisa pedekate, ngobrol-ngobrol sebentar. Soal nomor telepon bisa kutanya Agus nanti.

“Sori ya, waktu itu....” aku kebingungan mencari bahan obrolan.

“Gue ngerti kok, Yo!” potong Rea tiba-tiba.

Ngerti? Aku terlongong dalam hati. Emangnya Rea tahu aku mau ngomongin apa?

“Mungkin elu takut dilihat cewek lu, jadi sikap lu waktu itu kaku dan nggak tahu mesti gimana waktu ketemu gue. Nggak pa-pa, kok. Emang sih, mulanya gue miris dan berpikir kok elu dingin banget, nggak surprise ketemu gue. Gue sedih. Padahal gue udah histeris dan seneng waktu ketemu lu di mall itu.”

“Re, gue...”

“Mungkin kedengerannya lucu. Gue seneng banget ketemu lu,... andai lu belum punya cewek... Tapi udahlah! Gue sekarang nyusul lu, punya pacar. Baru tiga minggu ini...”

“Tapi Re, gue belum...”

“Kenalin Yo, ini Andre!” Rea menarik tangan seseorang yang kebetulan melintas di dekatnya. “Gue emang sengaja ngajak dia kesini.”

Aku menerima uluran tangan cowok itu. Lebih ganteng dari aku, memang. Tapi aku yakin dia nggak lebih pintar dari aku. Tapi percuma lebih pintar aku, karena dia yang lebih beruntung dapetin Rea. Aku memang tolol! Inilah nasib si cowok pemalu yang nggak percaya diri! ***


Dimuat di majalah G2, 2006



Air Mata Bunda


Seorang anak bertanya pada Tuhannya, "Tuhan, kenapa Bundaku menangis??"
Tuhan menjawab, "Karena ibumu seorang WANITA..... Aku ciptakan ia sebagai makhluk yang sangat ISTIMEWA. Aku kuatkan bahunya untuk menjaga putra-putrinya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia.Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah. Aku beri dia rasa sensitif untuk menyintai putra-putrinya dalam keadaan apa pun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh putra-putrinya, bahkan oleh suaminya sekalipun. Aku beri dia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya. Bundamu adalah makhluk yang sangat KUAT. Jika suatu saat kau melihatnya MENANGIS, itu karena Aku beri dia air mata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya, sekaligus untuk memberinya kekuatan baru..."

I Miss U

Sore itu aku mendapat sebaris pesan; I Miss U...

Indah sekali. Buat aku yang sangat perasa dan romantis, kalimat itu sudah mewakili segalanya.
Meski waktu begitu sempit dan ruang memisahkan...
Ya, aku juga rindu kamu.....